HEENA

HEENA
BAB 89. Perlakuan manis bertubi-tubi.



Dekapan hangat Aldebaran mampu membuat Heena lebih tenang, tangisnya tidak sepilu tadi, satu hal yang Heena sadari saat ini, Aldebaran telah menjadi bagian darinya, bahkan menyukai aroma wangi tubuh Aldebaran, Heena semakin mempererat pelukannya.


"Jangan merasa sendiri, mulai sekarang kamu bisa bercerita denganku." Aldebaran bicara lembut seraya mencium rambut Heena.


Sungguh Heena terharu dengan perkataan Aldebaran, sejak dulu pria itu selalu memperlakukannya dengan baik, apa lagi Heena merasakan Aldebaran mencium rambutnya.


Sungguh saat ini Heena merasa bahagia, seolah melupakan kesedihannya beberapa menit lalu, andai tidak malu, Heena pasti sudah melompat-lompat seperti Yusuf bila lagi senang.


Setelah merasa tenang, Heena melerai pelukannya. "Terimakasih, Al." Heena menatap Aldebaran.


Tangan Aldebaran menangkup wajah Heena, ia menatap lekat wajah wanita yang saat ini ada di depannya, mengingat kembali kejadian tadi siang, di mana Heena di cekik, rasanya Aldebaran kembali marah.


"Aku tidak melihat tanda-tanda kamu bahagia di pernikahan dulu." Tangan Aldebaran kini membelai rambut Heena, masih menatap lekat wajah Heena.


"Itu benar, tapi apa pun masalah yang aku hadapi di rumah tangga aku yang pertama, itu semua aku anggap adalah sebuah pembelajaran," jelas Heena yang juga menatap Aldebaran.


"Lalu apa bedanya dengan sekarang, kamu saja masih menangis." Aldebaran senyum mengejek, tangannya masih menyentuh rambut panjang Heena.


Mendengar kalimat yang Aldebaran ucapkan, Heena terkekeh, bisa-bisanya Aldebaran melawak, sudah jelas-jelas tadi ia menangis karena Ibunya bukan karena pernikahan dirinya dengan Aldebaran.


"Bukan begitu ... tadi aku nangis karena tentang ibu, untuk kita aku bahagia." Heena berkata dengan sungguh, matanya berbinar.


Aldebaran terkekeh mendengar penjelasan Heena, padahal ia belum melakukan apa-apa, tapi Heena sudah berkata bahagia, Aldebaran pikir Heena sangat polos.


Aldebaran kemudian mengambil dompet di saku celana, Heena bingung dengan maksud Aldebaran yang tiba-tiba mengambil dompet.


Saat Heena masih terus melihat apa yang akan Aldebaran lakukan, Heena begitu terkejut saat tiba-tiba Aldebaran menyerahkan black card tanpa batas di tangannya.


"Kamu tadi bilang bahagia, itu bohong. Ini baru kamu bisa bilang bahagia," ucap Aldebaran setelah memberikan black card di tangan Heena.


Heena menggelengkan kepalanya. "Ini terlalu berlebihan."


"Gunakan!" Aldebaran berkata tegas tanpa mau dibantah.


Heena menghela nafas panjang, tidak ada pilihan selain mengikuti kemauan Aldebaran.


"Beli semua barang yang kamu suka, yang selama ini kamu inginkan tapi belum kamu beli, belilah semuanya yang kamu mau." Aldebaran menjeda ucapannya, menatap dalam bola mata Heena. "Maafkan aku bila baru sekarang menafkahi kamu."


Heena sudah tidak kuat lagi mendengar ucapan Aldebaran, Heena kembali memeluk Aldebaran, namun kali ini ia menenggelamkan wajahnya di dada Aldebaran, hal yang sering Heena lakukan dulu bersama Aldebaran.


Mendapat perlakuan manis bertubi-tubi dari Aldebaran malam ini, Heena rasanya tidak ingin melewati malam ini dengan cepat.


Bila Heena bisa memperlambat waktu, pasti akan Heena lakukan, apa lagi posisinya saat ini, benar-benar nyaman, entah mendapat keberanian dari mana, Heena memeluk Aldebaran lebih dulu.


Tapi saat merasakan tangan Aldebaran mengusap punggungnya, Heena semakin dalam mencium aroma wangi tubuh Aldebaran, senang karena Aldebaran tidak menolak, tadi sudah berpikir bila Aldebaran menolak lalu mendorongnya, karena sudah lancang memeluk pria itu lebih dulu.


