HEENA

HEENA
BAB. 40. Di buang ibu kandung.



Pagi hari akhir pekan.


Pagi-pagi Heena sudah bersiap, rencana hari ini ia akan mencari nama panti asuhan yang dulu Ibu Jamilah meng adopsinya.


Hanya berbekal niat, Heena berharap nanti bisa bertemu pengurus panti asuhannya, tidak lebih, Heena hanya ingin tahu siapa orang tua kandungnya.


Heena membuang nafas kasar, membayangkan saja rasanya sudah sakit, entah karena dirinya di buang, atau karena alasan lain, tapi tetap saja mengapa harus di panti asuhan, Heena ingin segera mendapatkan jawabannya.


Pukul tujuh pagi Heena berangkat ke kota sebelah, tempat dimana panti asuhan itu berada.


Perjalanan hanya menempuh waktu tiga jam, tepat pukul sepuluh pagi, Heena sampai di alamat yang ia cari.


Heena membayar taksi, setelah itu berjalan memasuki area panti asuhan, tempat yang sangat bersih, banyak bunga-bunga serta rerumputan hijau yang di rawat di halaman rumah panti asuhan.


Heena berdoa dalam hati sebelum ahirnya ia mengetuk pintu. Dari dalam ada seseorang menyahut, tidak lama keluarlah wanita sekitar usia lima puluh lima tahun menyapa Heena.


"Maaf, ada yang dapat saya bantu." Wanita itu tersenyum.


Heena membalas senyumannya serta menjabat tangan wanita itu. "Boleh saya masuk, ada yang ingin saya tanyakan."


"Mari."


Wanita itu membawa Heena masuk ke dalam, duduk di sofa, seperti ruangan khusus untuk para pengunjung di sini, ada almari bufet yang berisikan buku-buku juga, Heena beralih menatap wanita itu.


"Ibu, maaf bila saya mengganggu, tapi bila boleh saya bertanya? apa kah, Ibu. Adalah pengurus, Panti Asuhan Bunda."


"Iya, Nak."


"Panggil saja saya Ibu Lasmi," imbuhnya.


Heena mengangguk mengerti. "Baiklah, apa kah Ibu mengenal foto ini." Heena menunjukan sebuah foto Ibu Jamilah dan suaminya.


Deg!


Ini kan Ibu Jamilah dan suaminya yang dulu pernah meng adopsi bayi kecil di panti asuhan di sini, ucapnya dalam hati.


Melihat raut wajah Ibu Lasmi yang berubah, sepertinya tahu sesuatu pikir Heena.


"Ibu."


Suara Heena sekali lagi menyadarkan lamunan Ibu Lasmi, yang seketika menatap Heena dengan tatapan yang sulit diartikan.


Namun demi menjaga privasi, Ibu Lasmi belum menjawab, Heena yang mengerti arti tatapan kebingungan dari Ibu Lasmi, ia kembali menjelaskan.


"Mereka adalah kedua orang tuaku, yang baru saya tahu bahwa saya bukan putri kandungnya, dan saya datang kemari ingin bertanya pada Ibu."


Deg!


Ibu Lasmi terkejut, bayi kecil yang di tinggal orang tuanya di teras panti asuhan kini sudah dewasa tumbuh menjadi wanita cantik.


"Kamu, Heena?" Mata Ibu Lasmi berkaca-kaca.


Heena mengangguk, sesaat kemudian keduanya berpelukan, Ibu Lasmi menangis haru bisa bertemu dengan bayi kecilnya dulu.


Ibu Lasmi mulai menceritakan tentang cerita Heena yang bisa berada di panti asuhan.


Saat itu Ibu Lasmi sedang mau menghidupkan lilin, karena mati lampu serta di luar hujan deras. Namun saat Ibu Lasmi berjalan dari arah dapur mau ke kamar, tiba-tiba samar-samar mendengar suara tangis bayi.


"Lalu tangis siapa?" gumamnya lirih.


"Ada apa, Bu?" tanya Ibu Wati yang dari kamar anak-anak.


"Ada suara tangis bayi, Bu."


"Bayi," ulang Ibu Wati dengan kening berkerut.


Dan benar saja, baru saja Ibu Wati berhenti berucap suara tangis bayi semakin kencang.


