
Tahun 1236, 12 Agustus.
Padang Bleverc, Wilayah Utara Benua Barat.
Tepat Sebelum Matahari Terbit.
Di bawah kegelapan pagi hari dengan udara dingin yang berhembus, para pejuang dari dua suku barbarian saling bekerja sama untuk melakukan penguburan kepada seluruh mayat dari para pejuang dan prajurit Natrehn yang tewas tanpa pandang bulu.
Perintah Ares dengan terpaksa dilaksanakan. Akibat dari perkataannya yang bertujuan untuk menghindari suatu wabah di dataran utara, para pejuang barbarian pun dengan berat hati melakukannya, meskipun di dalam hati mereka benar-benar tidak ingin mengurus mayat musuh.
Tentu saja, pemakaman para prajurit Natrehn serta pejuang kedua suku memiliki tempat yang berbeda karena keengganan para barbarian.
Setelah melakukan prosesi pemakaman berakhir, meninggalkan para pejuang yang beristirahat di tanah terbuka, dua orang perwakilan dari masing-masing suku pun berkumpul bersama dengan kelompok Ares—yang mana Ares hanya ditemani oleh Arthur dan Alfr saja.
Meskipun mereka pada dasarnya saling bermusuhan, kesepakatan tidak terucap pun terjadi diantara kedua suku untuk tidak berkontroversi saat ini.
Duduk di bawah pohon dengan dedaunan yang cukup rindang, para perwakilan memutuskan bagaimana langkah mereka menghadapi Natrehn di masa depan, meninggalkan Havarr yang tetap berbaring karena tubuhnya yang penuh perban—karena mendapatkan perawatan dari Gale.
Tatapan Ares secara perlahan tertuju kepada Thorgils, yang segera beralih menuju Astrid, lalu seorang pria paruh baya berjenggot lebat botak yang duduk bersila di samping Havarr, dan kepada Havarr yang sedang berbaring.
Sedikit memiliki perasaan aneh karena Ares merasakan tatapan Astrid yang sangat misterius, Ares memutuskan untuk mengabaikannya dan membuka percakapan.
"Jadi, bolehkah aku mengetahui nama kalian?" tanya Ares.
Mereka tahu jika semua dari mereka sangat lelah sehingga semua orang mengharapkan percakapan singkat dan lugas.
"Astrid," jawab seorang gadis berambut ikal hitam yang terlihat seperti seorang pejuang.
"Havarr," jawab Kepala Suku Timur yang merupakan seorang pemuda berambut keriting hitam dengan jenggot hitam yang tidak lebat.
"Ouile," jawab seorang pria paruh baya yang duduk di samping Havarr.
Di saat Thorgils sedikit membuka mulutnya, Ares menyela, "Aku tahu," yang membuat Thorgils menutup mulutnya kembali dan tersenyum masam.
"Gnery, bukan?" tanya Thorgils.
Mengangguk ringan sebagai tanggapan, Ares hanya terdiam untuk mendengarkan apa yang selanjutnya akan diutarakan Thorgils.
Tatapan dan ekspresi Thorgils segera berubah menjadi penuh keseriusan.
"Bagaim—tidak, kapan para baju besi sialan itu akan menyerang kita kembali?" tanya Thorgils dengan menatap kuat pada Ares.
Sejenak menutup kedua matanya, pikiran Ares seketika berputar cepat untuk memprediksikan hal yang mungkin dilakukan Zelhard di masa depan.
"Paling cepat... tiga bulan. Tentu saja, jika tidak ada suatu insiden," jawab Ares setelah membuka kembali kedua matanya.
Semua orang seketika terdiam. Tidak terkecuali Alfr yang mengepalkan erat kedua tangannya karena hatinya dipenuhi penyesalan akibat tidak dapat membunuh Zelhard.
Semua dari mereka tahu jika pejuang mereka tidaklah sebanyak prajurit yang Natrehn miliki. Di samping Natrehn yang memiliki banyak tentara, pihak musuh juga dapat mengambil wajib militer dari penduduknya yang membuat kekuatan militernya meningkat berkali-kali lipat dari sebelumnya.
Tidak dapat berkata-kata, keempat perwakilan suku benar-benar bingung dengan apa yang harus mereka lakukan di masa depan.
