HEENA

HEENA
BAB 58. Bukti yang kuat.



Setelah mobil Aldebaran sampai di apartemen Asisten Dika, ia langsung ke luar cepat dari dalam mobil dan sedikit berlari


untuk masuk ke dalam gedung apartemen.


Segera masuk ke dalam lift menuju lantai di mana kamar Asisten Dika berada.


"Dik! Dika!" teriak Aldebaran yang kini sudah masuk ke dalam apartemen Asisten Dika, tentu Aldebaran tahu password kamar itu.


"Tuan." Asisten Dika yang ke luar dari dalam ruang kerjanya langsung menghampiri Aldebaran.


Asisten Dika dan Aldebaran kini sudah duduk di sofa dan sedang serius menatap layar laptop di depannya.


Sialan! umpat kesal Aldebaran.


Dari data ini, Aldebaran tahu, bahwa sebenarnya perusahan Al-Gazali Group tidak bangkrut, semua itu rekayasa dari Pak Muklis yang ternyata mengalihkan semua kekayaan Pak Bagas menjadi miliknya.


Pak Muklis dahulu adalah orang yang paling dekat dengan Pak Bagas, kedekatan keduanya membuat saling membantu satu sama lain.


Hubungan baik terjalin, hingga tidak ada yang ditutupi oleh Pak Bagas, hingga hal rahasia perusahaan yang harusnya dijaga oleh diri sendiri, namun Pak Bagas ceritakan dengan Pak Muklis.


Pak Muklis yang sebenarnya orang baik, ia terpaksa melakukan semua kejahatan itu karena demi Mulan putrinya.


Karena hal terdesak ahirnya Pak Muklis terpaksa melakukan konspirasi kecelakaan itu, dan mengambil alih seluruh kekayaan Al-Ghazali Group.


Semua itu untuk menekan Aldebaran supaya terdesak mau menikahi Mulan, dengan sebuah tawaran bisnis.


Namun saat itu Aldebaran menolak saat Mulan mendatangi persidangan, ia lebih milih meneruskan persidangan dan ahirnya di penjara.


Begitulah cerita masa lalu yang Aldebaran ingat lagi pada saat ini.


Asisten Dika menutup layar laptopnya, semua bukti sudah terkumpul, dan ada tiga orang lagi yang juga kepercayaan Pak Bagas, mereka mengkhianati.


Pak Ron, Pak Galuh, dan Pak Niko. Aldebaran baru tahu ternyata mereka berempat bersama Pak Muklis bekerja sama.


Mengetahui itu semua Aldebaran marah, tangannya mengepal, serta sorot matanya yang tajam.


"Segera laporkan mereka semua ke polisi!" Aldebaran bicara dengan penuh penekanan di setiap kata.


"Baik, Tuan." Asisten Dika langsung berdiri dan meninggalkan tempat tersebut.


Sementara Aldebaran langsung menghubungi Mulan, dan setelah berbicara dengan Mulan, Aldebaran langsung pergi meninggalkan Apartemen Asisten Dika.


Di kantor polisi.


Asisten Dika melaporkan kasus pembunuhan serta fitnah yang terjadi lima tahun yang lalu, Polisi sedikit tersentak kaget saat mendengar kasus yang dibicarakan Asisten Dika, karena lima tahun yang lalu kasus ini sudah diselidiki namun tidak menemukan hasil, dan hari ini tiba-tiba ada yang melaporkan.


Wajah Asisten Dika sudah tidak asing di mata Pak Polisi bernama Burhan, karena dulu sering datang mengunjungi Aldebaran.


"Jadi teman kamu tidak bersalah?" Polisi Burhan bertanya penuh iba.


Asisten Dika mengangguk.


"Kami akan membantu menangkap pelakunya dengan segera," ucap Polisi Burhan lagi.


"Terimakasih." Setelah itu Asisten Dika pamit pergi.


Aldebaran saat ini menemu Mulan, di rumah wanita itu.


Bruk!


Aldebaran melempar kertas di atas meja ruang tamu, dengan mata menatap nyalang, hanya sekali lihat saja Mulan bisa tahu bahwa saat ini Aldebaran sedang marah. Tapi apa penyebabnya, Mulan masih bertanya-tanya dalam hati.


Dengan tangan gemetar Mulan ahirnya mengambil kertas itu, lalu membacanya.


Deg! mulut Mulan langsung menggangga, Mulan menutup mulutnya, dengan air mata yang kini sudah menetes, merasa tidak percaya bila Aldebaran kini bisa tahu semua konspirasi yang dibuat Ayahnya.


Mulan menatap wajah Aldebaran, tangannya masih menggenggam kertas itu. "Al, ini tidak benar, kamu tega menuduh ayahku, selama ini kedua orang tua kita berteman baik, Al." Mulan berusaha meyakinkan Aldebaran berharap pria itu akan percaya.


Namun sepertinya harapan tinggal harapan, karena saat ini Aldebaran mencekal rahang Mulan dengan kuat, sampai membuat Mulan kesakitan.


Mulan merasa takut melihat tatapan membunuh dari mata Aldebaran, saat Aldebaran semakin kuat mencekal rahangnya, Mulan hanya bisa menangis tidak bisa menjerit walau rasanya sakit.


"Aku akan membuat ayahmu mengakui kesalahannya!"


Deg! Mulan menggelengkan kepalanya cepat, kini Aldebaran sudah mundur beberapa langkah, Mulan bisa bernafas lagi, tapi kalimat yang Aldebaran ucapkan barusan seperti mencekik lehernya.


"Kamu jahat Mulan, kalian semua jahat! apa salah papa aku, hah!" Aldebaran berteriak kencang seraya menjatuhkan vas bunga.


Pyaarrrrr!


Ahh! Mulan menutup kedua telinganya menggunakan tangan, Mulan ketakutan dengan amarah Aldebaran.


Dan setelah kembali tenang, Mulan membuka matanya namun Aldebaran sudah tidak ada di ruangan itu.


Mulan segera berlari mengejar Aldebaran, yang ternyata saat ini baru mau membuka pintu mobil.


"Al, tunggu ..."teriaknya seraya Mulan berlari cepat.


Aldebaran mengurungkan niatnya yang ingin membuka pintu mobil, berbalik menatap Mulan yang saat ini baru berdiri di hadapannya, dengan nafas tersengal-sengal.


Mulan masih berusaha menyakinkan Aldebaran bahwa semua itu tidak benar, Mulan bercerita hal baru merekayasa fakta, supaya Aldebaran bisa percaya.


Mulan tidak akan mengakui bila Ayahnya salah, karena tidak ingin Ayahnya masuk penjara.


Mulan meraih tangan Aldebaran, menatap mohon dengan sorot mata sendu, tapi sepertinya usahanya sia-sia.


Aldebaran menghempaskan tangan Mulan dengan kasar, tidak akan ada maaf pada orang sudah membuat keluarga dan hidupnya berantakan.


Aldebaran mengangkat jari telunjuknya di depan wajah Mulan. "Ingat kamu tidak pernah tahu rasanya jadi aku saat itu, jangan pernah minta aku untuk berhenti dan mengasihani kamu."


Setelah berkata seperti itu, Aldebaran memakai kaca mata hitamnya lalu segera masuk ke dalam mobil dan melajukan mobilnya dengan cepat.


"Al ... Al, tunggu, Al!"


Ahhh!


Mulan berteriak mengejar mobil Aldebaran hingga terjatuh.