HEENA

HEENA
BAB 102. Mengusap dadanya lega.



Semua orang sudah ke luar sejak lima menit yang lalu, sekarang hanya ada Ayunda dan dua perawat yang membantu di ruangan itu.


Ayunda fokus memeriksa keadaan Rengky, meletakkan stetoskop di dada Rengky untuk mengetahui keadaan organ dalamnya, juga memeriksa bagian lainnya, yaitu bagian tangan dan juga mata.


Rengky terus memperhatikan apa saja yang dilakukan Ayunda, tanpa Ayunda sadari bahwa Rengky sedari tadi terus menatapnya lekat, tatapan yang berbeda dengan para pasien yang biasanya.


Setelah selesai memeriksa, Ayunda mengatakan keadaan cukup membaik, Ayunda memberi tahu pada perawat untuk mencatatnya.


Ucapan lembut dan senyum manis itu tertangkap mata Rengky, rasanya ada bagian hatinya yang terasa damai saat melihat senyum itu.


Rengky masih terus memperhatikan Ayunda, wajahnya yang cantik dan seperti terlihat senyum terus, tanpa menganggap ada dua perawat yang juga ada di ruangannya.


Dua perawat yang melihat Dokter Ayunda diperhatikan terus oleh pasiennya senyum-senyum sendiri.


Sementara Ayunda tidak menghiraukan semua itu, yang ia lakukan adalah kerja profesional, karena tugasnya sudah selesai Ayunda ingin pergi dari ruangan itu dan untuk memeriksa keadaan pasien yang lainnya juga.


"Tuan, kami pamit, istirahatlah supaya Tuan segera sehat." Ayunda bicara dengan tersenyum, kemudian menunduk. Yang diikuti juga oleh dua perawat.


Ketiganya mau melangkah pergi, namun tangan Rengky tiba-tiba menahan pergelangan tangan Ayunda. "Bisa aku bicara sebentar."


Dua perawat yang mendengar, kembali senyum-senyum lagi, sementara Ayunda yang tadi sudah berdiri memunggungi Rengky, kini balik badan dan kembali menatap Rengky tanpa ada perasaan curiga, karena hal biasa bila pasien ingin menanyakan keadaannya.


Ayunda melihat tatapan Rengky yang melihat dua perawat yang masih berdiri di samping Ayunda, Ayunda yang mengerti arti maksud Rengky, kemudian meminta dua perawatnya untuk pergi.


Sekarang tinggal hanya Ayunda dan Rengky, Ayunda masih setia berdiri menunggu Rengky bicara, ia sengaja tidak duduk karena berpikir Rengky akan bicara sebentar. Namun ternyata pikirannya salah.


"Duduklah," titah Rengky yang melihat Ayunda, kemudian menunjuk kursi di samping ranjangnya melalui ekor mata.


Ayunda menurut, karena baginya pasien adalah raja, setelah Ayunda duduk sempurna, ia merasa bingung karena Rengky hanya diam saja dan malah hanya terus menatapnya.


"Maaf apa kah ada yang dapat saya bantu, Tuan?" tanya Ayunda ahirnya setelah menunggu Rengky hanya diam saja.


Ternyata Rengky masih setia dengan diamnya, Ayunda sampai bingung dengan pria yang berbaring di hadapannya itu, merasa harus segera memeriksa pasien lain, Ayunda kembali bersuara.


"Tuan, bila tidak ada yang akan Anda bicarakan, saya pamit dulu karena ada pasien yang harus saya periksa," jelas Ayunda dengan ramah disertai senyum manis.


Dan mendengar kalimat Ayunda yang mau pergi dari ruangannya, Rengky langsung bicara. "Berapa hari aku akan berada di rumah sakit?"


"Jika keadaan Tuan semakin membaik, mungkin tiga hari lagi Tuan sudah boleh pulang." Ayunda tersenyum.


"Jika begitu aku mau kamu yang merawat aku, aku tidak mau dokter yang lain atau perawat yang lain." Rengky bicara serius mode seorang Tuan Muda yang suka memerintah keluar.


Ayunda tersenyum dan menjelaskan situasi yang dirinya hadapi. Maaf Tuan bila saya sedang tidak sibuk pasti saya yang akan datang kemari untuk memeriksa keadaan Tuan, tapi ... bila saya sibuk maka yang lain yang akan menggantikan saya, Tuan."


