HEENA

HEENA
BAB 100. Dibuat terkejut oleh Heena.



Heena yang berjalan ke luar ruangan Aldebaran dengan perasaan kesal, sebenarnya tidak masalah mau sekertaris Aldebaran itu wanita atau pria, tapi entah mengapa karena Heena merasa pernah dikhianati hatinya jadi sensitif merasa was-was.


Cukup jauh menuju tempat pantry, Heena harus melewati beberapa lantai, padahal bisa saja meminta pegawai servis untuk mengantar minuman ke ruang kerja Aldebaran, lagi-lagi entahlah hatinya yang lagi kesal tidak kepikiran sampai ke situ.


Heena berdiri di dalam lift, masih berusaha menenangkan hati, setelah lift berhenti dan pintu terbuka, Heena langsung melangkah ke luar dan berjalan menuju pantry.


Heena membuka lemari pendingin, ia mengambil dua botol air mineral, menutup kembali pintu lemari pendingin, tapi saat berbalik mau kembali ke ruang kerja Aldebaran, tiba-tiba dikagetkan dengan seseorang yang berdiri di hadapannya.


Deg! Heena terlonjak kaget, melihat wanita itu yang tersenyum miring menatap ke arahnya.


"Angel." Heena bicara dengan suara pelan, menelisik tampilan Angel yang sepertinya pekerja di perusahaan Aldebaran.


"Kenapa bengong kaget melihat aku." Angel bicara dengan senyum mengejek seraya membuang muka.


Heena tidak mau menanggapi sindiran Angel, dan mau memilih pergi, namun suara Angel yang terdengar keterlaluan membuat langkahnya terhenti.


"Wahh wahh ... ternyata menjadi wanita simpanan bisa berlagak sombong!" Angel bicara sembari tepuk tangan mengejek.


Heena membuang nafas kasar seraya balik badan menatap tajam ke arah Angel. "Jaga bicara kamu Angel! aku bukan wanita seperti yang kamu katakan, dan aku rasa kita tidak ada masalah!"


Dibilang tidak ada masalah, Angel marahnya langsung menambah seratus delapan puluh derajat, Angel berjalan mendekati Heena lalu mendorong-dorong bahu Heena sampai tubuh Heena menempel di dinding. "Kamu bilang kita tidak ada masalah, hah! Heena aku tidak pernah melupakan kesalahan kamu dulu!"


Deg!


Meski Heena juga terkejut dengan ucapan Angel dengan masalah di masa lalunya, tapi Heena juga tidak bisa bila tidak marah, Heena menepis tangan Angel yang memegang bahunya. "Itu bukan kesalahan aku, sudah beberapa kali aku jelaskan bahwa kejadian saat itu bukan kesalahan aku!" teriak Heena sembari mendorong tubuh Angel, kemudian langsung berjalan cepat ke luar ruang pantry.


Ahh! Angel mundur beberapa langkah seraya membuang nafas kasar berkali-kali, wajahnya marah menatap pintu ke luar.


"Aku akan membalas mu Heena." Angel bicara dengan aura dingin dan tangan terkepal kuat.


Sementara Heena yang saat ini sedang berjalan melewati bagian para karyawan bekerja, telinganya mendengar suara bisik-bisik yang membicarakan dirinya.


"Dia sepertinya dulu istri pengusaha kaya itu, kan. Yang saat ini sudah bangkrut." Bicara sembari dagunya menunjuk Heena.


"Iya mereka kan sudah pisah." Teman samping kiri menimpali disertai senyum miring.


"Tapi dia tadi datang ke mari bersama Bos, jangan-jangan sekarang mendekati Bos karena Bos kaya." Yang satunya lagi menjawab seraya melihat Heena dengan tatapan remeh.


"Wanita murahan," ucap mereka bertiga serempak, mereka menutup mulutnya yang tersenyum, menggunakan tangan yang semakin mengejek.


Saat semua kata-kata tidak benar itu masuk ke telinga Heena, wanita itu hanya menghela nafas seraya berjalan kembali masuk ke dalam lift.


Sudah cukup lama dirinya di bawah, mungkin Aldebaran sudah sangat kehausan, jadi merasa tidak enak sendiri Heena.


Setelah pintu lift terbuka, Heena langsung berjalan cepat menuju ruang kerja Aldebaran, tanpa menunggu lama, Heena langsung memutar handel pintu dan berjalan masuk ke dalam.