"Persatukan semua suku-suku barbarian yang ada di tanah utara benua. Aku akan memberikan pasokan senjata kepada kalian jika hal itu telah tercapai," ujar Ares dengan ekspresi penuh keseriusan.
Tatapan para barbarian seketika teralihkan kembali menuju Ares seolah melihat sesuatu yang sangat tidak mungkin. Namun, mereka hanya dapat terpikirkan rencana tersebut apabila mereka benar-benar ingin mengalahkan Natrehn.
"Apakah itu... mungkin terjadi?" tanya Ouile dengan nada ketidakpercayaan kuat.
"Aku tidak berpikir Suku Selatan akan menolak. Mengingat kalian, Suku Timur, juga mengalami penyerangan, aku sangat yakin jika Suku Selatan juga saat ini sedang berperang melawan mereka," jawab Ares.
Sebagai seorang politisi, nada yang terlontar dari mulut Ares benar-benar terdengar meyakinkan. Meskipun Ares melontarkan perkataan yang sebenarnya tidak diketahuinya, namun hal tersebut tetap saja baginya memiliki kemungkinan yang besar terjadi.
"Begitu... Sebenarnya, sejak beberapa saat lalu, aku juga telah memikirkan kemungkinan itu," timpal Thorgils.
"Tapi, aku tidak berpikir Suku Utara akan mudah menerima aliansi untuk melawan musuh secara bersama-sama," ujar Havarr dengan tatapan dan nada yang meragukan kepada Ares.
Aliansi... kah?
Ares sejenak menutup kedua matanya. Mengingat kembali disaat dirinya melakukan penaklukkan barbarian di dalam game, Ares segera menarik kesimpulan dan membuka kembali kedua matanya yang tertutup sembari tersenyum penuh keyakinan.
"Tidak, mereka akan menerimanya," timpal Ares.
"Bagaimana?" tanya Ouile penuh keraguan.
"Beri mereka tanah yang subur," jawab Ares dengan cepat.
Terkecuali Astrid dan Alfr, para perwakilan barbarian segera menatap tajam kepada Ares.
"Apakah kau mengetahui arti sebenarnya dari apa yang telah kau katakan?" tanya Thorgils dengan mengintimidasi.
Bagi para barbarian, tanah subur adalah landasan hidup mereka. Dikarenakan mereka yang tidak memahami perekonomian, tanah subur seolah menjadi kekuatan nyata bagi suku dan suku bawahan mereka dan menunjukkan kemakmuran sebuah suku barbarian.
"Lalu, apakah kalian ingin dihancurkan?" Ares bertanya dengan senyum mengejek.
"Guh," ujar Thorgils yang tidak dapat membalas perkataan Ares.
"Tidak perlu khawatir, aku memahami kalian yang kekurangan tanah subur. Maka dari itu, aku akan membuat kalian sejahtera," timpal Ares.
"Bagaimana?" tanya Ouile kembali dengan nada penuh keraguan.
"Tentu saja, aku akan menghancurkan Natrehn," jawab Ares dengan tersenyum cerah.
Meskipun Arthur telah mengetahuinya, dia sekali lagi hanya terdiam membisu karena sangat terkejut dengan pernyataan Tuannya—yang tidak berbeda dengan reaksi para barbarian.
"Aku ti—" ujar Havarr terputus.
"Tidak perlu memikirkan hal yang rumit, aku akan mengurus sisanya," sela Ares.
Setelah sejenak terdiam, Thorgils pun berkata, "Apa tujuanmu yang sebenarnya?" sembari memasang ekspresi penuh kecurigaan terhadap Ares—yang tidak berbeda dengan Ouile dan Havarr, meninggalkan Astrid yang hanya terdiam kebingungan.
Ares sejenak mengalihkan perhatiannya kepada para pejuang yang beristirahat di sebuah tanah berumput yang tidak jauh dari tempatnya berada. Menatap penuh ambisi kepada mereka, ia pun mengalihkan kembali wajahnya dan menjawab, "Menjadikan kalian sebagai subyekku."
"Buahahaha!"
Thorgils tertawa lepas. Berbeda dengan Ouile yang menatap heran kepada Ares, Havarr hanya dibuat kebingungan oleh jawaban yang telah dilontarkan Ares.
