
Pukul sepuluh kurang lima menit, mobil Aldebaran sudah tiba di depan sekolahan Yusuf, ia benar-benar menepati janjinya yang ingin menjemput Yusuf.
Meski di kantor banyak pekerjaan tapi semua itu bisa ia alihkan pada Govi dan Dika, karena saat ini prioritasnya adalah Yusuf dan Heena.
Apa lagi kata tiga hari, terekam jelas di otaknya, akan banyak waktu untuk keluarga tidak ingin mengecewakan anak tirinya itu.
Pintu gerbang dibuka, anak sekolah bersama pengasuh dan orang tuanya masing-masing pada mulai ke luar, Aldebaran terus melihat ke arah gerbang sekolah itu, sampai matanya menangkap sosok yang sudah di tunggu-tunggu sejak tadi.
Yusuf senyumnya mengembang saat melihat mobil Om Al nya sudah tiba Heena juga tersenyum tidak menyangka Aldebaran sudah menunggu, apa dia tidak sibuk pikir Heena, karena tadi Heena merasa Aldebaran pasti tidak jadi karena mengingat di kantor pasti banyk pekerjaan.
Mobil Aldebaran melaju setelah semua masuk ke dalam, setelah tiga puluh menit mobil sampai di rumah.
Sebelum turun dari mobil, Yusuf yang saat ini duduk di pangkuan Heena ia menoleh ke arah Aldebaran. "Om Al bisa pulang jam setengah empat." Wajah Yusuf dibuat-buat memelas, benar-benar akting yang sempurna. Dan benarkan sikapnya itu berhasil membuat Om Al nya setuju.
"Baiklah tunggu di rumah ya." Aldebaran ahirnya menyanggupi, meski belum tahu gimna jadinya nanti, karena bila tidak salah ingat, tepat di pukul setengah empat sore ia ada meeting bersama klien.
Heena dan Yusuf sudah ke luar mobil, Aldebaran melajukan mobilnya, mereka melambaikan tangan sampai mobil Aldebaran menghilang di balik gerbang.
Heena mengajak Yusuf masuk ke dalam, sampai di dalam rumah, Heena mengajak Yusuf masuk ke dalam kamarnya lalu mengganti pakaian Yusuf.
Siang ini Yusuf tidur dengan nyenyak, ditemani Mamanya, tepat pukul tiga sore Yusuf terbangun saat mendengar bunyi alarm.
Tadi sebelum tidur meminta Mamanya untuk memasang waktu alarm.
Yusuf bangun langsung berlari ke luar kamar, membuat Heena seketika mengejar langkah cepat Yusuf.
"Yusuf jangan lari-lari, Nak ..." teriak Heena saat berjalan menapaki anak tangga melihat Yusuf yang berjalan cepat.
Sampai di lantai satu, Yusuf langsung menuju ruang tamu, ia menunggu Om Al datang dengan wajah sedikit murung karena ternyata Om Al belum tiba.
Padahal saat tadi ia turun ke bawah dengan semangat, dalam benaknya saat sampai di ruang tamu, Om Al sudah tiba, seperti yang sering dilakukan oleh Om Al, tapi sekarang Yusuf menelan kekecewaan.
Heena mendekati saat melihat wajah Yusuf yang murung, Heena berjongkok mensejajarkan tinggi dengan Yusuf. "Ada apa? kenapa Yusuf bersedih?" tanya Heena seraya mengusap wajah Yusuf.
"Om Al belum pulang, kan tadi sudah janji." Yusuf bicara dengan wajahnya yang terlihat sedih.
Kini Heena tahu permasalahannya apa, Heena tersenyum seraya berkata untuk menenangkan putranya, "Sayang, saat ini baru pukul tiga sore, om Al tadi berjanji datang pukul setengah empat sore, kita tunggu ya?"
Yusuf mengangguk, dalam hati ia membenarkan apa yang diucapkan oleh Mamanya.
Heena kemudian membawa Yusuf duduk di sofa untuk menunggu kedatangan Aldebaran, Ane datang membawakan teh hangat untuk Yusuf, karena sudah terbiasa bila bangun tidur selalu minum teh hangat.
