HEENA

HEENA
BAB 108. Aldebaran kan serba bisa.



Setelah selesai makan malam, semua keluarga Paman Syafiq berkumpul di ruang keluarga, kecuali Rengky karena pria itu sudah istirahat di dalam kamar.


Heena duduk di sebelah Bibi Sekar, Paman Syafiq dan Aldebaran duduk saling berhadapan dengan meja sebagai pembatas.


Kabar Heena yang dibully di acara pesta ternyata telah terdengar sampai telinga Bibi Sekar dan Paman Syafiq, dua orang sebagai pengganti orang tua Aldebaran itu sangat khawatir dengan keadaan Heena.


Bagaimana bisa keponakan menantunya dibully di acara pesta yang diadakan oleh Suaminya sendiri, kedengarannya memang tidak masuk akal, tapi itu kenyataannya, dan semua itu karena pernikahan mereka belum diumumkan di publik.


Karena itu Paman Syafiq dan Bibi Sekar akan meluruskan masalah ini, sebagai pengusaha yang miliki perusahaan besar, sebuah klarifikasi bila sudah menikah itu sangat penting, bukan untuk pamer atau meminta dipuji, tapi menjaga hal yang tidak diinginkan.


Sebenarnya hanya itu yang ingin Paman Syafiq dan Bibi Sekar bahas, tapi entah mengapa Heena melihat wajah tegas dan tatapan serius Paman Syafiq yang tertuju pada Aldebaran itu, seperti sedang mau memarahi.


Dan Heena tidak mau Aldebaran terkena amarah, hanya karena pernikahan mereka belum Aldebaran umumkan, karena Heena tahu betul bila Aldebaran saat ini masih tengah sibuk dengan banyak urusannya, dan Heena tidak mau mengganggu itu.


Tapi ini malah jadi serumit ini, bagaimana bila Aldebaran tersinggung, bagaimana bila Aldebaran belum siap, dan bagaimana bagaimana masih banyak lagi pertanyaan bagaimana di benak Heena.


Heena hanya bisa membatin, wajah semua orang malam ini terlihat serius, bahkan Bibi sekar yang biasanya terlihat senyum teduh kini juga memasang wajah serius, entah mata Heena yang salah melihat atau karena dirinya yang merasa takut dan tidak enak hati pada Aldebaran.


Sebenarnya bagi Heena pengakuan sebagai istri dari bibir Aldebaran saja sudah cukup, tidak perlu harus mengadakan pengumuman atau acara pesta pernikahan, Heena tidak butuh itu semua.


Memang seperti itu kan, semua wanita itu lebih bahagia bila mendengar pengakuan cinta dari suaminya yang dicintai, dari pada kemewahan yang tanpa cinta.


Sesimpel itu sih yang Heena mau, tapi sekeluarga ini malah membuat sulit, hah! ahirnya Heena hanya diam mendengarkan apa yang akan dua laki-laki di ruangan keluarga ini bahas.


Paman Syafiq membuang nafas panjang sebelum ahirnya bicara.


Dan tarikan nafas Paman Syafiq terdengar seperti sebuah perintah yang Heena artikan sendiri karena panik. Eh, mata Heena mendelik saat mendengar kalimat yang Paman Syafiq ucapkan.


"Al, satu Minggu lagi pesta pernikahan kalian harus diadakan, Paman tidak mau masalah ini ditunda-tunda terlalu lama." Paman Syafiq menatap Aldebaran intens.


Apa! Satu Minggu, mengapa harus satu Minggu, bisa tidak waktunya diundur lagi, hah bagaimana ini aku saja belum bicara dengan Yusuf, meyakinkan anak kecil kan susah, hah paman malah membuatku jadi pusing, batin Heena dengan wajahnya yang langsung berubah cemas.


Hanya satu yang Heena khawatirkan yaitu Yusuf, menurutnya satu Minggu waktu yang sedikit untuk mengatakan pada Yusuf soal kebenaran ini, bayang-bayang bila Yusuf menolak maka Heena harus membujuk, dan apakah satu Minggu cukup untuk Heena lakukan membujuk Yusuf.


Restu Yusuf sangat penting bagi Heena, karena Heena tidak ingin menyakiti hati Yusuf, dan ternyata memikirkan Yusuf malah menjadi beban paling berat bagi Heena.


"Baik Paman akan saya lakukan, Dika akan segera menyiapkan semua."


