HEENA

HEENA
BAB 136. "Berhentilah."



Kedua orang tersebut adalah Mala dan putranya Rexci, mereka berdua membahas soal nanti, malam bulan purnama.


Rexci meminta Ibu dan Ayahnya untuk menghentikan semua ini, jangan mengorbankan siapa pun yang tidak bersalah, biarlah dirinya saja yang pergi.


Namun Mala tidak terima penolakan putranya, karena tidak ingin kehilangan putranya, dan dirinya sudah sejak lama merencanakan semua ini, untuk menggantikan Rexci dengan Heena.


Rexci yang kesal dengan Ibunya yang tetap ingin melanjutkan rencananya bersama sang Ayah, langsung pergi begitu saja meninggalkan Ibunya di ruang tersebut.


"Rexci ... Rexci!"


Arghhhh!


Teriak Mala memanggil putranya dan frustasi, saat Rexci tetap pergi tidak menghiraukan panggilannya.


Mala duduk di sofa yang ada di ruangan tersebut, menenangkan hatinya yang terasa kesal, karena putranya tidak mau menurut. Tanpa terasa sudut matanya mengeluarkan cairan bening, sungguh Mala tidak sanggup bila harus kehilangan Rexci.


Dan kini tekadnya sudah bulat, bahkan akan tetap melanjutkan rencananya itu.


Di kamar Ibu Tiara, Heena saat ini sudah bangun dari tidurnya, membuka handphone ada panggilan masuk tidak terjawab dari Aldebaran, Heena membuka pesan masuk dari Aldebaran.


Ternyata Heena diminta untuk datang ke perusahaan, Aldebaran menunggunya di sana.


Karena Ibu Tiara masih tidur, Heena titip pesan pada Leha untuk menyampaikan pada Ibu Tiara, bila dirinya akan keluar sebentar.


Setelah itu Heena berjalan masuk ke dalam kamarnya, untuk mengambil tas nya, saat ini pukul dua siang, Heena berjalan menuju luar rumah, sampai di teras Heena bertemu satpam yang mengatakan mobil taksi pesanan atas nama Heena sudah tiba.


Heena kemudian berjalan menuju gerbang, satpam membuka gerbang, Heena tersenyum kemudian melangkah keluar gerbang, lalu masuk ke dalam mobil taksi tersebut.


Mobil taksi melaju meninggalkan area perumahan itu dan memasuki jalanan raya.


Dalam waktu kurang lebih empat puluh menit, mobil taksi yang ditumpangi Heena sampai di perusahaan Al-Gazali Group.


Sampai di ruang kerja Aldebaran, Heena di sambut oleh suaminya, Aldebaran langsung memeluk Heena, seperti orang yang sangat merindukan istrinya karena tidak lama bertemu.


Aldebaran memeluk Heena seraya dusel-dusel menciumi rambut Heena, Heena jadi geli dan hanya tertawa.


Puas memeluk Heena sambil berdiri, kini Aldebaran membawa Heena duduk di sofa.


Tidak lama kemudian Dika dan Govi masuk ke dalam. Karena Aldebaran yang minta.


Semuanya kini sudah duduk, Heena lalu menceritakan dirinya bila nanti di waktu malam bulan purnama akan menemani Ayahnya.


Aldebaran yang mendengar itu tidak masalah, namun dirinya bersama dua orang kepercayaannya akan berjaga-jaga.


Meminta Dika dan Govi harus siap di rumah Tuan Bara pada saat malam bulan purnama nanti, karena untuk berjaga-jaga bila akan terjadi hal buruk pada Heena.


Dika dan Govi mengangguk siap, Aldebaran meyakinkan Heena untuk tidak khawatir, bahwa semuanya akan baik-baik saja.


Heena tidak langsung pulang setelah pembicaraannya dengan Aldebaran selesai, Heena terus menemani Aldebaran sampai pria itu selesai bekerja.


Tepat pukul setengah sembilan malam, Aldebaran dan Heena sampai di rumah Tuan Bara.


Saat baru masuk ke dalam rumah, tiba-tiba dikagetkan dengan kedatangan Mala. "Baru pulang." Mala bertanya sinis.


Heena hanya menjawab dengan anggukan kecil, Mala semakin berdecak kesal, entahlah dirinya hanya pura-pura baik dengan terpaksa.


