HEENA

HEENA
BAB. 85. diam-diam mencintai.



Orang itu adalah Rengky, dia penasaran dengan wanita yang katanya adiknya Heena.


Dan dari tempat sini, Rengky bisa melihat Ayunda yang terlihat sangat cantik. Rengky keningnya berkerut karena ingin mendengar apa yang mereka sedang bicarakan.


Dan baru pergi, saat Ayunda sedikit menoleh ke arah ia berdiri.


Heena dan Ayunda masih saling memeluk, sampai rasa rindu pada keduanya sudah mulai terobati.


"Kak, maaf bila aku kepo, ini rumah siapa? kenapa Kak Heena bisa pindah ke sini?" tanya Ayunda ahirnya, setelah menahannya sedari tadi.


Heena kemudian menceritakan semua dari awal, dari beberapa pria yang mau menculiknya, lalu Aldebaran datang dan menolongnya, dan setelah itu Heena diminta untuk tinggal di sini.


Mendengar cerita Heena, Ayunda mengangguk mengerti, ia baru tahu ternyata hidup kakaknya penuh bahaya, sampai kakaknya mau diculik, dirinya tidak tahu, Ayunda merasa bersalah.


Ayunda menggenggam tangan Heena, dan menatap memohon ke arah Heena. "Kak maafkan aku ya bila tidak perhatian sama Kakak, sampai Kakak mau di culik."


Ayunda benar-benar merasa bersalah, sampai ia menangis, Heena menghapus air mata Ayunda.


"Sudah tidak apa-apa, sekarang Kakak sudah aman di sini."


Setelah berkata seperti itu Heena dan Ayunda kembali berpelukan, kemudian pelayan datang memberitahu makan siang sudah siap.


Heena kemudian mengajak Ayunda untuk ikut makan siang bersama. Yang ternyata cuma Heena dan Ayunda yang makan siang, yang lain katanya lagi pada tidur.


Heena sempat mau memanggil Aldebaran, namun pria itu juga tidur, Heena bisa melihat wajah kelelahan Aldebaran, Heena tidak jadi membangunkan, kemudian ia ke luar lagi dari kamar.


Ahirnya makan siang dilewati hanya berdua bersama adiknya, mereka berdua sambil cerita-cerita masa lalu saat masih dalam satu rumah, saat Ayah masih ada dulu.


Berbicara Ayah, jadi rindu, Heena kepikiran akan mengunjungi makam Ayahnya nanti, Ayunda setuju dengan usul Heena, ia juga ingin ikut katanya.


Dan setelah selesai makan siang, Heena dan Ayunda langsung ingin pergi menuju makam Ayahnya, setelah taksi online sampai, Heena dan Ayunda langsung masuk ke dalam mobil.


Setelah menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit, mobil sampai di area makam.


Heena tidak lupa membeli bunga dulu di penjual yang berjualan di dekat makam, Heena dan Ayunda kemudian berjalan memasuki makam.


Sampai di tempat pusara Ayahnya, Heena dan Ayunda menangis, rindu dan sedih menyatu, Ayahnya pergi sewaktu Heena dan Ayunda masih kecil, yang masih sangat membutuhkan sosok seorang Ayah.


"Ayah, Heena datang bersama Ayunda, kami berdua kangen sama ayah." Heena dan Ayunda menangis, seraya menabur bunga, dan setelah itu membacakan doa untuk Ayahnya.


Heena menyentuh batu nisan Ayahnya, mengusap sambil membersihkan, lalu mengecupnya dengan begitu dalam.


Saat Heena mengecup batu nisan Ayahnya sambil memejamkan mata, Heena menangis sampai tubuhnya bergetar hebat. Ayunda menenangkan Heena, mamang pasti akan tetap selalu sedih bila mengingat ditinggal pergi selamanya oleh orang yang disayangi.


Setelah mengatur nafas untuk lebih tenang, Heena dan Ayunda kembali pulang. Ayunda mengantar Heena pulang lebih dulu, baru ia pulang ke Apartemennya.


Tepat pukul lima sore, Heena sampai rumah, Yusuf sudah bangun, yang saat ini sedang duduk di pangkuan Ane.


Sore ini Yusuf dan Ane akan kembali pulang, karena besok harus sekolah, Heena mencium pipi Yusuf berkali-kali, sebelum ahirnya Yusuf pulang diantar oleh Aldebaran.