Paman Syafiq tersenyum bangga dengan jawaban Aldebaran, sementara Heena langsung mengusap dada, kedua pria sudah sepakat, dan sekarang tinggal tugas Heena untuk bicara dengan Yusuf.


"Bibi bangga dengan keputusanmu Al, Bibi berharap pernikahan kalian langgeng." Bibi Sekar bicara sembari menatap Aldebaran dan beralih menatap Heena seraya mengusap lengan Heena.


Heena tersenyum kikuk menatap Bibi Sekar, ucapan Bibi Sekar yang juga ikutan mendukung pernikahannya seminggu lagi, membuat Heena semakin pusing, dilema sendiri harus bisa menyelesaikan tugasnya sendiri.


Pembicaraan di ruang keluarga selesai, semua sudah masuk ke dalam kamar, Heena yang sudah selesai cuci muka dan sikat gigi, kini duduk di pinggiran ranjang, sudah berganti piyama tidur, menunggu Aldebaran yang saat ini masih di dalam kamar mandi.


Ada yang ingin Heena bicarakan, dan setelah sepuluh menit kini Aldebaran sudah selesai semua dan juga sudah berganti pakaian piyama tidur.


Heena memanggil, Aldebaran menoleh yang saat ini berdiri di depan cermin, kemudian berjalan mendekati Heena lalu duduk di pinggiran ranjang di samping Heena.


"Ada apa?"


Pertanyaan Aldebaran untuk membuka pembahasan, Heena menghela nafas panjang lebih dulu, dalam hati berharap semoga Aldebaran tidak marah atau pun tersinggung.


"Aku mau kita menemui Yusuf bersama, dan menjelaskan semua bersama." Setelah selesai bicara Heena menatap wajah Aldebaran, melihat apa kah auranya berubah marah atau tidak, dan bersyukur ternyata Aldebaran tidak marah.


"Baiklah besok kita akan bersama-sama menemui, Yusuf."


Dan jawaban Aldebaran seketika membuat bibir Heena menarik garis lengkung, sungguh sejuk mendengar jawaban Aldebaran yang menyenangkan hati.


Sementara Aldebaran yang menangkap senyum manis Heena saat mendengar ucapannya, ia malah terpesona dan ingin mencicipi bibir merah itu kembali.


Buru-buru Aldebaran melengos memutus pandangannya. "Bila sudah tidak ada yang ingin dibicarakan, aku mau tidur." Aldebaran berdiri berjalan menuju sofa tanpa mendengar jawaban Heena lebih dulu.


Yaaa? Tidurlah, selamat tidur semoga mimpi indah, ucap Heena hanya mampu dalam hati seraya menatap punggung Aldebaran yang kini sudah sampai di sofa dan mulai membaringkan tubuhnya.


Heena tergelak tawa kemudian merangkak naik ke tengah ranjang, karena kan tadi dudunya di pinggiran ranjang.


Heena duduk lebih dulu, menata selimut lalu mulai membaringkan tubuhnya dan menarik selimut sampai batas leher.


Biarlah semua berjalan seperti ini sampai waktu memutuskan kapan kita akan tidur bersama satu batal dan satu ranjang, batin Heena dan perlahan mulai menutup mata.


Lampu kamar sudah dimatikan, tinggal lampu untuk tidur yang masih hidup, dalam keremangan cahaya lampu di dalam kamar, Aldebaran ternyata pria itu tidak bisa tidur.


Tangan kanan membentuk siku ia letakkan di atas kepala buat bantal, matanya menatap langit-langit kamar, ternyata pikiran Aldebaran juga sama dengan yang Heena pikirkan.


Pengalaman anak belum punya, dan selama ini tidak begitu dekat dengan seorang anak kecil, tidak tahu cara mengambil hatinya bagaimana, sebaik-baiknya anak kecil kan tetap harus menggunakan jurus membujuk, dan sekarang PR Aldebaran adalah harus bisa membujuk, namun masalahnya ia tidak bisa membujuk.


Pikirannya malah bagaiman bila nanti Yusuf menangis, lalu bagaimana caranya supaya mau diam, mungkin diajak jalan-jalan Yusuf akan diam dan senang, tapi apakah setiap hari harus jalan-jalan, bagaimana bila nangisnya tengah malam kan tidak mungkin akan mengajaknya jalan-jalan.


Batin Aldebaran saling menjawab satu sama lain, membuatnya semakin pusing.


"Pikirkan besok, Aldebaran kan serba bisa." Afirmasi positif, kemudian memejamkan mata.