
Bibi Sekar dan Heena dan juga Aldebaran pamit duluan, karena waktu sudah mulai sore, teman-teman Bibi Sekar yang baik, memeluk Bibi Sekar sebelum Bibi Sekar pergi.
Heena satu mobil dengan Aldebaran, Bibi Sekar yang meminta, sementara Bibi Sekar bersama sopir yang tadi mengantarnya.
Mobil kemudian melaju meninggalkan tempat tersebut.
Di salah satu rumah warga, pintu rumahnya di buka dengan kasar oleh anak pemiliknya.
Brak!
Gadis yang tadi melihat Heena langsung cepat berjalan masuk ke kamar, gadis itu mengobrak-abrik laci almari yang sudah ia rapihkan.
Entah apa yang gadis itu cari, matanya terus mencari sampai mendapatkan yang ia cari.
Namun di dalam laci itu tidak ada, ia mencari di bawah lipatan baju-bajunya namun juga tidak ada.
Gadis itu sampai mau frustasi karena mencari benda yang menurutnya berharga tapi malah tidak ketemu.
Sampai kasur kamarnya ia bongkar, karena berpikir ada di bawah kasur, namun ternyata juga tidak ada.
Namun gadis itu tidak menyerah ia terus mencari, dan saat ini sedang menarik kursi untuk ia bawa ke dekat almari, lalu ia naik di atas kursi, tangannya meraba-raba mencari di atas almari.
Matanya melotot saat merasakan tangannya seperti meraih sesuatu, dan dengan segera ia ambil lalu ia lihat.
Seketika wajahnya tersenyum bahagia saat menemukan benda yang ia cari, sebuah kalung liontin.
Gadis itu membuka bandul kalung liontin di dalam ada foto bayi yang menggunakan kalung liontin sama persis dengan yang dimilikinya.
Di foto bayi tersebut, kalung liontin yang dipakai memang masih sangat kebesaran karena untuk ukuran orang dewasa, bukan untuk bayi.
Gadis itu masih terus melihat kalung liontin di tangannya, seraya turun dari atas kursi, lalu ia berjalan ke tepi ranjang untuk duduk di sana, gadis itu mengambil hp lalu ia cocokkan kalung liontin dengan kalung liontin yang dipakai Heena, pada foto yang terdapat di hp nya.
Gadis tadi sebelum pergi ia sempat memfoto Heena dan Aldebaran juga Bibi Sekar, karena mereka ada di dekat Heena jadi ikut ke foto.
"Sama." Gadis itu berkata yakin, dan saat masih terus melihat foto Heena dan kalung liontin miliknya dengan bahagia, tiba-tiba mendengar suara batuk-batuk dari kamar sebelah.
Uhuk!
Uhuk!
Gadis itu langsung berlari ke luar dari dalam kamarnya, berlari menuju kamar sebelah yang tanpa terkunci.
"Ibu ..." teriaknya setelah masuk dan berjalan cepat mendekati Ibunya.
Ibunya masih terus batuk-batuk, gadis itu membantu mengambilkan air dalam gelas yang ada di atas meja samping ranjang Ibunya.
Ibunya meminum air dalam gelas itu, gadis mengusap punggung Ibunya supaya mereda batuknya.
Selesai Ibunya minum, gadis itu mengambil gelas di tangan Ibunya, lalu ia letakkan di atas meja lagi.
Ibunya mau kembali bersandar, tapi gadis itu menahan, ia mau membenahi bantal yang ada di belakang punggung Ibunya supaya lebih nyaman.
Setelah itu baru gadis itu membantu Ibunya bersandar, leher Ibunya menggunakan shal, wajahnya terlihat pucat, dan badannya kurus, kulitnya mulai keriput, dan sudah dua tahun ini Ibunya hanya berdiam di dalam kamar.
"Di mana kamu bertemu, Nak?" suara Ibu lirih, yang juga ikut menangis.
"Tadi Lulu ikut membantu acara yang ada di balai desa, ternyata di sana ada kakak." Gadis bernama Lulu itu kemudian menunjukan foto Heena yang ada di galeri hp nya.