Yusuf dan Ane sudah masuk ke dalam mobil, Aldebaran masih berdiri di samping pintu. "Kamu yakin tidak mau ikut?"


Mendengar pertanyaan dari Aldebaran, Heena tersentak kaget, karena tadi sempat melamun.


"Apa boleh?" tanya polos Heena.Yang langsung membuat Aldebaran menghela nafas panjang. "Masuk."


Heena langsung cepat-cepat masuk ke dalam mobil, bersamaan itu Aldebaran juga masuk ke dalam mobil, mobil kemudian melaju menuju tempat tujuan.


Yusuf senang saat Mamanya ikut mengantar ia pulang, Aldebaran sengaja mengantar karena ingin memastikan keselamatan mereka.


Setelah beberapa menit, mobil sampai di tujuan, Yusuf bersalaman dulu dengan Mamanya, Heena kembali mencium pipi Yusuf, tidak lupa juga bersalaman dengan Om Aldebaran, setelah itu Yusuf dan Ane masuk ke dalam rumah.


Setelah memastikan, mereka masuk ke dalam rumah, Heena dan Aldebaran kembali melajukan mobilnya.


Waktu terus berputar hingga kini berganti malam, tepat pukul delapan malam Michael pulang dari kantor.


Michael masuk ke kamar putranya, ingin bertanya kabar dan keadaannya hari ini, meski hari ini adalah ahir pekan, Michael tetap bekerja, berawal dari nol lagi membuatnya harus bekerja keras.


"Papa ..." teriak Yusuf yang saat ini sedang duduk di atas ranjang. Michael berjalan mendekat, lalu duduk di samping putranya.


Michael mengusap kepala Yusuf. "Sayang gimana kabar kamu hari ini?"


"Baik, Pa?" ucapnya seraya memeluk Papanya.


"Papa, mama punya lumah balu," ucapnya lagi, yang langsung membuat Michael menatap wajah putranya.


"Maksudnya mama sudah pindah." Michael memastikan.


Yusuf mengangguk, dan seketika Michael bertanya-tanya dalam hati, kenapa Heena pergi dari rumah yang ia belikan dulu, tidak mungkin akan bertanya dengan Yusuf, pasti putranya tidak tahu.


Ahirnya Michael memutuskan untuk mencari tahu besok, dan malam ini ia akan habiskan untuk beristirahat, karena kerja keras, tidak hanya menguras tenaga tapi juga menguras pikiran. Michael selalu tidur di kamar Yusuf, mereka tidur dengan saling berpelukan melewati malam dengan mimpi indah.


Dan saat pagi tiba, rasa tubuh lebih fresh. Bila Yusuf sudah rapi dengan seragam sekolahnya, Michael juga sudah rapi lengkap dengan pakaian kerja.


Saat ini mereka sedang sarapan bersama, Yusuf yang sarapan di suapi Ane, sebenarnya Michael ingin bertanya lagi dengan Putranya, bahwa Heena tinggal sama siapa, atau hanya tinggal sendiri, tapi melihat Ane duduk di sebelah putranya, Michael milih mengurungkan semua itu.


Dan akan mencari tahu sendiri, entahlah perasaan Michael tidak enak, ada rasa tidak terima saat tahu Heena pindah rumah, meski apa yang ia rasakan ini salah, tapi entah mengapa? apa karena dirinya berharap ada kesempatan kedua.


Yang pasti saat ini Michael hanya ingin bertemu Heena. Ingin bicara suatu hal dengan wanita itu, yang diam-diam ia cintai.


Pagi itu Michael mengantar Yusuf sekolah lebih dulu, kemudian ia mengendarai mobil menuju tempat kerja Heena.


Sampai di perusahaan D.A. Corp. Michael menghentikan mobilnya, kemudian berjalan ke arah pintu masuk, dan setelah di buka oleh seorang wanita, Michael menanyakan nama Heena, namun kenyataan yang ia dapat Heena sudah lama tidak bekerja.


Michael terdiam memikirkan solusi untuk bisa bertemu Heena, sesaat kemudian Michael langsung berjalan cepat menuju mobil, saat ingat seseorang yang pasti bisa menjawab pertanyaannya.