Dan ternyata benar dugaannya, Aldebaran menahan haus sampai wajahnya terlihat merah. Heena mengartikan bahasanya sendiri.


"Al, minumlah." Heena menyodorkan botol air mineral yang sudah ia buka tutupnya.


Heena mengernyit heran, berpikir apa ada sesuatu di wajahnya, sampai Heena bicara dua kali baru Aldebaran menerima botol minuman tersebut.


Aldebaran meneguknya hingga tinggal setengah, kemudian memberikan kembali botol minuman tersebut ke tangan Heena.


Heena berjalan menuju kursi sofa, melihat makanan di atas meja, perasaanya yang lagi kesal dengan kejadian di pantry dan bertambah bisik-bisik karyawan yang lain, membuat Heena melampiaskan amarahnya dengan memakan semua makanan itu dengan cepat.


Selesai makan, Heena merasa mengantuk, kemudian membawa tubuhnya tidur di sofa.


Aldebaran masih melanjutkan kerjanya, saat ekor matanya menangkap Heena yang tertidur di sofa, seketika Aldebaran melihat ke arahnya, Aldebaran jadi teringat kejadian satu jam yang lalu.


Aldebaran yang memantau Heena melalu CCTV yang ia sambungkan ke handphonenya, tidak menyangka saat mengetahui kejadian di pantry.


Awalnya Aldebaran ingin segera menghampiri Heena di pantry, namun tidak jadi saat melihat Heena mampu melawan lawannya itu.


Aldebaran jadi tahu sisi lain Heena, yang selama ini hanya dia anggap wanita lemah lembut, ternyata hari ini Heena penuh kejutan, berani membalas dan membela dirinya.


Aldebaran jadi merasa bersalah karena sudah sedikit meremajakan Heena, bahkan Aldebaran sampai terkejut saat Heena berani mendorong tubuh wanita itu, yang kemudian terus pergi ke luar.


Bahkan kejadian di bagian staf, di mana Heena mendengar bisik-bisik karyawan lain yang membicarakan Heena, Aldebaran juga tahu, dan itulah sebabnya saat Heena masuk ke dalam ruang kerjanya, wajah Aldebaran merah, itu bukan karena haus tapi karena menahan amarah, karena orang lain sudah berani membuat istrinya bersedih.


Namun Aldebaran terkejut saat Heena menyodorkan botol minuman, adegan seperti itu tidak ada di pikiran Aldebaran, karena ia pikir Heena akan mengadu dan meminta tolong kepadanya untuk menghukum orang-orang tadi yang sudah berani menjulid dirinya.


Lagi-lagi Aldebaran dibuat terkejut oleh Heena, yang ternyata tidak sama sekali seperti yang ada di pikirannya.


Padahal Aldebaran sudah menunggu Heena datang padanya dan meminta bantuannya, atau setidaknya Heena bercerita kejadian yang tadi di hadapi, namun kenyataannya tidak.


Bahkan setelah memberikan botol minuman, Heena milih berbalik berjalan menuju sofa, menghabiskan makanan sampai tertidur.


Sekarang Aldebaran memilih diam, siapa tahu nanti Heena akan bercerita. Aldebaran menghela nafas panjang seraya menatap Heena yang lagi tidur di sofa, kemudian kembali kerja lagi.


Dilain tempat.


Rengky yang saat ini sedang mengendarai mobil untuk bertemu klien di luar, sembari menyetir mobil, tangan Rengky yang satunya mengambil handphonenya yang jatuh ke bawah, sesaat matanya melihat ke arah bawah, sesaat kembali di posisi semula, Rengky terkejut saat tiba-tiba ada orang yang mau menyebarang jalan.


Aaaaaa!


Teriak Rengky sembari membanting setir ke sebelah kiri, membuat mobil hilang kendali hingga menabrak pohon yang ada di pinggir jalan.


Kepala Rengky terhuyung ke depan dengan keras, membuat Rengky langsung pingsan tidak sadarkan diri.


Orang yang menyebrang tadi selamat, menyebut sembari mengusap dadanya.


Orang-orang sekitar berdatangan mengerumuni mobil Rengky, semua orang meneriaki Rengky dari luar seraya menggedor-gedor pintu mobil, namun Rengky tetap tidak bereaksi.


Salah satu orang memecah kaca mobil menggunakan batu, setelah pintu mobil berhasil dibuka, Rengky dibawa ke luar untuk diselamatkan.