
Heena!" teriak Bibi Sekar yang baru sampai di rumah sakit bersama Paman Syafiq, dan juga Rengky.
"Kamu tidak apa-apa kan, sayang? tanya Bibi Sekar dengan panik seraya memegang dua bahu Heena yang saat ini berdiri di depan Heena yang lagi duduk di kursi tunggu.
Heena menyentuh dua tangan Bibi Sekar yang memegang dua bahunya. "Aku baik-baik saja Bibi." Heena tersenyum, Bibi Sekar bernafas lega.
"Al, Heena sebaiknya kalian mandi dulu dan berganti pakaian, supaya nanti saat bertemu ibumu akan terasa nyaman. Dan ini Paman bawakan kalian pakaian ganti," ucap Paman Syafiq seraya menyerahkan paper bag yang berisikan baju untuk Aldebaran dan Heena.
Aldebaran menerima paper bag itu. "Terimakasih Paman, bila begitu kami ijin pergi dulu."
"Iya," jawab bersamaan Paman Syafiq dan Bibi Sekar, Bibi Sekar mengusap lengan Heena sebentar sebelum ahirnya Heena dan Aldebaran pergi dari tempat tersebut.
Sekarang Bibi Sekar dan Paman Syafiq sedikit tahu permasalahannya yang membawa Heena sampai di rumah sakit saat ini, tadinya saat Aldebaran memberi kabar bila sedang berada di rumah sakit, Bibi Sekar pikir Heena yang sakit, ternyata ibu kandung Heena yang drop dan harus di larikan ke rumah sakit.
Namun tentang Ayahnya Heena yang ingin menjadikan Heena sebagai tumbal, Bibi Sekar belum tahu, karena mereka belum cerita.
Kemudian pintu ruang IGD terbuka, menampakkan seorang wanita berpakaian jas putih yang menyembul keluar.
"Pasien sudah melewati masa kritis, dan akan segera dipindahkan ke ruang rawat, diminta cukup satu orang bila ingin ada yang menemui," terang Dokter sebelum ahirnya pergi dari hadapan Bibi Sekar.
Tidak lama setelah Dokter pergi, Ibu Tiara keluar dengan masih berbaring di atas brankar, para perawat mendorongnya ke ruang rawat.
Bibi Sekar dan Paman Syafiq dan juga Rengky berjalan mengikuti di belakang para perawat yang mendorong brankar tersebut.
Setelah tiga puluh menit, Heena dan Aldebaran sudah kembali ke rumah sakit, kini langsung berjalan menuju ruang rawat Ibu Tiara, yang tadi sudah Bibi Sekar beritahu bila Ibu Tiara sudah dipindahkan.
Ruang rawat VIP no 10, Heena dan Aldebaran yang baru tiba langsung disambut Bibi Sekar, Bibi Sekar mengatakan hanya boleh satu orang yang masuk ke dalam sana.
Ahirnya Heena yang masuk ke dalam lebih dulu, Heena mengganti pakaiannya menggunakan pakaian pengunjung pasien bewarna hijau, baru saja melangkah masuk belum mendekat, Heena sudah menangis.
Entah mengapa hatinya terasa teriris, sakit saat ini juga melihat ibu kandungnya terbaring lemah di sana.
Heena mendekat kini tangannya menyentuh tangan Ibu Tiara seraya menatap lekat wajah Ibu Tiara, Heena semakin tidak bisa berkata-kata lagi, sedih sakit jadi satu, tidak menyangka ternyata kehidupan ibunya begitu menyakitkan, Heena menunduk menciumi kening ibunya dan beralih punggung tangan Ibunya.
Pengorbanan ibunya sudah banyak untuk dirinya, sampai rela jauh demi menyelamatkan nyawanya, Heena berjanji dalam hati akan merawat ibunya jika diberi kesempatan untuk bersama lebih lama lagi.
