HEENA

HEENA
BAB. 86. Pergi tanpa peduli.



Michael langsung menepikan mobilnya, saat sudah sampai di tempat tujuannya, ternyata Michael mendatangi sekolah Yusuf, dan langsung ke luar mobil seraya berjalan dengan tergesa-gesa untuk memasuki area sekolahan.


Michael semakin berjalan cepat saat sudah melewati pagar sekolah saat melihat seseorang yang mau ia temui.


"Ane."


Deg! Ane terkejut saat melihat Tuannya saat ini berdiri di hadapannya, Ane bingung apa yang membuat Tuannya kembali ke sekolah, karena setahu Ane pria itu tadi sudah pergi, tapi ini?


Saat Ane belum menjawab sapaan Michael karena masih dalam keterkejutannya, tiba-tiba mendengar sebuah pertanyaan yang sangat Ane hindari, yang ke luar dari bibir pria itu.


"Beritahu aku alamat rumah Heena yang sekarang!" Michael berkata tegas, dengan nafasnya yang masih memburu karena tadi habis berjalan cepat.


Ane bingung harus bagaimana, pertama Heena melarang Ane untuk tidak memberitahu alamat rumahnya pada siapa pun, termasuk itu Michael.


Tunggu dulu, Tuan mencari alamat rumah Nyonya untuk apa? mereka kan sudah tidak ada lagi ikatan, hanya Tuan Muda Yusuf yang masih mengikat mereka berdua, pikir Ane.


"Ane, kamu dengar tidak! mengapa hanya diam saja." Michael mulai sedikit frustasi saat mendapati Ane yang hanya diam saja.


"Jangan bilang kamu diam, karena Heena tidak ingin aku mengetahui alamat rumah barunya!" ucap Michael dengan tegas.


Ane sampai menunduk tidak berani menatap mata Tuannya, yang saat ini pasti menatap tajam kearahnya.


Perlahan Ane mengangguk dengan kepala menunduk dalam, dan melihat itu seketika Michael mengusap wajahnya dengan kasar.


Michael menghela nafas panjang, ia pikir ia harus segera bertemu Heena, ada rasa kecewa saat Heena menghindarinya, dengan terpaksa ahirnya Michael mendesak Ane untuk memberikan alamat Heena dan nomor ponsel Heena.


"Maafkan saya Nyonya," gumam Ane seraya menatap punggung Michael yang berjalan pergi, setelah mendapatkan yang dia inginkan.


Di rumah kediaman Paman Syafiq.


Heena yang saat ini sedang membaca majalah, tiba-tiba fokusnya teralihkan saat mendengar suara pesan masuk di handphonenya.


Pesan masuk dari Michael, Heena menghela nafas panjang setelah membaca pesan tersebut, seraya bersandar di sandaran ranjang.


Antara menemui atau membiarkan saja, saat ini sebenarnya Heena malas untuk ke luar rumah, karena badannya lagi kurang baik.


Heena ahirnya lebih memberitahu tidak menemui, tapi belum sempat pesan itu ia kirim, kini ada nomor baru yang masuk dan menelponnya.


"Heena kita harus bicara, tolong!" suara Michael yang terdengar di sambungan telepon.


Sepertinya sifat Michael yang suka memburu-buru orang lain itu tidak pernah berubah, pikir Heena.


Heena menghela nafas panjang. "Baiklah, kirim alamatnya."


Setelah berkata seperti itu, Heena langsung mematikan sambungan telepon dengan sepihak, tanpa persetujuan Michael.


Heena menatap jam dinding, waktu baru menunjuk pukul sepuluh pagi, dengan rasa malas Heena segera bersiap.


Di tempat lain, seorang pria langsung tersenyum bahagia seraya menserlok tempat dirinya berada sekarang.


Pria itu adalah Michael, yang ternyata saat ini sudah berada di sebuah kafe, yang kebetulan sedang ada meeting bersama klien di luar, dan setelah selesai pekerjaannya, Michael akan segera menemui Heena.


Dan setelah selama satu jam tiga puluh menit, meeting berlangsung, kini ahirnya selesai juga, Michael dan klien nya saling berjabat tangan sebelum ahirnya mereka pisah.


Michael tersenyum, kemudian berjalan mencari kamar mandi, mau merapihkan diri sebelum bertemu Heena.


