HEENA

HEENA
BAB 162. Ijin pulang kampung.



"Tuan, ibu saya di kampung lagi sakit, hari ini juga saya minta ijin untuk pulang," ucap Ane yang bicara di sambungan telepon.


Di seberang sana Michael diam berpikir, pasalnya Ane sangat berpengaruh penting untuk mengurus rumah terutama Yusuf, jika wanita itu harus pulang kampung, Michael juga bingung harus bagaimana.


"Kira-kira kamu mau berapa hari di kampung?" tanya Michael di sambungan telepon.


"Bila ibu saya sudah sehat, dengan segera saya akan kembali, Tuan." Ane belum bisa menjawab harus berapa hari, karena namanya orang sakit kita juga tidak tahu kapan sembuh.


Michael belum memberi keputusan, saat ini masih berpikir untuk gimana baiknya, sementara Ane sudah menunggu jawaban Tuannya itu, setelah cukup lama berpikir, ahirnya Michael memberi keputusan.


"Baiklah kamu saya ijinkan pulang hari ini, tapi tolong segera kembali kasihan Yusuf," pinta Michael melalui sambungan telepon.


"Baik Tuan, Baik. Terimakasih banyak, Tuan." Ane begitu bahagia ahirnya mendapat ijin pulang, dan setelah itu sambungan telepon terputus.


Ane segera mengemasi baju-bajunya di masukkan ke dalam tas, tidak banyak hanya beberapa karena kan akan kembali lagi.


Sementara kabar Ane akan pulang kampung sudah Yusuf dengar, bocah kecil itu wajahnya tampak sedih, tidak rela bila pengasuhnya harus pulang kampung, meski alasannya mengunjungi ibunya yang sakit.


Yusuf yang baru tiba di kamar Ane, hanya berdiri di ambang pintu sembari melihat pengasuhnya itu yang sepertinya sedang sibuk mengemasi barang-barangnya.


"Ane ... Huhuhu." Yusuf menangis keras, Ane langsung menghentikan kegiatannya dan berjalan menghampiri Yusuf.


"Hei, Tuan Muda? Tuan Muda tidak boleh menangis," ucap Ane lembut sembari berdiri mensejajari tinggi Yusuf, dan menghapus air mata Yusuf.


Ane memeluk Yusuf, supaya bocah kecil itu tenang, Yusuf sudah seperti adiknya sendiri, Ane sangat sayang dengan Yusuf, sebenarnya juga berat bagi Ane harus pulang meninggalkan sang anak asuh, namun bagaimana ibunya di kampung lagi sakit.


Yusuf masih menangis di pelukan Ane, Ane melerai pelukannya dan mau mencoba menasehati Yusuf kembali.


"Ane tidak lama di kampung, Ane janji akan segera kembali setelah ibunya Ane sembuh," ucap Ane sungguhan seraya menatap mata Yusuf yang masih menangis, Ane mengajak Yusuf untuk saling menautkan jari kelingking bertanda janji.


Yusuf ahirnya mulai mengerti dan perlahan mengangguk, Ane mengucap syukur setelah Yusuf berhasil di bujuk, Yusuf masuk ke dalam kamar Ane, membantu Ane memasukkan baju ke dalam tas, tapi lucunya Yusuf masih saja tetap menangis.


Ane membiarkan Yusuf tetap menangis, mungkin itu sebuah rasa sayang Yusuf pada dirinya, selesai semua baju masuk ke dalam tas, Ane memeluk Yusuf kembali seraya mencium pipi Yusuf.


Ane menggandeng tangan Yusuf keluar kamar menuju halaman, sampai di sana Yusuf menangis sampai kencang tidak ingin Pengasuhnya pergi.


"Janji jangan lama-lama ... Huhuhu." Yusuf bicara diantara tangisannya, yang saat ini berada di pelukan Ane.


"Pasti Ane cepat kembali," ucap Ane sebelum ahirnya berpisah.


Yusuf berdiri di samping sopir yang selalu mengantar jemput sekolah Yusuf, terus menatap mobil yang membawa Ane pergi, sampai mobil tersebut hilang dari pandangan matanya.


Sang sopir mengajak Yusuf masuk ke dalam rumah, Yusuf yang lagi sedih, sebisa mungkin Nelly mau menghiburnya, kini Nelly sedang bernyanyi untuk Yusuf.