"Mengapa kau bertujuan untuk itu? Apakah kau tidak mengerti suku-suku utara sangat liar? Aku benar-benar tidak mengerti cara berpikirmu," ujar Ouile heran.
"Yah, aku akan mengajari kalian apa yang disebut dengan perdagangan. Aku juga tidak menginginkan perbatasan negaraku di masa depan akan menghadapi tingkah laku kalian yang sangat idiot," timpal Ares acuh tak acuh.
Ares pun bangkit dari tempatnya dan diikuti oleh Arthur dan Alfr.
"Jadi, apakah kalian akan menerimanya?" tanya Ares.
"Aku... memiliki hutang budi kepadamu. Di samping hal itu, aku sadar jika nasib kami telah berada di ujung tanduk. Jadi... kami dengan pasrah menerimanya," jawab Havarr yang telah menyerah.
Thorgils pun tersenyum penuh arti. Sesaat setelahnya, ia membalas, "Aku akan menerimanya jika kau telah mengalahkan Kepala Suku Utara."
"Tentu saja, tidak perlu dikatakan," jawab Ares penuh percaya diri.
"Begitukah? Yah, aku rasa ini cukup. Aku akan mengirimkan satu orang kepercayaanku kepadamu," timpal Thorgils.
"Aku akan pergi denganmu," ujar Havarr cepat.
Ouile segera menolehkan wajahnya kepada Havarr dengan ekspresi panik.
"Ke—Kepala—" ujar Ouile yang tersela.
"Aku akan pergi. Aku serahkan Suku Timur kepadamu untuk sementara," sela Havarr cepat.
"Ta—tapi—" ujar Ouile yang keberatan.
"Aku tidak peduli. Keputusanku bulat," sela Havarr dengan ekspresi tidak menerima penolakan.
"Guh... baik," timpal Ouile yang menyerah.
"Lalu, setelah matahari tergelincir dari puncak, kami akan berangkat ke utara," sambung Ares lalu berbalik pergi diikuti oleh Alfr dan Arthur.
"Tunggu!"
Sebuah suara feminim yang keras menghentikan langkah kakinya yang baru saja bergerak beberapa langkah. Ares pun berbalik—yang juga diikuti oleh Arthur dan Alfr—dan menemukan Astrid yang berjalan ke arahnya.
"Ada apa?" tanya Ares heran.
"Apakah kau adalah 'The War Witch' yang telah menghancurkan sebuah serangan batu saat perang tadi malam?" tanya Astrid kembali dengan ekspresi serius.
The War Witch, kah?
Menarik.
"Itu benar," jawab Ares.
"Berikan benihmu. Aku sangat menyukai pria kuat," jawab Astrid dengan menjilat bibirnya.
Berbeda dengan Ares yang segera mengubah wajahnya menjadi jelek, Arthur dan Alfr seketika mematung karena sangat terkejut dengan isi perkataan Astrid.
Apa... yang sebenarnya dia inginkan?
Aku benar-benar tidak mengerti bagaimana cara otaknya bekerja.
Menganggap orang merepotkan sekali lagi muncul setelah Edward, pedagang sekaligus Menteri Keuangan Kerajaan Holenstadt, Ares hanya dapat menghela napas berat.
Keningnya berkerut, Ares memandang dari kaki Astrid yang kotor penuh lumpur. Mengadahkan kembali kepalanya secara perlahan, Ares segera sampai pada wajahnya yang kotor dan penuh luka tersebut.
Tentu saja, Ares tidak menilai Astrid dari penampilannya, namun dia menilai karakter yang dimiliki oleh gadis di depannya tersebut.
Sangat liar.
Dan juga, otaknya geser.
Lagipula, aku telah memiliki seorang istri liar yang sangat aku cintai.
Cahaya matahari terbit pun mulai terasa dari ufuk timur. Meskipun beberapa saat lalu langit telah membiru, Ares tidak menyangka bahwa seorang wanita akan menyatakan perasaannya dengan ucapan yang sangat berani di bawah sinar matahari terbit.
Tetap saja, ayo menjawabnya sebagai seorang pria sejati.
Ares mengubah wajahnya menjadi penuh keseriusan. Di bawah cahaya matahari terbit, dia menjawab, "Maaf, aku tidak tertarik untuk menyerahkan benihku kepadamu."
...----------------...