Tetap harus terlihat keren, meski baru saja selesai bekerja.


Dan setelah beberapa menit, mobil taksi yang Heena tumpangi sampai di alamat tujuan.


Heena berjalan masuk di sebuah kafe, namun sebelum itu ia sudah membayar tagihan taksi yang tadi ia tumpangi.


Heena berdiam diri untuk mencari keberadaan Michael, Heena menghela nafas saat kini melihat Michael melambaikan tangan ke arahnya.


Michael terus menatap Heena tanpa matanya berkedip, dengan senyum manis yang Michael tunjukan.


Heena mengangguk kemudian duduk, setelah Michael mempersilahkan. Michael kemudian memanggil pelayan, untuk memesan minuman sekalian makanan, karena sebentar lagi adalah jam makan siang.


"Kamu mau makan apa? tanya Michael seraya menatap Heena.


"Terserah kamu saja," ucap Heena singkat tanpa mau melihat isi menunya apa.


Michael memesan dua makanan yang sama dan dua minuman yang sama, sambil menunggu pesanan datang, Michael membuka obrolan ringan seputar membicarakan Yusuf.


Heena juga merespon, karena menurutnya membicarakan Yusuf masih hal biasa, bukan sebuah pertanyaan yang harus Heena hindari.


Pelayan datang mengantarkan pesanan, Heena terpaku dengan makanan yang Michael pesan buatnya, ternyata Michael masih mengingat makanan kesukaannya pikir Heena.


Bila dahu di pesankan makanan kesukaannya oleh Michael pasti Heena akan merasa bahagia, tapi sekarang Heena hanya terkejut dan perasaannya biasa saja, entah sejak kapan perasaan itu memudar.


Setelah pelayan pergi, Heena dan Michael makan siang lebih dulu. Tidak ada yang bicara, mereka berdua makan dengan diam, Heena makan dengan cepat, karena ingin segera selesai urusannya dengan Michael, terlalu lama bersama Michael, Heena merasa tidak enak.


Heena membersihkan mulutnya dengan tisu, setelah selesai makan, begitu pun dengan Michael.


Heena menyeruput jus alpukat, sambil mendengarkan yang Michael bicarakan.


"Kenapa kamu tidak cerita bila sudah tidak tinggal di rumah yang aku belikan?" Michael menatap Heena lekat.


"Maaf, El. Tidak ada maksud seperti itu, semua juga serba dadakan," jelas Heena yang memang kebenarannya seperti itu.


Michael menghela nafas panjang. "Tapi kenapa juga kamu sembunyikan padaku, aku bahkan sampai menekan Ane untuk bicara, supaya mau memberikan alamat rumahmu, dan nomor ponsel kamu, mengapa ganti? protes Michael lagi, yang merasa tidak terima.


Lagi-lagi Heena hanya bisa menjawab dengan kata maaf, Heena hanya tidak ingin rahasia pernikahannya dengan Aldebaran diketahui, bahkan Yusuf saja belum Heena beri tahu.


"Baiklah lupa kan saja, sekarang aku minta tolong jangan kamu ulangi lagi, dan di sana kamu tinggal sama siapa?" tanya Michael lagi yang masih terus mencari tahu tentang Heena.


"Sama bibi Sekar, El." Heena menjawab apa adanya, karena memang kebenarannya seperti itu.


Michael sekarang paham, ia tidak perlu lagi curiga, karena ternyata Heena tinggal bersama Bibinya.


Sesaat kemudian, Michael menatap dalam bola mata Heena. "Heena."


"Iya," sarkas Heena dengan cepat, dan langsung menatap wajah Michael yang seketika pandangan mereka bertemu.


"Aku mencintaimu Heena."


Bersamaan Michael mengatakan cinta pada Heena, Heena membuat gerakan tangan stop, karena harus mengangkat telepon, membuatnya tidak fokus dengan yang Michael katakan barusan.


Dan setelah mendengar apa yang disampaikan oleh seseorang di sambungan telepon, wajah Heena seketika berubah sedih, dan setelah telepon terputus, Heena langsung pamit pergi tanpa pedulikan teriakan keras Michael yang memanggil namanya.


"Heena ...."


"Heena ..." teriak Michael yang saat ini berdiri melihat punggung Heena yang berjalan semakin menjauh.