HEENA

HEENA
BAB 105. Tatapan murka.



Di kota Bekasi, Aldebaran yang saat ini masih meeting bersama klien di dalam ruang sebuah hotel.


Asisten Dika yang saat ini juga berada di dalam ruangan tersebut, tiba-tiba mendapat pesan masuk sebuah video dari orang suruhannya yang diminta diam-diam untuk menjaga Heena.


Asisten Dika menatap ke arah Aldebaran yang saat ini masih membahas mengenai kerja sama, Asisten Dika mau berkata jujur dan ingin menunjukan Vidio Heena yang dibully tapi hatinya khawatir bila Tuannya akan marah tak terkendali, dan itu bahaya untuk perjalanan malam seperti ini.


Rencana keduanya memang akan kembali ke jakrta tiga puluh menit lagi, tidak terlalu buru-buru karena saat datang kemari menggunakan pesawat helikopter, untuk perjalanan tidak perlu lama.


Asisten Dika berdiri dari duduknya lalu membisikkan sesuatu di telinga Aldebaran, dan seketika saat itu Aldebaran langsung berjalan ke luar tanpa mengucap pamit lebih dulu pada klien bisnisnya.


"Maaf Tuan kami harus pergi sekarang, ada keadaan genting yang harus segera Tuan kami selesaikan." Asisten Dika menjelaskan sebelum ahirnya ikut pergi menyusul Aldebaran.


Di depan lift ternyata Aldebaran masih menunggu Asisten Dika, Asisten Dika menambah kecepatan langkahnya dan setelah sampai langsung masuk bersama ke dalam lift.


Lift berjalan naik mengantar keduanya menuju lantai paling atas, tepat di lantai empat puluh lift berhenti, Aldebaran dan Asisten Dika langsung melangkah ke luar dan berjalan cepat menuju roof top hotel dimana ada pesawat helikopternya.


Dengan cepat mereka berdua langsung masuk ke dalam helikopter dan langsung menjalankan helikopter tersebut untuk lepas landas.


"Dika lebih cepat!" ucap Aldebaran dengan perasaan yang tidak sabaran ingin segera bertemu Heena.


Padahal Asisten Dika belum mengatakan yang sebenarnya, tapi Aldebaran sudah sepanik itu.


Asisten Dika menambah kecepatan membawa helikopter, dan hanya beberapa menit kini helikopter sudah sampai di hotel tempat acara pesta Jakarta.


Aldebaran menyembul keluar dan seketika angin malam menerpa wajahnya menyibak rambutnya ke belakang, berjalan cepat sekilat mungkin, jasnya ia biarkan terbuka tidak dikancing. Tidak sempat merapikan diri.


Kali ini Aldebaran masuk ke dalam lift lebih dulu meninggalkan Asisten Dika, lift terus berjalan sampai di lantai dua tempat acara itu diselenggarakan.


Pintu lift terbuka, Aldebaran langsung berjalan membuka pintu ruangan tersebut dengan kasar, orang-orang yang berdiri tidak ikut mengerubungi Heena, menatap penuh terkejut saat melihat Presdir Aldebaran datang terlihat marah.


Mata mereka semua terus mengikuti langkah Aldebaran yang ternyata berjalan menuju orang-orang yang berdiri mengerubungi wanita yang mereka dengar adalah pelakor.


Mereka semua langsung terkejut masal, saat pikiran mereka semua mulai menerka-nerka bila, mereka semua diam dan tidak bisa lagi melanjutkan pikirannya saat melihat Aldebaran menyingkirkan salah satu orang yang berdiri di dekat Heena dengan kasar, lalu masuk ke dalam kerumunan orang-orang tersebut, setelah itu mereka tidak tahu apa yang terjadi lagi.


Aldebaran memeluk Heena seraya mencium ubun-ubun kepala Heena, tubuhnya juga sama bergetar seperti Heena yang saat ini menangis terisak dan merasa pusing kepalanya seraya menenggelamkan wajahnya di dada Aldebaran.


Wanita yang kakinya tadi terasa lemas langsung ambruk di lantai disertai perasaan yang takut, setelah tahu siapa kekasih Heena.


Sekarang masih ada tiga yang sanggup berdiri, tapi kakinya juga terasa tidak kuat menopang tubuhnya, dan rasanya juga ingin ambruk seperti kedua wanita itu, perasaannya takut dan khawatir bila setelah ini usaha mereka akan bermasalah.


