HEENA

HEENA
BAB 126. Bertengkar.



"Diam!!"


Prannkkk!


Bentak seorang suami terhadap istrinya bersamaan dengan gelas yang pria itu banting ke lantai, membuat kaca berserakan di lantai.


Hiks hiks hiks, istrinya menangis seraya memegangi dadanya yang terasa sesak, istrinya menunduk dengan air mata yang bercucuran di pipi.


"Aku sudah katakan padamu, tidak usah mencampuri urusanku dan tidak usah sok mengingatkan aku, cukup kau diam, aku sudah berpikir!" ucap Suaminya dengan suara tinggi seraya berbalik badan dan menatap istrinya yang saat ini berdiri menempel dinding.


Mendengar kalimat itu seketika istrinya mengangkat kepalanya menatap suaminya, dari wajahnya juga terlihat bila sedang menahan kekesalan. "Aku hanya tidak mau kehilangan putraku bila wanita itu tidak kau temukan dan kau persembahkan!!" berteriak lantang.


"Kau!" Suaminya sudah mengangkat tangan untuk menampar istrinya namun tangan itu berhenti di udara.


Arghhhh!


Suaminya berteriak frustasi seraya pergi dari ruang kamarnya, meninggalkan istrinya yang saat ini tubuhnya meluruh ke bawah terduduk di lantai dengan suara tangis yang semakin terdengar pilu.


Kejadian seperti ini terus terjadi, pertengkaran dengan suaminya hampir setiap hari terus terjadi hanya karena masalah yang sama, yaitu untuk mempertahankan putranya supaya tetap ada di dunia ini.


Bukan karena tidak mencintai, pernikahan ini ada karena dasar cinta, namun takdirnya sebagai istri kedua.


Namun keadaan yang memposisikan nya dalam kesulitan, kekayaan baginya adalah segalanya, anak juga baginya adalah segalanya, meski caranya salah dalam mendapatkan semua itu, karena harus memuja iblis.


Dan semua ini berawal ketika suaminya yang dulu kaya raya tiba-tiba bangkrut.


Saat itu, istri pertama sedang hamil besar yang sebentar lagi akan melahirkan, namun istri kedua mencegah suaminya yang mau menemani istri pertama di rumah sakit.


Istri kedua menunjukan seluruh biaya yang akan di keluarkan, suaminya tercengang pasalnya tidak miliki uang sebanyak itu karena sudah jatuh miskin.


Dan saat suaminya mau mencari pinjaman, istri kedua juga mencegah dengan alasan siapa yang mau membantu orang miskin seperti kita.


Mendengar penjelasan istri kedua yang benar adanya, suaminya jadi bingung harus berbuat apa, sementara istri pertama sebentar lagi akan lahiran.


Istri kedua yang sudah memiliki rencana ia langsung membisikan sesuatu di telinga Suaminya, "Kita lakukan pemujaan."


"Tidak!" Suaminya langsung mendorong istrinya untuk menjauh.


"Tenang mas, ini semua juga untuk kebaikan kita semua, kita bisa kembali kaya dan hidup enak, tidak susah seperti ini."


Suaminya masih tetap menggeleng tidak setuju dengan ide istri keduanya.


Istri kedua menghela nafas panjang dan kembali bicara, "Mas, yang terpenting Mbak melahirkan dan ada biayanya, mau operasi Mbak ditunda, kasihan dia Mas."


Istri kedua tersenyum kecil karena sepertinya berhasil membuat suaminya percaya terlihat saat ini suaminya nampak berpikir.


Dan benar saja, setelah itu Suaminya bicara bahwa dirinya setuju, dan saat itu juga mereka berdua mendatangi sebuah tempat, yang sudah dikenal dari leluhur jaman terdahulu.


Tempat itu berada di dalam sebuah gua di sebuah pegunungan, dan di dalam sana mereka berdua melakukan proses pemujaan, yang tentunya di pimpin oleh raja penghuni gua itu.


Setelah proses pemujaan selesai, kedua orang itu mendengar sebuah suara yang sangat jelas di telinganya namun tidak terlihat siapa yang bicara.


