
Siang hari di gedung D.A Corp.
Asisten Dika masuk ke ruang CEO, di ruangan itu Aldebaran masih terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Menghentikan pekerjaannya sejenak lalu menatap Asisten Dika yang datang.
Asisten Dika mendekati Aldebaran dan membisikkan sesuatu di telinganya.
"Apa kamu yakin?" tanyanya yang langsung dijawab anggukan cepat oleh Asisten Dika.
Aldebaran mempercayai Asisten pribadinya itu, karena tidak pernah salah dalam memberikan informasi.
Aldebaran tentu marah saat mengetahui informasi tersebut, namun sebisa mungkin ia tahan, karena harus berpikir jernih dan tidak boleh terpancing emosi.
Asisten Dika kini berdiri di dekat meja depan Aldebaran, Aldebaran menatap Asisten Dika. "Segera kau urus semua, kita akan memulai rencana sekarang."
Asisten Dika mengangguk mengerti dan langsung pergi dari tempat tersebut.
Di sebuah Mansion, tepatnya di kamar yang luas serta mewah, wanita cantik bernama Mulan dia sangat senang, setelah barusan mendapat telepon dari Aldebaran, yang mengatakan akan bekerja di perusahaannya mulai hari ini.
Berpenampilan modis, Mulan ingin segera sampai di perusahaan untuk menyambut Aldebaran datang.
"Perfek." Menatap penampilannya di depan cermin, Mulan tersenyum. lalu berjalan ke luar kamar untuk berangkat ke kantor.
Di gedung D.A Corp. Aldebaran sedang mengumpulkan ketiga karyawannya.
"Mulai sekarang saya tidak lagi memimpin di sini secara langsung, tidak perlu saya berikan alasannya, Dika akan menggantikan saya selama saya tidak di sini."
Ungkapan Aldebaran jelas dan padat, langsung mendapat anggukan mengerti oleh Heena, Tia, dan Syifa.
Mereka bertiga kembali bekerja, sementara Aldebaran langsung meninggalkan ruangan tersebut, memakai kaca mata hitam lalu masuk ke dalam mobil dan melajukan ke tempat tujuan.
Di perusahaan Ayahnya Mulan, Mulan sudah berdiri di luar untuk menunggu Aldebaran datang, ia harus memberi kesan terbaik untuk menyambut kedatangan Aldebaran.
Aku tidak sabar bisa segera memilikimu Al, gumam Mulan seraya tersenyum menyeringai.
Mobil Aldebaran sudah sampai, pria itu ke luar mobil yang terlihat semakin tampan, dengan setelah jas bewarna hitam yang pas melekat di tubuh atletisnya.
Mulan menghampiri Aldebaran lalu melingkarkan tangannya di lengan kokoh Aldebaran, keduanya langsung berjalan bersama memasuki gedung perusahaan tersebut.
Pertama Mulan membawa Aldebaran bertemu Ayahnya.
"Ayah," ucapnya setelah masuk ke ruang Presdir, pria tua sekitar usia enam puluh tahun itu langsung meletakkan file yang berada di tangannya, saat mendengar ucapan putri tercintanya.
Kulit tua berkeriput wajahnya langsung menebar senyum saat melihat siapa yang datang bersama putri tercintanya.
"Aldebaran." Pria bernama Pak Muklis itu mengulurkan tangan mempersilahkan Aldebaran untuk duduk.
"Terimakasih, Om." Aldebaran juga tersenyum, lalu duduk di sofa panjang yang ada di ruangan tersebut, yang juga di ikuti oleh Mulan.
"Om, senang ahirnya kamu mau bekerja di perusahaan, Om," ucap Pak Muklis setelah duduk di sebelah Aldebaran.
"Sama-sama,Om. Al juga senang dengan tawaran kerja ini."
Tentu senang, karena kedatangan aku ke sini bukan dasar alasan kerja, tapi karena ingin menyelidiki kalian, apa kah ada hubungannya dengan kematian Papa. Aldebaran bicara dalam hati seraya tersenyum untuk menutupi rencananya.
"Sudah sewajarnya, Om membantu kamu, karena dahulu papa kamu pernah membantu, Om juga." Pak Muklis menghela nafas lega seraya tersenyum.
"Saat kerja di sini nanti bila kamu merasa kesulitan, kamu boleh bertanya pada, Om. Langsung atau bertanya sama, Mulan."