Air mata Ibunya seketika mengalir berlinang melihat foto Heena, dan kalung yang Heena pakai benar-benar kalung yang pernah ia berikan waktu Heena masih bayi, sebagai tanda buat Heena.
"Sheila," gumam Ibu seraya mengusap foto Heena. Air matanya masih mengalir deras, apa lagi saat mengingat ia sudah lama mencari bayi kecil itu yang pernah ia tinggal di pantai asuhan karena suatu hal yang tidak bisa ia jelaskan.
Tangisnya semakin terdengar pilu, Lulu memeluk Ibunya supaya tenang, dalam hati Lulu akan mencari Heena ke kota, apa lagi ia kenal Bibi Sekar karena sudah tiga kali bertemu.
Lulu merasa mudah untuk bisa bertemu Heena dengan melalui Bibi Sekar, apa lagi Lulu tahu bila Heena menjadi keluarga Bibi Sekar, Lulu memantapkan hatinya bila besok ia akan mulai mencari.
Ibu masih terus menangis, rasanya kesalahan di masa lalunya benar-benar tidak bisa dimaafkan, apa kah saat nanti Heena tahu yang sebenarnya, akan bisa memaafkan kesalahannya, mengingat itu semua, Ibu semakin menangis.
Sudah bertahun-tahun lamanya ia mencari, sampai dua tahun belakangan ini ia jatuh sakit dan hanya Lulu yang masih lanjut mencari keberadaan Heena.
Dan saat ini Ibu sangat butuh kehadiran Heena, bila perlu Ibu akan bersujud supaya mendapat maaf dari Heena.
Bayi kecil yang harusnya mendapat kasih sayang orang tuanya harus terpisah jauh, karena hal yang saat itu mengharuskan Heena untuk pergi.
"Ibu tenanglah?" Lulu terus memeluk Ibunya, Lulu tahu Ibunya pasti sedih juga pasti sangat terpukul, ia yang selalu mendengar ucapan penyesalan Ibunya, sangat tahu betul bila Ibunya selama ini sangat menderita mencari Heena karena tidak kunjung bertemu.
Perlahan Ibu mulai tenang, tangisnya mulai mereda, Lulu menggenggam tangan Ibunya seraya menatap bola mata Ibunya yang basah, Lulu menguatkan supaya Ibunya kuat.
Ibunya langsung memeluk Lulu, sungguh ia bersyukur memiliki putri seperti Lulu, selain baik tapi juga bisa mengurusnya di hari tua.
"Ibu ... besok Lulu minta ijin untuk mencari, kakak." Lulu masih menggenggam tangan Ibunya.
Ibu mengangguk, bertanda mengijinkan Lulu untuk pergi, Lulu mencium pipi Ibunya seraya menangis.
Lulu membantu Ibunya untuk tidur, ia menyelimuti Ibunya sampai batas leher.
Setelah Ibunya memejamkan matanya, Lulu ke luar dari dalam kamar Ibunya.
Lulu menutup pintu kamar Ibunya, ia bersandar di pintu itu, sudut matanya mengeluarkan cairan bening.
Aku harus menemukan kakak, aku tidak ingin Ibu bersedih terus, aku harus bisa membawa kakak pulang untuk bertemu Ibu, batin Lulu penuh semangat akan mengajak Heena untuk bertemu Ibunya.
Langit mulai berubah gelap menjadi malam, di tempat lain.
Heena habis ke luar dari dalam kamar mandi, saat ini ia berdiri di depan cermin meja riasnya, Heena melepas kalung yang ia pakai, ia kembalikan ke tempatnya.
Heena menghela nafas panjang, kemudian menyimpan kalung tersebut di dalam laci dan ia kunci.
Aldebaran yang sudah berdiri di pintu, melihat paper bag yang ia bawa, hatinya ragu mau dikasih Heena atau tidak, pikirannya perang sendiri.
Heena balik badan mau menuju tempat tidur, namun terkejut saat tiba-tiba melihat Aldebaran.
Deg!
Aldebaran juga sama terkejutnya sampai paper bag yang ia bawa jatuh.