HEENA

HEENA
BAB. 114. Mundur perlahan.



Disaat Aldebaran menatap Heena kasihan, Heena menatap Aldebaran dengan perasaan tidak enak hati, bercampur bingung mengapa sandwich yang ia buat rasanya jadi asin.


Padangan keduanya teralihkan ketika mendengar suara Yusuf.


"Ma, Om. Pulang sekolah aku mau main ke taman." Yusuf menatap keduanya dengan tersenyum.


Heena kembali duduk. "Iya nanti Mama temani." Mengusap punggung Yusuf.


"Tapi aku mau Om Al juga." Yusuf beralih menatap Om Al, dengan berharap.


"Tapi-."


"Aku bisa."


Ucap Heena dan Aldebaran bersamaan, Heena menatap Aldebaran, pria itu mengangguk berarti tidak masalah, Heena tersenyum dan beralih menatap Putranya.


Pagi itu Aldebaran kembali mengantar Yusuf ke sekolah, dan setelah itu ia langsung menuju tempat kerja.


Jam sepuluh Aldebaran akan kembali menjemput Yusuf, jadwal meeting yang seharusnya jam sepuluh dimulai, Aldebaran meminta untuk dimajukan.


Hari ini meeting terbilang paling pagi, karyawan dan bagian staf yang terlibat ikut meeting sampai dibuat kalang kabut.


Karena jadwal meeting yang dimajukan, dan untungnya saat Aldebaran masuk ke ruang meeting, berkas yang diperlukan sudah siap.


Meeting dimulai, bagian manager menjelaskan tentang peluncuran produk baru.


Bicara bicara dari A sampai Z, Aldebaran masih tak bergeming, wajahnya datar dan dingin.


Membuat di dalam ruangan semakin terasa mencengkam, semua sudah khawatir bila Aldebaran akan menolak usul peluncuran produk baru ini, kecuali Asisten Dika, pria itu juga sama malah terlihat lebih dingin.


Aldebaran sedang menimbang-nimbang produk yang tadi bagian manager jelaskan.


Untuk pembuatan produk itu membutuhkan biaya pengeluaran yang cukup, karena wadahnya akan terbuat dari bahan yang bagus sehingga tidak mudah pecah atau bocor, tapi bila di samakan dengan harga jual maka belum untung.


Dan target penjualannya adalah anak-anak, karena ini produk minuman untuk anak-anak, desain botolnya cukup menarik dan akan mengundang anak-anak untuk membeli, tapi bila harganya mahal, ibu-ibu mereka pasti hanya akan beli sekali saja.


Ini sangat tidak seperti dengan tujuannya yang akan menjadi produk jangka panjang.


Aldebaran menggeleng. "Aku mau ganti botolnya, desain sudah cukup menarik dengan adanya gambar-gambar hewan, warna dan rasa serta kandungan vitamin dan nutrisi nya sudah cukup."


Aldebaran menatap semua para bawahannya yang ada di ruangan tersebut, mereka semua menunduk tidak ada yang berani mengangkat kepalanya.


Orang yang memiliki ide tentang botol yang terlihat paling menunduk. Aldebaran sebenarnya tidak marah tapi karena pembawaannya tegas dan auranya dingin, mereka semua mengartikan bila sedang marah.


"Untuk bagian ini kalian bisa lanjut meeting bersama Dika, karena saya harus segera pergi." Selesai bicara Aldebaran langsung berdiri, semua orang di dalam ruangan ikut berdiri, Aldebaran lalu berjalan ke luar, yang diantar Asisten Dika sampai pintu.


Setelah Bos Aldebaran ke luar, semua orang langsung merasa lega, tidak! karena kali ini meeting akan dilanjut bersama pria yang wajahnya lebih menakutkan dari pada Bos Aldebaran.


Bila di ruang meeting kembali sibuk berlanjut, Aldebaran sudah berada di dalam lift, mau menuju lobby perusahaan, waktu sudah pukul setengah sepuluh, saatnya dirinya harus menjemput Yusuf di sekolah.


Pintu lift terbuka, Aldebaran langsung melangkah ke luar, beberapa karyawannya menunduk saat melihat Aldebaran lewat, sambil mengagumi dalam hati pria yang berkharisma wajah rupawan.


Setelah menerima kunci, Aldebaran langsung masuk ke dalam mobil lalu melajukan mobilnya.