"Baik, Om."
"Ayah, Mulan antar Al, dahulu ke ruang kerjanya ya."
"Oh, ya silahkan, Nak."
Pak Muklis menghela nafas panjang melihat kepergian dua orang tersebut. Pak Muklis berdiri lalu balik badan berjalan ke arah jendela, menatap ke luar dengan pandangan mata bersalah.
Kesalahan yang selalu menghantui dirinya, bahkan membuat masa tuanya menjadi tidak tenang.
"Bagas, maafkan aku, aku benar-benar terpaksa."
Saat itu semua terjadi begitu saja, saat putrinya Mawar ingin memiliki Aldebaran hingga membuat Pak Muklis harus berbuat hal kotor.
"Ayah, Mulan hanya mau Aldebaran, Ayah." Mulan menangis pilu di bawah kaki Pak Muklis supaya mau membantunya.
"Apa yang Ayah bisa bantu, Mulan." Pak Muklis membuang wajah ke arah lain, tidak sanggup melihat putrinya sememohon itu padanya.
Mulan bangkit dari bersimpuh nya, ia menangis lalu mengarahkan pistol tepat pada kepalanya sendiri. "Lebih baik Mulan mati, Ayah. Bila harus melihat Aldebaran menikah dengan wanita lain." Mulan semakin menangis, yang langsung membuat Pak Muklis berdiri lalu mendekati Mulan dan memeluk putrinya itu.
"Jangan lakukan, Nak. Bila kamu pergi, lalu Ayah sama siapa, Nak."
Perlahan Mulan menurunkan pestol yang berada di tangannya, dan membalas pelukan Ayahnya.
Keesokan harinya Pak Muklis menemui anak buahnya yang sudah melakukan rencananya.
"Bagaimana?"
"Beres, Pak. Bentar lagi pasti akan ada berita di TV," ucap pria itu dengan wajah datar.
"Ini bayaranmu." Pak Muklis memberikan uang pada pria itu hasil pekerjaannya.
Pak Muklis pergi dari tempat itu, lalu berjalan ke arah mobilnya, dan benar saja tidak berselang lama ada berita kecelakaan Pak Bagas.
Deg!
Pak Muklis terkejut karena kecelakaan itu sangat tragis, pikirannya sangat takut bila Pak Bagas akan mati.
"Bagas, Bagas . Maafkan aku, Bagas." Pak Muklis menangis karena mengingat perbuatannya yang kejam telah membuat temannya sendiri celaka, niat hati ingin membuat celaka ringan tapi ternyata berujung maut, hatinya semakin menyesal yang ternyata Pak Bagas meninggal tidak tertolong.
Pak Muklis mengusap sudut matanya yang basah, ingatan lima tahun yang lalu melintas kembali di pikirannya.
Segera membuang pergi ingatkan itu lalu menyibukkan diri dengan bekerja lagi.
Di ruang yang lain.
Mulan menunjukan semua yang ada di ruang kerja Aldebaran.
Aldebaran menunjukan sikap hangat pada Mulan, yang langsung membuat hati wanita itu merasa bahagia.
"Al, aku pergi dulu, sampai bertemu nanti." Mulan tersenyum lalu pergi dari ruangan itu.
Senyum manis Aldebaran yang ia tunjukan berangsur-angsur berubah dingin, sorot mata tajam, meraih handphonenya lalu menghubungi seseorang.
Aldebaran mematikan sambungan telepon seraya tersenyum menyeringai.
Sore hari.
Cuaca sore ini sangat buruk, belum turun hujan tapi angin begitu kencang, Heena baru ke luar dari tempat kerjanya, langsung memasuki bus namun tanpa sengaja di pintu masuk naik bus, Heena bertemu Michael yang juga berdiri sama seperti dirinya.
Michael mengapa dia ada di sini, ini beneran dia atau hanya halusinasiku saja, batin Heena lalu menepuk pipinya, namun terasa sakit.
"Aww."
Michael terkekeh saat melihat tingkah Heena, melihat pria itu terkekeh, Heena melihat kearah lain saat menyadari pria itu beneran Michael, apa yang pria itu lakukan di sini pikirnya.
"Temui, Yusuf. Dia merindukanmu," bisiknya di telinga Heena, yang seketika langsung membuat dirinya teringat putranya, khawatir terjadi apa-apa.