
Heena memutus pandangannya yang tiba-tiba bertemu dengan mata Michael, Heena kemudian menyusul Yusuf dan Ane di kantin rumah sakit.
Michael menghela nafas panjang saat melihat Heena yang tiba-tiba milih pergi.
"Apa pria seperti aku pantas untuk dimaafkan." Michael menangis terisak. Rasanya begitu sesak di dalam dada sana.
Heena sampai di kantin rumah sakit, kemudian duduk di depan Yusuf yang saat ini sedang makan disuapin Ane.
"Sayang, makannya enak?"
"Enak, Mama." Yusuf menyahut cepat seraya mengangkat kedua jempolnya.
Heena tertawa melihat tingkah Yusuf. Heena mengacak rambut Yusuf dengan gemas.
"Mama tidak makan?"
"Makan, ini Mama mau pesan." Heena kemudian berjalan menuju tempat kantin, dan mengambil makanan untuknya dan untuk Ane.
Selesai makan siang, mereka kembali ke ruang rawat Michael, Yusuf yang manja dengan Papanya saat ini tiduran di samping Michael dan memeluk Papanya.
Yusuf terlihat begitu manja ingin selalu bersama Papa dan Mamanya, hingga hari-hari Heena hanya berada di samping Yusuf dan Michael, sudah beberapa hari Heena tidak masuk kerja, untung perusahaan memberikan pengertian, namun Heena semakin hari semakin tidak enak dan merasa bersalah karena meninggalkan tanggung jawab.
Namun tepat hari ini Heena merasa lega, karena setelah satu Minggu menjaga Michael dan mengikuti kemauan Yusuf, ahirnya Michael bisa pulang hari ini, dan otomatis besok pagi Heena bisa berangkat kerja, harapan wanita cantik itu.
Heena menggendong Yusuf untuk berjalan ke arah mobil, sementara Ane dan sopir membantu membawa barang-barang Michael dan Yusuf.
Dalam perjalanan Heena hanya diam, cuma Yusuf yang membuat di dalam mobil terasa ramai karena celotehnya.
Yusuf sangat merasa senang dalam satu Minggu ini berdekatan dengan Papa dan Mamanya.
Heena mengusap rambut Yusuf dan menciuminya dengan sayang.
Mobil sampai di Mansion.
Heena masuk membantu Michael, bersama Ane Heena menemani Michael sampai di kamar, setelah pria itu berbaring Heena menyelimuti hingga batas leher.
Heena tersenyum lalu ingin beranjak pergi, namun tiba-tiba Michael memegang pergelangan tangan Heena.
"Terimakasih."
Heena tersenyum, Michael kemudian melepas tangannya yang memegang tangan Heena, Heena menunduk kemudian keluar dari kamar Michael.
Heena berdiam diri di depan pintu, Michael masih menempati kamar yang sama di kamarnya dulu, kamar Heena dengan Michael. Tiba-tiba hati Heena merasa berdenyut hanya mengingat kenangan dulu.
Heena menggelengkan kepalanya kemudian berjalan menuju kamar putranya.
Yusuf sendirian sedang bermain mobil-mobilan, Ane sedang tidak ada.
Heena duduk di sebelah Yusuf. "Sayang, kamu tidak mau bobok." Heena menatap Yusuf yang sedang asyik bermain mobil-mobilan.
Ane Masuk dari arah pintu membawa buah untuk Tuan Mudanya.
Ane meletakkan buah di dekat Yusuf, lalu ikut duduk bersama di karpet.
Melihat Ane sudah datang, Heena ingin menanyakan sesuatu yang tiba-tiba ia merasa ada sesuatu yang aneh.
"Ane, di mana, Mawar."
Ane menoleh ke arah Heena. "Nyonya sudah pergi meninggalkan Mansion, Nyonya."
Deg!
"Mak-maksud kamu." Heena terkejut hingga membuat ucapannya terbata-bata.
"Iya, tuan Michael dan nyonya Mawar sudah tidak bersama lagi, Nyonya. Karena nyonya Mawar pergi meninggalkan tuan Michael."
Heena begitu sangat terkejut dengan berita ini, Heena tidak menyangka Mawar akan pergi, Heena merasa ini seperti mimpi. Heena memastikan lagi dengan menatap mata Ane, Ane langsung menganggukkan cepat kepalanya.
Tiba sore hari Heena pamit pulang, untungnya Yusuf pintar dan mengerti bahwa Mamanya harus pulang, hingga tidak ada drama tangis menangis.
Sampai di rumah, Heena masih kepikiran ucapan Ane, Heena semakin merasa iba dan kasian dengan kondisi Michael sekarang ini.
Perusahaan Michael memang tidak sepenuhnya bangkrut, namun butuh suntikan dana yang besar bila mau beroperasi seperti biasanya.
Bahkan sekertaris Michael saat ini sedang mencari rumah baru untuk Michael, karena harus segera ke luar dari Mansion.
Heena hanya bisa berdoa berharap Yusuf pintar dan tidak rewel di rumah baru yang kemungkinan besar tidak semewah Mansionnya.
Tiba malam hari Heena mengistirahatkan tubuhnya, selama satu Minggu ini ia merasa lelah tidur pun juga tidak nyaman.
Pagi hari, Heena memulai harinya dengan semangat, selesai sarapan pagi Heena langsung berangkat kerja.
Setelah menempuh perjalanan tiga puluh menit Heena sampai di tempat kerja.
Heena menyapa teman-temannya sebelum ahirnya ia menyibukkan diri dengan pekerjaan.
Tia dan Syifa juga sudah sampai di tempat kerja, mereka bertiga fokus dengan pekerjaannya masing-masing.
Hari ini Aldebaran sengaja ingin mengunjungi perusahaannya, ia mendatangi D.A Corp lebih dulu sebelum ke perusahaan ayahnya Mulan.
Aldebaran ke luar mobil, berdiri sebentar di depan pintu mobil kemudian melepas kaca mata hitam, ia simpan di saku kemeja yang terbalut jas hitam, berjalan masuk ke perusahaan dengan satu tangannya masuk ke dalam saku celana.
Aldebaran melihat ketiga karyawannya saat ini sedang sibuk bekerja, Tia dan Syifa berdiri lalu menunduk memberi hormat pada Aldebaran yang saat ini berdiri di depan pintu masuk.
Aldebaran membuat gerakan tangan supaya Tia dan Syifa kembali bekerja.
Aldebaran melihat Heena, wanita itu sangat fokus dalam bekerja, sampai tidak tahu dan tidak mendengar langkah kaki yang mendekatinya. Kini Aldebaran sudah berdiri tepat di belakang Heena, dan Aldebaran bisa tahu yang Heena gambar hari ini di komputer.