
"Ikut aku!"
"Ah ...."
Michael menarik tangan Heena seraya menyeret wanita itu membawa ke luar kamar.
Terus menarik tangan Heena, meski Heena meringis kesakitan namun Michael benar-benar tidak peduli dengan yang wanita itu rasakan.
Bruk!
Michael melempar Heena dengan keras, hingga membuat wanita itu tersungkur ke lantai.
Heena menggigit bibir bawahnya supaya tangisnya tidak bersuara.
Kejam sungguh kejam itulah batin Heena mengumpati perlakuan Michael kali ini.
Michael mendekat kini ia meraih tangan Heena dengan kasar lalu mengikat wanita itu di kursi.
"Ah ..." Heena meringis menahan sakit di tangannya.
Heena sudah seperti tawanan yang takut akan kabur.
Michael mencekal rahang Heena untuk membalas menatapnya. " Ini hukuman buat Istri pembangkang."
Heena langsung memalingkan wajahnya setelah tangan Michael menjauh dari wajahnya.
Brak!
Michael menutup pintu itu dengan keras, ia meninggalkan Heena sendirian di gudang dalam keadaan gelap gulita.
Heena hanya menangis, kini tidak hanya hatinya yang sakit tetapi juga tubuhnya, sungguh ia tidak tahu harus lanjut berakting tegar atau menunjukan kerapuhannya pada semua orang.
Heena yang tiba-tiba merasa kepalanya berdenyut dan tubuh yang tiba-tiba menggigil karena duduk tanpa menggunakan alas. Wanita malang itu akhirnya tertidur dengan air mata yang masih tetap mengalir meski dalam tidurnya.
Jarum jam terus berputar hingga kini malam berganti pagi, pagi yang sangat cerah bahkan matahari menampakkan diri dan memberikan sinar hangat di pagi itu, tetapi tidak secerah hati Anak kecil yang saat ini sedang menangis karena mencari ibunya.
"Mama, huhuhu." Yusuf yang sedari tadi mencari mamanya ahirnya menangis dan tidak mau di sentuh pengasuhnya.
"Yusuf, mau Mama. Cuma mau Mama!" Yusuf memberontak saat pengasuhnya mencoba mau membantunya, yang saat ini Yusuf sedang berguling-guling di lantai.
"Mama, Huhuhu." Yusuf menangis semakin menjadi dan terus berguling-guling di lantai hingga membuat Ane sang pengasuh menjadi kesulitan.
Dan ternyata pekikan suara tangis Yusuf mampu Michael dengar dari kamar Mawar yang tadi malam ia milih istirahat di kamar itu.
"Yusuf!" Michael kaget mendapati keadaan Yusuf yang menangis sambil berguling-guling di lantai, Michael langsung mendekati Yusuf lalu menggendongnya.
Yusuf awalnya memberontak namun perlahan ia mulai tenang.
Michael masih belum mengerti penyebab Yusuf menangis, hingga dia menanyakan ke Ane untuk memanggilkan Heena.
Namun yang ia dapat sebuah jawaban yang mengingatkan perlakuannya tadi malam terhadap Heena.
"Maaf, Tuan, Nyonya, tidak ada di kamar, itu lah sebabnya, Tuan Muda Yusuf menangis."
"Apa!" Michael langsung berlari ke arah gudang, masih dalam menggendong Yusuf, ia kelupaan bahwa Heena masih dirinya kurung di gudang, padahal niat hati tadi malam cuma satu jam saja malah menjadi semalaman.
Yusuf yang berada di gendongan Papanya merasa bingung saat dibawa lari menuju gudang.
Kreekk.
Ane dan juga Mawar mengikuti dari belakang dan kini berdiri tepat di belakang Michael yang sedang memeriksa keadaan Heena.
"Mama ... Mama." Yusuf mengguncang tubuh Heena namun wanita itu juga tidak kunjung bangun, Yusuf kembali menangis.
Michael juga sama terkejutnya ketika mendapati tubuh Heena sedang panas tinggi.
Ane yang menatapnya juga ikut cemas saat melihat Michael langsung menggendong Heena membawanya ke rumah sakit.
Berbeda dengan Mawar wanita itu hanya tersenyum sinis.
Semua orang ikut ke rumah sakit kecuali Mawar, wanita itu beralasan masih pagi dan ingin berberes dulu kilahnya.
Setelah sampai di Rumah Sakit Heena langsung ditangani oleh Dokter.
Michael menunggu di luar seraya memangku Yusuf yang kini tangisnya sudah mulai reda.
"Papa, kenapa mama ada di gudang?" Yusuf mendongakkan kepalanya supaya bisa menatap wajah Papanya.
Michael bingung mau menjawab apa, ia sadar semua ini salahnya, tapi bila harus berkata jujur itu juga tidak mungkin, dan untung saja pintu ruangan di buka oleh Dokter hingga Michael fokusnya teralihkan.
"Dokter, bagaimana keadaan, Heena."
"Ibu, hanya dehidrasi, dan setelah ini ibu cukup istirahat saja."
Michael mengangguk mengerti, lalu ia masuk ke dalam setelah mendapat ijin boleh masuk.
Yusuf masih dalam gendongan Michael, namun Anak Kecil itu mau menyentuh mamanya, Michael sedikit membungkuk supaya Yusuf bisa menjangkau Mamanya.
Jemari mungil itu mengusap pipi mulus Heena. "Mama, cepat cembuh, Mama. Huhuhu."
Deg!
Hati Michael merasa tersentak dengan tanginsan Yusuf, ia benar-benar merasa bersalah.
Yusuf kemudian meminta turun dari gendongan Papanya, lalu Yusuf memeluk Mamanya dari samping sambil tiduran.
"Yusuf, cayang Mama, Mama cepat cembuh ya."
Michael baru sadar bahwa kedekatan Yusuf dengan Heena sangat kuat.
Pagi menjelang siang itu Michael pergi dari rumah sakit karena harus ke kantor.
Dan siang itu Heena sudah sadarkan diri, ia sangat bahagia saat membuka mata pertama yang ia lihat senyum putranya.
"Mama, Mama sadal ..." teriak kegirangan Yusuf seraya mengangkat kedua tangannya ke atas.
Heena memeluk putranya dengan sayang, hanya putranya yang membuat Heena mampu setegar ini.
Yusuf yang sangat sayang sama Mamanya memberikan semangat untuk Heena bisa segera sembuh, supaya bisa menjaga dan merawat Yusuf seperti biasanya.
Setelah mengantar Heena ke rumah sakit Michael pria itu tidak pernah datang lagi hingga Heena berada dalam tiga hari perawatan. Dan tepat sore hari ini Heena sudah boleh diijinkan untuk pulan.
Dengan menguatkan hati Heena harus kembali ke Mansion yang baginya adalah neraka di dunia.
Namun demi kebahagian putranya yang saat ini sedang memegang jari telunjuknya seraya ia goyang-goyangkan yang terlihat sangat bahagia di wajahnya.
Heena tidak bisa menolak ataupun mengikuti egoinya, memantapkan hati hanya demi putranya.