HEENA

HEENA
BAB. 70. Jujur dengan Bibi Sekar.



Di sebuah rumah yang terlihat ada wanita yang saat ini tengah tersenyum melihat Heena yang sedang menyiram bunga.


Hanya baru sekali lihat, Bibi Sekar bisa tahu bahwa Heena menyukai tanaman. Karena Heena tidak hanya menyiram sembarangan, tapi ia juga memilah-milah dulu, daun yang kering ia ambil.


Sebenarnya tanaman bunga yang saat ini Heena siram sudah tidak diurus, karena sebelumnya Bibi Sekar berencana mau mengganti dengan tanaman yang lain.


Tapi saat melihat Heena merapihkan tanaman-tanaman itu kini menjadi bagus. Selesai menyiram bunga, Heena mencuci tangannya.


Bibi Sekar berjalan menghampiri, dengan bibir tersenyum Bibi Sekar menyapa, "Heena?"


Mendengar namanya dipanggil, Heena langsung menoleh ternyata Bibi Sekar yang saat ini sudah berdiri di samping ia mencuci tangan di air kran.


"Bibi, ada apa Bi?"ucap Heena seraya berdiri dan menghampiri Bibi Sekar.


Bibi Sekar tidak menjawab, tetapi ia tersenyum dan kemudian langsung memegang tangan Heena, ia mengajaknya berjalan.


Heena sangat kagum setelah sampai di halaman belakang, kini Heena melihat taman bunga-bunga yang indah, seperti lebih terawat tidak sama dengan yang tadi ia siram.


"Bibi, ini bagus sekali." Heena menikmati pemandangan dan udara segar dari tanaman-tanaman tersebut.


Lagi-lagi Bibi Sekar hanya membalas dengan senyuman, kemudian mengajak Heena untuk duduk di kursi taman.


Setiap kali melihat wajah Bibi Sekar, wanita itu selalu tersenyum, Heena pikir Bibi Sekar memang orang yang suka tersenyum.


Setelah beberapa saat menikmati udara segar, Bibi Sekar menoleh melihat Heena. "Apa kamu masih punya keluarga?"


Deg!


Heena terkejut, tanpa sengaja Heena melebarkan mata, namun segera mungkin menenangkan diri, karena tidak ingin tertangkap gugup oleh Bibi Sekar.


"Masih, Bibi. Tapi bukan keluarga kandung." Heena menatap Bibi Sekar sesaat, kemudian menunduk.


Heena kemudian menjelaskan lagi, bila dia punya satu Adik perempuan seorang dokter, dan ibu tiri yang sudah membesarkan Heena dari kecil, Ayah tirinya sudah meninggal.


Sampai sejauh itu Heena bercerita, tentang ibu Jamilah yang beda kasih tidak Heena ceritakan.


Mendengar cerita Heena seketika membuat Bibi Sekar merasa iba terhadap Heena, Bibi Sekar menggeser duduknya lalu memeluk Heena.


Heena juga sempat meneteskan air mata saat tadi bicara tentang keluarganya, jujurnya Heena merindukan keluarganya yang bahagia di waktu dulu, namun sepertinya saat ini sulit, itulah pikir Heena.


Bibi Sekar melerai pelukannya, Bibi Sekar bicara sambil usap-usap rambut Heena, "Kamu yang sabar ya, dan kapan-kapan bila ada waktu kenalkan dengan keluarga kami."


Heena menanggapi dengan anggukan kecil. Bibi Sekar melihat lurus ke depan seperti memikirkan sesuatu, dan kemudian bicara lagi, "Bibi dulu pernah memiliki anak perempuan." Bibi menghentikan ucapannya kini mengusap air mata, melihat itu Heena memeluk Bibi Sekar dari arah samping lalu ia menempelkan kepalanya dengan kepala Bibi Sekar.


"Putri Bibi meninggal saat masih bayi ... dan bila masih hidup mungkin seusia kamu, karena hanya beda dua tahun dengan Rengky," jelas Bibi Sekar panjang lebar disertai suara Isak tangis.


Heena mengusap pelan-pelan lengan Bibi Sekar supaya tenang.


Sepertinya Bibi Sekar sangat sedih dan terpukul atas kehilangan bayi perempuannya, kasian Bibi Sekar. batin Heena yang masih terus mengusap lengan Bibi Sekar.


"Heena, bila kamu ada yang ingin diceritakan, kamu cerita ya sama, Bibi?" ucap Bibi Sekar dengan lembut seraya melihat wajah Heena.


Heena sesaat menatap Bibi Sekar seraya berpikir, apakah ini sudah saatnya Heena harus mengatakan bahwa Heena sudah miliki anak, tapi Heena masih takut, bagaimana bila setelah ini Bibi Sekar menjauhinya.


Heena masih diam dan hanya bisa tersenyum, tapi Yusuf adalah berharga bagi Heena, bila terlalu lama menyembunyikan Heena takut akan menimbulkan masalah baru.


Heena berpikir terus berpikir, hingga akhirnya ia yakin harus menceritakan semua tanpa ada yang ia sembunyikan.


"Bibi, sebenarnya Heena sudah memiliki satu anak, tapi dia ikut mantan suami, Heena."


Rasanya plong dada Heena setelah mengatakan hal yang mengganjal di hatinya beberapa hari ini, Heena menunduk setelah selesai bicara, hingga ia tidak tahu seperti apa ekspresi wajah Bibi Sekar saat ini.


Yang pasti Heena sudah pasrah bila Bibi Sekar marah atau bahkan mungkin mengusirnya.


Tapi ternyata semua pemikiran buruk yang Heena miliki itu salah, dengan wajah tersenyum teduh, Bibi Sekar meraih dagu Heena untuk melihatnya. "Bibi, suka perempuan yang jujur, lain kali ajak anakmu main ke rumah, Bibi."


Heena sampai bengong melihat Bibi Sekar bicara tanpa berkedip, pikiran Heena menampar Heena berkali-kali bahwa apa yang ia dengar itu tidak salah.


Dan saat Bibi Sekar kembali memeluk Heena, dari sini Heena sadar bahwa ia beneran mendengar suara Bibi Sekar tadi, Heena membalas pelukan Bibi Sekar, dalam hati Heena bersyukur dipertemukan dengan wanita baik seperti Bibi Sekar.


Mungkin bisa menyesal deh, bila hari itu Heena tetap kekeh menolak ajakan Aldebaran membawa ke rumah ini, mengingat itu Heena jadi malu.


Tiba-tiba Heena tersenyum teringat Aldebaran, namun sesaat kemudian Heena mencubit pipinya sendiri dengan menegaskan dalam hati tidak boleh memikirkan Aldebaran.


Pembicaraan hangat keduanya berakhir saat pelayan manggil Bibi Sekar, mengatakan ada teman Bibi Sekar yang datang.


Saat ini tinggallah Heena sendiri yang duduk di kursi taman tersebut, menatap lurus ke depan dengan tersenyum, saat ini Heena sedang mengingat Aldebaran yang tadi pagi habis selesai mandi, pria itu ke luar dari dalam kamar mandi hanya menggunakan handuk yang melilit di pinggangnya, Aldebaran kaget saat melihat Heena, kemudian masuk ke dalam kamar mandi lagi.