Mala kemudian mempersilahkan Heena dan Aldebaran masuk, sementara dirinya duduk di kursi ruang tamu, menjatuhkan tubuhnya di kursi dengan kasar.


Tanpa siapa pun orang lain tahu, bahkan Tuan Bara juga tidak tahu, bahwa selama ini Mala yang telah mengganti obat untuk Ibu Tiara sampai wanita itu kini lumpuh.


Tentu semua orang tidak tahu, karena yang datang ke sini adalah dokter suruhan Mala, dirinya sengaja berbuat seperti itu karena ingin berkuasa di rumah ini.


Tidak perlu membunuh, cukup menyiksa Ibu Tiara, bagi Mala sudah cukup, karena sakitnya itu perlahan-lahan akan membuat Ibu Tiara mati pikirnya.


Caranya yang licik dan aman, membuat semua orang tidak akan mengetahui kejahatannya.


Heena saat ini sedang memperhatikan apa yang sedang Aldebaran lakukan, Aldebaran membawa alat deteksi penyadap suara.


Aldebaran terus berjalan dengan membawa alat deteksi tersebut, tiba-tiba alat deteksi tersebut berbunyi tanda ada chip penyadap suara di tempat tersebut.


Dan setelah melakukan pencarian lagi, kini Aldebaran mendapat empat chip, yang saat ini sudah ada di genggaman tangannya.


Aldebaran segera merusak chip tersebut hingga tidak berfungsi lagi.


Kini keduanya sama-sama duduk di pinggiran ranjang, Heena memeluk Aldebaran, tangan Aldebaran melingkar di pundak Heena.


Keduanya sama-sama saling diam, bila Aldebaran akan lebih hati-hati tinggal di rumah ini, berbeda dengan Heena, wanita itu merasa sangat sedih.


Tinggal di rumahnya harusnya tenang malah mendapatkan ketidak tenangan. Semua terasa aneh, bila seperti ini rasanya jadi rindu dengan Bibi Sekar.


Heena mendongakkan kepalanya menatap wajah Aldebaran. "Sudah boleh bicara."


Aldebaran terkekeh mendengar pertanyaan Heena. "Sudah, mau bicara pa, hem."


"Coba telfon bibi Sekar, aku pengen ngobrol sebentar," pinta Heena dengan memohon.


Aldebaran ahirnya menghubungi Bibi Sekar, sambungan telepon diangkat, dan langsung mendengar suara Bibi Sekar di sebrang sana.


"Halo."


"Bibi apa kabar?" tanya Heena.


"Baik sayang, kapan kalian mau pulang?"


"Belum tahu bibi, tapi kita usahakan cepat pulang," jawab Heena.


"Baiklah Bibi Tunggu, jangan lama-lama."


"Siap, bibi?" sarkas cepat Heena.


"Ya sudah tidurlah sudah malam."


"Ok bibi, selamat malam," ucap Heena, yang dijawab selamat malam juga oleh Bibi Sekar.


Setelah itu Heena dan Aldebaran bersiap untuk istirahat malam.


Namun di tempat lain, saat ini seorang pria tengah gusar, saat mengecek hp nya sambungan penyadap suara di kamar Heena tidak aktif.


"Aku jadi tidak tahu apa yang mereka bicarakan." Tuan Bara mengusap wajahnya dengan kasar.


"Tapi aku berharap mereka patuh dan tidak merencanakan sesuatu, karena ritual besok harus berjalan lancar," ucap Tuan Bara lagi sembari menatap layar hp nya.


"Maafkan Ayah sayang, Ayah terpaksa melakukan ini, Ayah sayang kmu juga ibumu, sekali lagi maafkan Ayah sayang." Tuan Bara melihat foto Heena di layar hp nya.


"Mas."


Suara Mala yang memanggil namanya, membuat Tuan Bara segera keluar dari ruang itu, dan menemui Mala.


Kemudian mereka berdua berjalan menuju suatu ruangan, melewati jalanan yang gelap, yang harus menggunakan senter untuk jadi penerang jalan.


Besok malam adalah malam bulan purnama, Tuan Bara bersama Mala saat ini sedang bersiap.


Di malam hari saat semua orang sudah tertidur, karena tidak ingin ada yang melihat.


"Berhentilah."


Tuan Bara dan Mala langsung balik badan melihat siapa orang yang barusan bicara.


Deg!