Ayunda tersenyum lagi. "Maaf Tuan tidak perlu Anda bayar karena saya sudah mendapat gaji." Ayunda menjeda ucapannya dan menghela nafas panjang. "Baik Tuan saya akan merawat Anda?" terang Ayunda ahirnya karena merasa pembicaraan ini harus segera selesai.


Setelah Rengky percaya, Ayunda pamit ijin untuk pergi dari ruangan.


Di luar setelah membuka pintu, bertemu Kak Heena dan keluarga yang lain. Ayunda menunduk hormat sebelum ahirnya pamit injin pergi, sekeluarga Rengky sudah tahu keadaan Rengky dari dua perawat yang ke luar lebih dulu tadi.


Bibi Sekar dan Paman Syafiq masuk lebih dulu, Heena masih berdiam diri seraya menatap ke arah yang Ayunda lewati.


Heena merasa aneh saat Ayunda tertahan di dalam cukup lama, lima belas menit Ayunda di dalam sana berdua sama Rengky, Heena menerka-nerka kira-kira apa yang mereka berdua bicarakan, dan saat Ayunda ke luar ruangan tadi, wajahnya sedikit beda, entah karena lelah atau kerena masalah yang lain.


Heena akan mengajak Ayunda bicara nanti, lamunan Heena terbuyarkan saat Aldebaran menyentuh lembut lengannya, Heena tersenyum kemudian berjalan masuk bersama.


Saat ini Rengky sedang bicara dengan Mamanya dan Papanya, sesekali Aldebaran juga Heena ikut bicara bersama.


Melihat keadaan putranya yang baik-baik saja Bibi sekar merasa bahagia, terus berada di ruangan itu menemani Rengky, sampai tiba sore hari, Heena baru ada waktu untuk bicara dengan Ayunda.


Kini mereka berdua duduk di taman belakang rumah sakit, hal yang tadi membuat hati Heena merasa mengganjal, kini ia tanyakan pada Ayunda.


Ayunda kemudian menceritakan bila pasiennya yang bernama Rengky memintanya untuk merawatnya sampai sembuh, padahal kan tahu bila tugasnya di rumah sakit ini adalah sebagai dokter ahli bedah, tentu sangat sibuk, tidak bisa sekalipun di bayar mahal harus khusus merawat satu pasien, dan apa bila keadaan Rengky sudah membaik, itu bukan tugasnya lagi yang akan memeriksa.


Tapi saat Ayunda bicara keluhannya dengan pimpinan rumah sakit, ia baru tahu bahwa Rengky adalah putra pemilik rumah sakit ini, karena itu Ayunda mendapat ijin khusus untuk merawat Rengky sampai sembuh.


Ayunda menghela nafas dengan tatapan sendu melihat ke arah depan.


Heena tersenyum, sepertinya ia bisa menyimpulkan bahwa Rengky ingin terus bersama adiknya itu, dan kini Heena ingin memastikan sesuatu pada Ayunda lagi.


"Dek, kamu masih jomblo, kan?"


Mendengar pertanyaan Kakaknya Ayunda malah tertawa.


"Hahaha, selama ini kan aku pacarannya sama pekerjaan Kak, mana ada waktu aku pacaran dengan orang di luar sana." Ayunda bicara masih di sertai tawa yang ringan.


Heena terkekeh mendengar jawaban Ayunda, dan membenarkan semua perkataan Ayunda, bila adiknya itu memang buta kerja, selain profesinya sebagai dokter yang selalu dibutuhkan, Ayunda juga seorang pekerja keras yang mencintai pekerjaannya.


Dan di hari-hari selanjutnya Ayunda membuktikan ucapannya bila akan merawat Rengky sampai sembuh, karena sudah mendapat ijin dari pimpinan rumah sakit, jadi membuat Ayunda tenang dalam mengerjakan pekerjaannya kali ini, karena ini benar-benar jauh dari prediksinya bahkan tidak pernah menyangka bila akan menjadi perawat khusus untuk pasiennya.


Hubungan Rengky dan Ayunda semakin dekat, keduanya sering tertawa dan becanda bersama, di hari ketiga itu Ayunda membawa Rengky ke taman belakang rumah sakit, di sana Rengky tertawa terbahak-bahak mendengar cerita Ayunda yang entah sedang bercerita apa.


Seorang wanita paruh baya yang berdiri di samping tanaman yang tidak jauh dari mereka berdua, tersenyum melihat ke arah mereka, seraya mengusap dadanya lega.