HEENA

HEENA
BAB 60. Menangis memohon.



Keesokan paginya, Mulan menghubungi Ayahnya lagi, namun juga tetap tidak aktif, Mulan benar-benar merasa khawatir dengan keadaan Ayahnya.


Mulan tidak bisa berbuat apa-apa selain berdiam diri di rumah.


Sementara tiga pelaku yang lain, bernama Pak Ron, Pak Galuh, dan Pak Niko. Sudah di tangkap polisi, kini ketiganya sudah berada di dalam sel.


Ketiga orang tersebut berada dalam satu sel, duduk di atas lantai tanpa ber alas karpet, diam merenung dan menunduk mencari simpati supaya orang melihat merasa kasihan pada mereka.


Namun hanya angan-angan saja, kesalahannya yang fatal, tidak hanya berencana membunuh tapi juga menikmati kekayaan yang bukan milik mereka.


Tidak perlu harus di jelaskan lagi, berada di dalam penjara lebih lama sudah berada di depan matanya.


Tidak akan bisa ke luar sebelum mempertanggung jawabkan. Menangis dalam hati mungkin itu yang bisa di lakukan saat ini.


Mengingat anak dan istri di rumah, yang masih membutuhkan sosok mereka, tapi saat ini tidak bisa datang membantu.


Ah! rasa sesal selalu datang terlambat, ingin memutar waktu tapi juga tidak bisa, memukul diri sendiri serta menangis menjerit dalam hati, mereka bertiga yang saat ini merenungi nasibnya.


Saat matahari mulai menampakkan sinarnya dengan terik, Aldebaran dan Asisten Dika siang ini akan menemui tiga pelaku yang sudah tertangkap.


Sementara pelaku Pak Muklis masih terus di cari.


Kasus ini ternyata sudah terdengar oleh awak media, bau-bau Pak Muklis terlibat kasus pembunuhan dan pengalihan harta sudah tercium publik.


Aldebaran dan Asisten Dika yang baru ke luar dari gedung D.A. Corp, di luar sudah di hadang para wartawan yang ingin menggali informasi tentang kasus ini.


Banyaknya karyawan mengerubungi Aldebaran dan Asisten Dika, hingga kini tidak bisa kabur, dan terpaksa harus menjawab pertanyaan para wartawan.


"Tuan, kami hanya ingin bertanya dua hal? pertama apa kah benar pak Muklis terlibat kasus ini. Dan yang kedua rencana apa yang akan Anda lakukan, Tuan?"


Tangan Asisten Dika menghalangi wartawan yang ingin lebih mendekati Aldebaran, Aldebaran membuang nafas panjang sebelum ahirnya menjawab.


Beberapa kamera menyorot wajah Aldebaran, yang terlihat serius dan dingin, memperlihatkan sangat marah.


"Pak Muklis memang terlibat." Aldebaran terdiam matanya menatap nyalang.


Wartawan yang membawa kamera semakin bersemangat berlomba-lomba menempatkan kamera dan merekam semua informasi. Saat Aldebaran kembali bicara.


"Saya punya hadian untuk kalian semua! bagi siapa pun diantara kalian yang bisa memberitahu keberadaan Pak Muklis, akan saya beri hadiah uang seratus juta!"


Setelah bicara penuh ketegasan Aldebaran lalu pergi bersama Asisten Dika.


"Wah seratus juta, sangat rumayan itu," gumam para wartawan semuanya.


Semua para wartawan langsung bereaksi, menyebar luaskan informasi yang didapat barusan. Yang akan terbit di koran-koran dan akan langsung di siarkan di beberapa stasiun televisi.


Setelah beberapa menit, mobil yang dikendarai Asisten Dika kini sudah sampai di kantor polisi.


Aldebaran ke luar mobil seraya melepas kaca mata hitamnya, lalu ia simpan di saku kemeja di dalam jas, berjalan masuk yang diikuti Asisten Dika di belakangnya.


Tiga pelaku datang, didampingi oleh polisi. Kemudian mereka bertiga duduk dengan kepala menunduk, tidak berani hanya sekedar mengangkat kepala, menangkap sekilas tatapan tajam Aldebaran, membuat nyalinya menciut.


Aldebaran berdecih, mereka yang berani be penghianat tapi saat ini apa? mereka tidak berani mengangkat kepalanya dan menantang.


Marah dan kesal menyatu, Aldebaran menggebrak meja dengan keras.


Brakk!


Tiga orang pelaku langsung terlonjak kaget dan tubuhnya seketika berubah gemetar, padahal Aldebaran belum bicara baru suara meja yang terdengar tapi sudah membuat tubuhnya terbelah, takut itu rasanya.


Aldebaran tersenyum menyeringai. "Mengapa kalian tidak memohon."


Deg!


Mendengar ucapan dipersilahkan memohon, tiga pelaku langsung mengangkat kepalanya dan menatap Aldebaran yang sedang tersenyum miring.


"Benarkah kami boleh memohon, Tuan." Pak Ron bertanya dengan antusias.


Aldebaran hanya menjawab dengan senyuman kecil dan mengangguk.


Tiga pelaku langsung berdiri dan berjalan mendekati Aldebaran, lalu bersimpuh di kakinya.


Mereka bertiga memohon menangis, sebisa mungkin mereka lakukan supaya mendapat maaf dan dibebaskan.


Hahahaha!


Deg!


Tiga pelaku langsung menghentikan aksinya saat tiba-tiba mendengar tawa Aldebaran, perasaanya menjadi tidak enak, dan benar saja baru membatin, kini mendengar kalimat mematikan dari bibir yang tadi tertawa keras.


"Aku kabulkan permintaan kalian, mendekam di penjara."


Hahahaha!


Setelah berkata seperti itu, Aldebaran dan Asisten Dika pergi meninggalkan tempat tersebut.


"Tuan, Tuan tunggu ..." teriak tiga pelaku, di hati kecilnya masih berharap ada rasa iba untuk mereka, meski pun kemungkinan kecil.


Polisi mendekat dan membawa mereka lagi masuk ke dalam sel. Meski mereka bertiga memberontak namun tetap tidak bisa berbuat apa pun.


Di tempat lain.


Saat ini Pak Muklis berada di dalam hotel sejak semalam, uang kes yang ia bawa kini sudah habis, Pak Muklis bingung mau menarik uang di mana.


Ahirnya Pak Muklis memutuskan ke luar hotel untuk mengambil uang kes, Pak Muklis mencegah taksi yang lewat, Pak Muklis menggunakan topi dan masker untuk menyamar, setelah lima belas menit Pak Muklis turun dari taksi.


Sengaja mengambil uang kes yang jaraknya jauh dari hotel supaya polisi tidak menemukan dirinya.