Aldebaran tersenyum kecil, setelah itu meminta Heena untuk tidur, Aldebaran berdiri lalu menyelimuti tubuh Heena dengan selimut.


Keduanya saling menatap sesaat, sebelum ahirnya Heena memejamkan mata, setelah itu Aldebaran juga bersiap untuk tidur.


Sebelum benar-benar tertidur, Heena masih senyum-senyum sendiri, masih tidak percaya dengan barusan terjadi, Heena mencubit pipinya, dan seketika menjerit tanpa suara.


Heena saat ini sudah yakin bila bukan mimpi, tadi yang sempat demam, sakitnya langsung sembuh, tidak merasa demam lagi, entah sembuh karena obat yang tadi ia minum, atau karena mendapat pelukan Aldebaran, Heena senyum-senyum sendiri membayangkan semua itu.


Di tempat lain.


Ayunda yang saat ini sedang duduk di sofa, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu Apartemennya.


Ayunda berjalan untuk membukakan pintu, dan begitu terkejut ternyata yang datang orang penagih hutang.


"Mau apa kalian!" tanya Ayunda ketus.


Hahaha. "Anak manis tentu saja kami datang ke mari untuk meminta uang ibumu." Dua pria itu senyum menyeringai.


Ayunda menghela nafas panjang, kemudian masuk ke dalam, namun tidak lama kemudian Ayunda sudah kembali lagi, dan menyerahkan amplop coklat berisikan uang.


"Pergi jangan pernah datang lagi!" bentak Ayunda seraya mendorong dua pria itu, kemudian menutup pintu apartemen lagi.


"Hei cantik! senang bekerja sama denganmu, hahah!" teriak pria itu seraya mencium amplop coklat itu, kemudian berjalan pergi meninggalkan tempat itu.


Ayunda yang berjalan masuk ke dalam kamar, terus ngedumel memaki dua orang pria itu.


Hah! dia pikir aku tempat bank mereka apa! main minta duit-duit saja, yang minjam siapa yang bayar siapa, hah! menyebal sekali mereka.


Sambil berbaring di atas ranjang seraya menarik selimut, Ayunda kemudian beristirahat malam.


...****************...


Wajah seorang pria yang tampak terlihat lelah, kini memasuki kamar putranya, duduk di samping putranya yang sedang tidur.


Mencium kening putranya sekilas, kemudian ikut berbaring di sebelahnya.


Keesokan paginya.


Saat ini Michael sedang memangku Yusuf sembari menyisir rambut putranya, dan setelah rapih, Michael menggandeng tangan Yusuf untuk diajak sarapan bersama.


Pagi ini Michael menyuapi Yusuf sarapan, dan setelah mereka selesai sarapan, Michael langsung mengantar Yusuf sekolah.


Sebelum pergi meninggalkan Yusuf di sekolah Michael berpesan dengan Yusuf untuk belajar yang benar, Michael mencium kening putranya, tidak terasa meneteskan air mata, Michael segera menghapusnya, kemudian melambai tangan saat Yusuf masuk ke dalam sekolah.


Michael kemudian masuk lagi dalam mobil, melajukan mobilnya ke kantor.


Sampai di kantor, Michael tidak langsung bekerja, ia duduk di kursi kerjanya, dan mengirim pesan ke Heena.


Sejak pertemuan kemarin Heena tidak membalas pesan yang ia kirim, perasaan Michael semakin khawatir, di telpon juga tidak Heena angkat.


Michael memijit pelipisnya seraya berpikir cara untuk bisa bertemu Heena lagi, saat ini Michael tidak ingin ketinggalan selangkah tentang Heena.


Akan memiliki wanita itu sebelum bersama pria lain pikir Michael, namun bila Heena susah di hubungi seperti ini, maka akan menghambat semua rencana Michael.


Michael membuang nafas berat, ahirnya ia memilih untuk bekerja dulu, baru nanti akan memikirkan caranya bertemu Heena.


Heena yang saat ini di tempat olah raga, menemani Bibi Sekar, yang baru saja duduk dan memegang handphonenya, saat handphonenya ia nyalakan langsung ada pesan masuk, setelah membaca pesan itu Heena merasa bahagia.