Sampai di sekolahan, tepat di jam Yusuf pulang sekolah, mereka langsung masuk ke dalam mobil, kali ini tujuannya adalah mendatangi sebuah taman.


Setelah menempuh waktu tiga puluh menit, mobil pun sampai di taman, banyaknya pohon-pohon rindang membuat taman tersebut terasa sejuk, angin yang berhembus sepoi-sepoi.


Aldebaran berjalan memasuki area taman seraya menggandeng tangan Yusuf, dan tangan Yusuf yang satunya menggandeng tangan Mamanya.


Benar-benar pemandangan yang hangat, Ane yang berjalan di belakang mereka mengulum senyum, dalam hati berdoa yang terbaik untuk rumah tinggal Nyonyanya yang kali ini.


Apa lagi saat melihat Tuan Mudanya juga ikut bahagia, berada di tengah-tengah mereka, Ane merasa tenang.


Kini sudah sampai di bangku taman, Yusuf duduk di tengah-tengah Heena dan Aldebaran, sementara Ane pergi ke minimarket untuk membeli cemilan dan air mineral.


Aldebaran dan Heena sedang menikmati hembusan angin yang terasa sejuk, Yusuf mendongakkan kepalanya menatap bergantian, Heena dan Aldebaran.


Yusuf tersenyum kemudian meraih tangan Mamanya dan meraih tangan Om Al nya, Yusuf letakan tangan mereka di atas pangkuannya, tangan Heena dan Aldebaran Yusuf buat saling menggenggam.


"Ma, Om. Kapan kalian akan menikah."


Heena dan Aldebaran matanya sama-sama mendelik dan ingin menajamkan pendengarannya, apa tidak salah dengar.


"Coba ulangi, kamu bilang apa, Nak?" ucap Heena dan Aldebaran bersamaan.


Yusuf terkekeh saat melihat kekompakan Mamanya dan Om Al nya.


"Kapan Om dan Mama akan menikah, Yusuf restui kok, Ma." Yusuf melihat Mamanya, seketika Heena menangis haru, setelah Yusuf bicara kedua kali, ternyata ia tidak salah dengar, Heena memeluk Yusuf menciumi pipi putranya, Heena merasa terharu dengan keputusan putranya.


Sementara Aldebaran, pria itu juga merasakan hal yang sama, terharu dengan Yusuf, diterima sebagai ayah tiri tentu membuat Aldebaran bahagia, apa lagi tidak ada pemaksaan, benar-benar real keinginan Yusuf berkata merestui.


Heena sudah melerai pelukannya, kini Yusuf berganti menatap Om Al nya seraya menggenggam tangan Om Al nya. "Om, jaga Mama, jangan bikin Mama sedih, Yusuf tidak suka." Yusuf bicara dengan gaya bibir sok marah, tapi di mata Aldebaran malah terlihat imut.


Aldebaran tersenyum dan mengangguk, tangannya terulur mengusap kepala Yusuf. "Om, janji dan akan berusaha."


Seketika Yusuf tersenyum lebar lalu memeluk Om Al nya.


Heena juga ikut tersenyum seraya mengusap lembut punggung putranya.


Di pinggir jalan ada sebuah mobil sport warna hitam, Michael menurunkan kaca mobilnya seraya melepas kaca mata hitamnya, melihat ke arah Heena dan Putranya berada, seketika hatinya terasa tercabik-cabik sakit tapi tidak berdarah.


Melihat Heena tersenyum, apa lagi melihat Putranya tersenyum sembari memeluk pria lain, ada perasaan tidak terima, dulu miliknya tapi tidak pernah ada momen seperti itu, Michael merasa sudah melewatkan hari-hari yang seharusnya bahagia bersama Heena dan Yusuf dulu.


Tanpa permisi air matanya menetes, sesak rasanya di dalam dada melihat pemandangan ini, dan setelah ini harapannya benar-benar akan pergi, Michael tahu semua rencana Yusuf minta menginap tiga hari, dan saat ini melihat pemandangan ini bertanda bila Yusuf sudah merestui hubungan Mamanya, dan menerima Aldebaran sebagai papa barunya.


Michael memejamkan matanya seraya menghela nafas panjang, membuka mata dan kembali menatap Heena. "Aku akan mundur perlahan Heena, semoga kamu bahagia."


Selesai bicara, Michael menghapus air matanya.


Pria tampan yang lagi patah hati itu menutup kembali kaca mobilnya, lalu menghidupkan mesin mobil dan melesat pergi dari tempat itu.