
Pagi ini pukul sembilan pagi, Heena dan Aldebaran pindah rumah, keadaan Heena udah jauh lebih baik, jadi pagi ini udah bisa diajak pindahan.
Paman Syafiq dan juga Bibi Sekar membantu acara pindahan Aldebaran, hanya membawa barang-barang milik Aldebaran dan juga Heena.
Setelah semua masuk ke dalam mobil, tanpa ada yang tertinggal, mobil pun kemudian melaju.
Bibi Sekar dan Paman Syafiq mengendari mobil sendiri, sementara Heena satu mobil dengan Aldebaran.
Menempuh perjalanan tiga puluh menit, kini sudah sampai tujuan. Mobil langsung masuk ke pelataran rumah setelah gerbang di buka.
Heena yang baru keluar dari dalam mobil, seketika matanya berbinar melihat taman bunga yang ada di halaman rumah.
"Bagaimana kamu suka?" tanya Aldebaran seraya merangkul pundak Heena dan mencium pipi Heena.
"Suka sayang, ini bagus sekali," ucap Heena dengan mata terpancar kagum.
"Berati aku dapet hadiah juga dong dari kamu, kan aku sudah bekerja keras," bisik Aldebaran di telinga Heena, yang langsung mendapat cubitan kecil dari Heena.
Bibi Sekar yang melihat tingkah keharmonisan keduanya hanya bisa tersenyum, kemudian semuanya berjalan masuk ke dalam.
Tidak hanya Heena, Bibi Sekar juga terpaku melihat rumah Aldebaran yang bagus, lukisan yang bagus-bagus, hiasan-hiasan yang lainnya juga bagus.
Heena bingung saat melihat semua lantai digelar karpet yang tebal, bahkan saat ini matanya juga melihat di tangga juga digelar karpet.
"Al, mengapa semua lantai harus di gelar karpet?" tanya Heena menuntut jawaban.
"Karena kamu sedang hamil, dan aku tidak ingin kamu dan calon anak kita jatuh atau pun terpeleset," terang Aldebaran yang seketika membuat Heena terharu. Tidak menyangka bila Aldebaran berpikir sampai sejauh itu.
Semenjak Heena hamil, Aldebaran berubah menjadi protektif, semua lantai menggunakan alas karpet tebal, meja yang bersudut Aldebaran simpan, dan menggunakan meja yang bulat, sepatu dan sendal Heena semua baru tanpa hak tinggi.
"Dan sebentar lagi aku akan membuat lift di rumah ini," ucap Aldebaran sembari mengajak Heena terus berjalan melihat-lihat sisi rumah.
"Itu tidak perlu sayang," ucap Heena, karena apa yang Aldebaran beri saat ini itu sudah cukup baginya.
Aldebaran tidak menjawab lagi, baginya melakukan semua yang terbaik buat Heena tanpa harus ijin dulu.
"Al, kolam renang kamu luas juga." Bibi Sekar membuka suara setelah diam saja sedari tadi.
"Iya, Bibi bila mau berenang juga boleh," ucap Aldebaran seraya terkekeh.
"Hah, Bibi kalo berenang langsung masuk angin," ucap Bibi Sekar sembari menggelengkan kepala.
"Nostalgia, Bibi bersama Paman," ucap Heena yang ikut menggodai Bibi Sekar.
"Mau renang, ayo aku temani," ucap Paman Syafiq seraya memegang pundak Bibi Sekar.
"Iih, Papa apa an sih?" suara manja Bibi Sekar menolak ajakan Paman Syafiq.
Semua jadi tertawa bersama.
Setelah itu berganti melihat tempat lain, semua tempat yang ada di rumah ini, Aldebaran menunjukan semua pada Heena juga pada Bibi Sekar dan Paman Syafiq.
Setelah tiba siang hari, semua makan siang bersama, di rumah ini sudah ada pelayan, jadi sudah lengkap dan tidak repot lagi.
Siang itu setelah selesai makan, Bibi Sekar masih tinggal di rumah Heena, sedangkan Paman Syafiq pergi ke kantor, ada pekerjaan dikit yang harus dirinya selesaikan. Dan nanti saat pulang akan menjemput Bibi Sekar.