Dengan perasaan takut, Ibu Lasmi dan Ibu Wati berjalan ke arah sumber suara, di tambah cuaca di luar hujan deras.


Suara bayi semakin terdengar saat Ibu Lasmi dan Ibu Wati sampai dekat pintu ruang tamu.


Dengan segera mungkin Ibu Lasmi langsung membuka pintu, dan seketika matanya langsung membola saat melihat bayi kecil yang tergeletak di teras hanya dibungkus kain tipis.


Dengan segera Ibu Lasmi menggendong dan membawanya masuk. Merawat bayi kecil itu hingga usianya tiga bulan, tiba-tiba ada sepasang suami istri yang bernama Ibu Jamilah beserta suaminya ingin meng adopsi anak, dan keinginannya jatuh pada Heena kecil saat itu.


Mulai sejak itu Heena menjadi putri Ibu Jamilah dan suaminya.


Kembali waktu saat ini.


Heena mengusap sudut matanya yang basah, mendengar cerita Ibu Lasmi barusan berarti Ibu Lasmi juga tidak tahu siapa orang tua kandungnya.


Ibu Lasmi juga menceritakan, tentang bagaimana Ibu Jamilah dan suaminya meng adopsi Heena, karena memang sangat menginginkan seorang bayi.


Dari cerita itu Heena berterimakasih karena Ibu Jamilah selaku Ibu angkat telah mau membesarkannya, dulu memang baik dan sayang, perubahannya setelah Papanya meninggal, bila dibilang bukan orang tua kandung, Heena masih belum percaya, karena memang dahulu benar-benar sayang.


Setelah urusannya selesai Heena pamit ijin pulang. Keduanya saling berpelukan sebelum ahirnya Heena benar-benar pergi, Ibu Lasmi melihat punggung Heena yang berjalan semakin menjauh.


Heena langsung naik mobil saat taksi online yang ia pesan sudah sampai, dalam perjalanan menuju rumah, Heena menangis seraya menatap jalanan luar.


Bisa dibilang dari sejak lahir hidupnya sudah menyedihkan, pikiran Heena teringat semua berawal dari papanya yang meninggal, kemudian harus putus dengan Aldebaran, dan terpaksa menikah dengan Michael, bahkan mendapat penghianatan dari pria itu serta pernikahan yang tidak bisa di pertahankan. Dan sekarang jauh dari putra kesayangannya.


Heena menangis pilu di dalam mobil, sopir taksi sedikit prihatin melihat Heena yang menangis.


Air mata yang terus mengalir tanpa bisa ia bendung, lebih baik tidak tahu kenyataan, dari pada setelah tahu ternyata membuat hati semakin sakit.


Ingin rasanya Heena bertanya mengapa di buang, apa salahnya. Namun pertanyaan itu hanya ada dalam emosinya, karena tidak tahu harus bertanya pada siapa.


Heena masih terus menangis terisak, tidak bisa digambarkan kerapuhannya saat ini, hanya punya diri sendiri tanpa satu pun orang yang menguatkan dirinya.


Terkadang kakinya lelah untuk melanjutkan hidup, ingin rasanya menyerah, namun teringat lagi masih memiliki anak yang berharap dirinya tetap ada.


Teringat Yusuf, Heena langsung mengusap air matanya dengan kasar, semua sudah terjadi hanya bisa mengikhlaskan.


Heena beralih menatap langit-langit mobil seraya bersandar, hati dan pikirannya akan berusaha untuk kuat dan bisa melanjutkan kembali hari-harinya.


Heena terus berpikir langkah-langkah yang akan ia ambil, ia juga sekedar wanita biasa yang berusaha terlihat tegar dan kuat, namun jauh dari lubuk hatinya yang paling dalam, Heena juga ingin seperti wanita beruntung yang lainnya juga.


Sampai tubuhnya terasa menghangat, lama kelamaan Heena tertidur karena lelah.


Tiga jam perjalanan kini sudah sampai di rumah Heena, Heena terbangun lalu ke luar mobil, tidak lupa membayar tagihannya dahulu.


Sampai dalam rumah, Heena langsung menuju kamar dan mandi, setelah itu ia berbaring merasa kepalanya pusing.