Dan Heena melihat arah mata Yusuf yang sedari tadi melihat jam dinding.
Dan seolah Tuhan menjawab langsung doa Heena, yang berharap Aldebaran akan pulang, Heena dan Yusuf segera berjalan ke luar menuju teras, saat mendengar suara deru mobil yang memasuki pelataran rumah.
Yusuf senang bukan main, karena melihat Om Al pulang sudah dipastikan bila rencananya akan berhasil.
Aku akan berkebun bersama Om Al, ye! teriakan senang dalam hati Yusuf.
Aldebaran yang sudah ke luar mobil, ia berjalan menghampiri Heena dan Yusuf, Heena tidak lupa mencium punggung tangan Aldebaran, lalu mengambil alih tas kerja Aldebaran.
Mereka bertiga masuk bersama ke dalam rumah, Aldebaran mengandeng tangan Yusuf, dalam berjalan menaiki tangga menuju lantai dua.
Yusuf bercerita tentang keinginannya yang meminta Om Al pulang setengah empat sore, Yusuf berkata ingin berkebun bersama Om Al, mau menanam biji kacang, katanya kemarin nonton film kartun yang di dalam film itu kartunya sedang menanam biji kacang.
Aldebaran hanya menanggapi ya iya dan iya, sementara Heena yang berjalan di belakang dua laki-laki yang beda usia itu, menutup mulutnya yang tertawa, mendengar ucapan Yusuf yang aneh, bisa-bisanya putranya itu miliki keinginan berkebun.
Apa lagi saat di bumbu-bumbui karena di sini hanya tiga hari, Yusuf bicara memelas, Heena tersenyum, Aldebaran menghela nafas panjang.
Setelah lima belas menit berlalu, Kini Aldebaran dan Yusuf, juga ada Heena dan Ane, serta dua pelayan pria yang akan membantu Yusuf dan Aldebaran untuk berkebun.
Untung halaman belakang rumah Paman Syafiq masih ada sedikit tanah, dan disitulah akan memulai berkebun.
Yusuf juga yang meminta Om Al yang harus memegang cangkul, Aldebaran menurut namun saat mau mencangkul tanah, ia salah trik, karena ini adalah pertama kalinya ia memegang cangkul.
Pelayan pria yang satunya mendekat untuk mencontohkan, setelah melihat Aldebaran baru bisa, dan mulai mencangkul tanah.
Yusuf tersenyum puas ahirnya bisa mengerjai Om Al untuk mencangkul tanah.
Di sini hanya Aldebaran yang mencangkul tanah, dua pelayan pria tidak membantu karena Yusuf tidak mau, dan memberi alasan katanya ingin memiliki momen hanya bersama Om Al nya saja.
Entah menggerutu atau tidak dalam hati Aldebaran, tapi ya sudah lah namanya juga anak kecil, kadang mintanya suka aneh-aneh. Pikiran warasnya mengingatkan.
Setelah tiga puluh menit, tanah yang Aldebaran cangkul sudah luas, Heena melihat peluh yang bercucuran di dahi Aldebaran, yang kadang sesekali pria itu mengusapnya di kaos lengannya. Benar-benar sudah seperti bekerja keras.
Merasa sudah cukup tanah yang digunakan untuk menanam biji kacang, Aldebaran berhenti mencangkul, lalu Yusuf yang menanam biji kacang itu, dan Aldebaran yang menutup kacang itu dengan tanah, benar-benar hanya mereka berdua tidak ada yang boleh membantu.
Setelah selesai menanam biji kacang, Yusuf menunjukan foto di hp Mamanya pada Om Al, dan seketika Aldebaran geleng kepala saat melihat foto-foto dirinya tadi yang mulai mau mencangkul, sedang mencangkul, menanam biji, bahkan ada yang foto saat memegang cangkul, ada juga foto dirinya bersama Yusuf saat menanam biji. Foto saat dirinya mengusap peluh, Aldebaran terkekeh geli.
Lelah sih apa lagi ini baru pertama kalinya, tapi lelah itu langsung hilang saat Yusuf memeluk kakinya. "Terimakasih Om Al, foto-foto itu nanti akan aku abadikan." Yusuf bicara dengan penuh antusias.