Suara itu menghilang bersamaan suara tawa yang keras.


Suami istri itu berpegangan tangan saling menguatkan, kemudian pergi dari tempat itu.


Hiks hiks hiks istri kedua itu semakin menangis saat mengingat kejadian itu, seandainya waktu bisa ia putar kembali maka lebih baik hidup miskin, dari pada miliki harta tapi putranya sendiri saat ini akan jadi taruhannya.


"Tidak ...."


Wanita itu berteriak sekencang mungkin di ruang kamarnya, namun karena ruangan itu kedap suara maka tidak terdengar sampai luar.


Hanya ketakutan yang menemani wanita itu setiap detiknya tanpa tidak tahu harus berbuat apa, hanya satu penyelamat putranya bila ada pengganti yang harus di persembahkan tapi itu harus anak darah daging suaminya.


Namun anak suaminya dengan istri pertama sudah pergi entah kemana, bahkan sudah melakukan pencarian juga belum menemukan.


Dah hal ini semakin membuatnya khawatir, dan setiap kali membahas masalah ini, suaminya selalu marah padanya, dalam rumah tangganya sudah tidak ada keharmonisan lagi sejak enam tahun yang lalu.


Dengan perlahan wanita itu bangkit lalu berjalan menuju ranjang dengan langkah pelan seraya memegangi perutnya yang terasa perih, karena dirinya miliki sakit mag yang sudah kronis selama setahun ini.


Dengan perlahan membaringkan tubuhnya di atas ranjang.


Pintu kamar terbuka.


"Ibu?" Putranya langsung berjalan masuk mendekati Ibunya, lalu mencium kening Ibunya. Tangan wanita itu mengusap rambut putranya.


"Bu ... Sudah aku katakan bila Ibu harus banyak beristirahat jangan memikirkan hal-hal yang macam-macam, Ibu?"


Mendengar kalimat yang keluar dari bibir Putranya seketika membuatnya menangis, dan Putranya langsung memeluk ibunya yang berbaring itu.


"Bukan aku yang harus Ibu khawatirkan tapi kesehatan Ibu yang harus lebih Ibu khawatirkan," jelas Putranya lagi saat ini yang sudah melerai pelukannya dan menatap wajah Ibunya yang pucat.


"Maafkan Ibu?" ucapnya lirih, putranya menciumi punggung tangan ibunya berkali-kali sebelum ahirnya bicara, "Jika aku harus pergi, Ibu harus rela, ok?"


Sang Ibu menggeleng cepat dang langsung memeluk Putranya kembali kali ini tangisnya semakin menjadi, semakin terasa sakit hatinya saat putranya bicara seperti itu.


Putranya memang tahu bila ahirnya hidupnya akan bersama iblis, tapi juga tidak memarahi ayah dan Ibunya meski tahu perbuatan kedua orangtuanya yang menyebabkan dirinya harus seperti ini.


Di sisa-sisa waktu yang ada ia hanya ingin terus bersama kedua orang tuanya tidak mau melewatkan hari tanpa kedua orang tuanya, kerena bulan ini usianya sudah dua puluh lima tahun, hanya menunggu beberapa hari.


Bahkan semua penghuni rumah besar ini tahu semua, sampai pelayan juga tahu, semua menyayangkan bila Tuan Muda harus mati bersama iblis, jika melihat senyumnya yang ramah dan baik hati pada semua orang.


Ibu menangkup wajah putranya, sedikit pun tidak melihat kesedihan di mata Putranya, seolah sudah siap dengan apa pun takdirnya, senyumnya yang teduh seolah mengartikan sebuah keikhlasan.


Tangannya menggenggam tangan Ibunya yang merasa takut, memberikan ketenangan bila semua memang harus terjadi, perlahan meminta ibunya untuk tidur, menemani Ibunya sampai terlelap dan setelah itu pergi dari kamar ibunya.


Deg!


Terkejut saat bertemu Ayahnya di luar pintu, melihat Ayahnya yang sepertinya sedang membawa sesuatu, namun belum sempat bertanya, Ayahnya sudah lebih dulu masuk ke dalam.