Sementara Rengky dan Ayunda hari ini penerbangan ke Bali, Ayunda tidak bisa pergi jauh, karena hanya mendapat cuti kerja bentar saja, bila ke luar negeri akan memakan waktu lama dan lelah.
Rengky dan Ayunda langsung menuju hotel tempat mereka berdua beristirahat.
Siang ini keduanya hanya bersantai, baru malam harinya Rengky dan Ayunda makan malam di luar.
Di sebuah restoran yang indah, bersama alunan musik dansa, Rengky dan Ayunda berdansa bersama, menikmati setiap bunyi musik yang terdengar menghanyutkan.
Selesai berdansa, Rengky dan Ayunda berlanjut makan malam, dengan menu khas Bali, di tempat ini banyak juga pengunjungnya.
Sembari makan bersuap-suapan, keduanya saling melempar senyum.
Hal bahagia juga tercipta di rumah Michael. Makan malam ini semua makan malam bersama, Nelly juga ikut makan di meja makan, celoteh Yusuf membuat makan malam jadi ramai.
Semenjak ada Nelly di rumah ini tidak lagi sepi, apa lagi Nelly juga akrab dengan Yusuf, dan melihat itu Michael jadi senang.
Setelah selesai makan, malam ini Yusuf ingin tidur ditemani Ane dan juga Nelly, mode manjanya kumat.
Sampai Yusuf tertidur, baru Ane dan Nelly kembali ke kamar, setelah itu Michael masuk ke dalam, karena memang setiap malam Michael selalu tidur bersama Yusuf.
Sementara Rengky saat ini dan Ayunda juga sudah pulang menuju hotel, setelah selesai mandi, mereka berdua juga langsung tidur, karena lelah.
Sedangkan Heena dan Aldebaran saat ini masih belum tidur. Sembari berpelukan, Aldebaran mengusap punggung Heena.
Saat ini adalah hari pertamanya tidur di rumah baru, Dao dalam hati Aldebaran berharap bisa betah tinggal di sini.
Heena saat ini tidak bisa tidur, sudah berusaha memejamkan matanya namun juga belum mau terpejam.
Aldebaran bernyanyi supaya Heena bisa tidur, namun Heena malah tertawa dikira anak kecil,
ahirnya keduanya saling mengobrol sampai tidak terasa ahirnya Heena tertidur juga.
Tapi Aldebaran masih terjaga, Aldebaran menciumi perut Heena yang masih rata, Aldebaran merasa sayang dengan calon anaknya.
Tiba-tiba Heena terbatuk-batuk, Aldebaran langsung memberinya air minum, setelah minum, Heena sedikit baikan, kemudian kembali tidur lagi, Aldebaran juga ikutan mau tidur, mencium bibir Heena dan memeluk Heena, kemudian memejamkan matanya.
Setelah malam terlewati, pagi pun tiba.
Heena sudah bangun lebih dulu, pagi ini tiba-tiba ingin memasak.
Aldebaran yang baru bangun tidur tidak ada Heena di sampingnya, langsung mencari wanitanya.
"Sayang!" teriak Aldebaran seraya terus berjalan menapaki anak tangga.
Sampai lantai satu tidak melihat Heena, samar-samar mendengar suara alat masak beradu di dapur, sampainya Aldebaran tiba di dapur, langsung mencium aroma masakan yang lezat.
Aldebaran menghirup dalam-dalam aroma wangi masakan itu, seraya berjalan mendekati wanita yang saat ini tengah fokus dengan pekerjaannya.
"Kenapa kamu memasak?" tanya Aldebaran sembari memeluk Heena dari belakang.
Heena hampir aja mau memukul kepala Aldebaran dengan sutil yang ia pegang karena terkejut, bila tidak segera mendengar suara pria itu.
"Aku pengen sarapan dengan masakan aku sendiri," ucap Heena seraya balik badan lalu mencium bibir Aldebaran sekilas.
Heena membawa Aldebaran untuk duduk. "Duduklah di sini dengan tenang, karena aku mau menyelesaikan masakan aku," ucap Heena dengan tersenyum manis.
Aldebaran mempersilahkan, duduk manis seraya terus memandangi Heena yang lagi masak.