Lima orang yang tadi bukan bagian karyawan Aldebaran, mereka adalah pembisnis juga dari perusahaan lain, yang kenal dekat dengan Aldebaran, marahnya karena miliki pengalaman suaminya diambil wanita lain, membuat mereka tidak berpikir jernih, dan langsung membuli Heena.


Lagian siapa yang berpikir ke arah sana, bila Heena miliki hubungan dengan Aldebaran, pria tampan dan kaya, pengusaha muda yang saat ini namanya masih disebut-sebut di setiap kalangan, bahkan berita Aldebaran masih menjadi pembicaraan hangat di sosial media, namanya bagaikan artis naik daun setelah berhasil menguak pembunuh Ayahnya.


Aldebaran mengangkat wajahnya masih dalam memeluk Heena, melihat satu per satu wajah orang yang sudah berani membully Heena, dengan tatapan tajam yang mampu menusuk hingga ke relung jantung mereka.


Yang tiga tadi yang masih berdiri, yang dua langsung ambruk ke lantai, yang satu pingsan, yang satunya bersyukur hanya ambruk tidak sampai pingsan, saat ditatap tajam oleh Aldebaran, kakinya sudah tidak sanggup menopang tubuhnya, gemetar takut jadi satu.


Dua orang yang pingsan tadi sekarang sudah sadar, tapi belum sepenuhnya sadar masih terlihat linglung.


Aldebaran ingin menunjukan siapa Heena, dan seberapa penting Heena baginya, Aldebaran menangkup wajah Heena kemudian mencium pipi, kening, hidung, dagu, dan terakhir mencium bibir Heena.


Melihat adegan yang mustahil terjadi, Angel dan dua temannya langsung ambruk ke lantai, mereka masih sadar. Angel yang merasa paling takut, karena ia adalah karyawan baru yang bekerja di perusahaan Aldebaran, sekaligus pembawa masalah ini, meski kemarin melihat Heena masuk ke ruang kerja Aldebaran, tapi sungguh dalam hati tidak berpikir bila Heena miliki hubungan dengan Bosnya sendiri.


Dan ketakutan Angel terasa semakin kuat, bahkan tenggorokannya terasa tercekat saat mendengar kalimat yang Aldebaran ucapkan.


Setelah selesai mencium bibir Heena dalam waktu cukup lama, Aldebaran menatap lekat wajah Heena. "Dia adalah Istriku ... Dia wanita yang aku cintai ... calon ibu dari anak-anakku."


Selesai bicara Aldebaran kembali mencium bibir Heena sekilas dan menjauhkan wajahnya perlahan seraya jemarinya mengusap air mata Heena, yang entah menangis karena masih sedih atau karena terharu oleh ucapan Aldebaran.


Saat Aldebaran dan Heena saling tatap dan tersenyum kecil, dua teman Angel yang tadi masih sadarkan diri kini sudah pingsan saat mendengar pernyataan kalimat Aldebaran, Angel tidak ikut pingsan bersyukur, sementara tiga gadis yang baru datang mewakili perusahaan ayahnya dan ikut nimbrung melihat apa yang terjadi, tiga-tiganya yang fans berat Aldebaran langsung ikut ambruk ke lantai dan pingsan.


Entah sudah berapa jumlah mereka yang terkejut lalu pingsan, Aldebaran ingin bicara lagi, namun ditahan oleh Heena, khawatir bila mendengar kalimat yang ke luar dari bibir suaminya akan ada yang pingsan lagi, kasihan yang harus mengurusi orang pingsan.


Asisten Dika memberi instruksi pada pihak keamanan hotel untuk membawa orang-orang yang pingsan, serta yang terkejut sampai sesak nafas juga diminta untuk membawa.


Angel merangkak mendekati Aldebaran dengan air mata yang bercucuran, dalam hati ia akan memohon supaya tidak dipecat.


"Tuan, Tuan maafkan aku Tuan." Angel memegang kaki Aldebaran, air matanya yang terus mengalir di pipi sampai menetesi sepatu Aldebaran.


Heena dan Aldebaran sama-sama melihat Angel yang menangis menyentuh kaki Aldebaran.


Tatapan murka yang saat ini Aldebaran berikan.