Saat punggung tangan Ibu Tiara Heena letakkan di pipinya, namun Heena terpejam masih menangis terisak, tiba-tiba merasakan jemari ibunya bergerak.
"Ibu ... Ibu sudah sadar." Heena menatap Ibunya yang perlahan mau membuka mata.
Heena mau keluar untuk memanggil dokter, namun suara lemah Ibu Tiara mencegah Heena.
"Tunggu, Nak?"
Heena yang tadi sempat sudah berjalan tiga langkah kemudian berbalik melihat ibunya yang saat ini melihat ke arahnya.
Heena tersenyum kemudian mendekati lagi, lalu menggenggam tangan Ibunya. Sesaat Heena memeluk Ibunya, dalam hati Ibu Tiara sangat bahagia dipeluk putrinya, yang sudah sekian tahun baru berjumpa beberapa hari lalu.
"Ibu tenanglah, tidak usah dipaksakan karena Ibu masih lemah," ucap lembut Heena, yang kini air matanya ia tahan karena tidak ingin ibunya melihat dirinya menangis.
Namun sepertinya Ibu Tiara tetap ingin mencoba untuk bicara meski dengan suara yang begitu terdengar lemah.
"Ma-mafkan Ibu, ja-jaga diri ba-baik-baik, te-terimakasih sudah ma-mau menemu Ibu, se-sekarang Ibu sudah te-tenang."
Perlahan Ibu Tiara kembali menutup mata dan nafasnya terhenti, suara monitor berbunyi nyaring berganti garis lurus, Heena seketika panik melihat itu semua.
"Ibu ... Ibu! Dokter ... Dokter!" teriak Heena panik membangunkan ibunya juga memanggil dokter di ruangan itu.
Heena menekan tombol tanda darurat, tidak berselang lama Dokter masuk ke dalam bersama beberapa perawat.
Di dalam sana Dokter sedang berusaha, Heena saat ini sedang menangis di pelukan Aldebaran, dengan bergumam tidak ingin ibunya pergi.
Setelah beberapa kali dokter berusaha namun nyawa Ibu Tiara sudah tidak bisa ditolong, Dokter yang menjelaskan pada keluarga pasien bila pasien telah meninggal, seketika Heena menjerit dan langsung menerobos masuk ke dalam
"Ibu ... Ibu tidak boleh pergi Ibu, Ibu ...."
Heena menangis seraya berteriak yang kini memeluk jasad ibunya, bayang-bayang akan bersama ibunya, akan merawat ibunya sampai sembuh semua seketika hilang setelah ibunya dinyatakan meninggal.
Ini adalah pertemuan singkat Heena dengan Ibunya, namun Heena masih berat untuk menerima, terus menangis sampai tidak bersuara.
Aldebaran yang berdiri di samping Heena juga menangis, ia tahu rasanya kehilangan ibu, apa lagi Heena baru bertemu dengan Ibunya, Aldebaran tahu pasti lebih sakit rasanya saat ditinggalkan.
Bibi Sekar mendekati Heena, dirinya juga menangis, Paman Syafiq dan juga Rengky mereka semua menangis sedih berduka hari ini.
Aldebaran keluar lebih dulu yang ditemani Rengky untuk mengurus administrasi dan juga pemulangan jenazah ibu Tiara.
Dan setelah empat puluh menit, jenazah Ibu Tiara siap di bawa ke rumah Paman Syafiq. Heena dan Aldebaran berada dalam satu ambulan menemani jenazah Ibu Tiara.
Sesampainya di rumah Paman Syafiq, di sana sudah banyak orang, para tetangga sudah berdatangan untuk melayat.
Dan setelah semua proses di lakukan, mulai dari di mandikan lalu menyolatkan. Kini dibawa ke pemakaman.
Bertumpah tangis dan kesedihan di hati Heena yang melihat saat perlahan tubuh ibunya dikebumikan dan perlahan tertutup rapat oleh tanah dengan sempurna.
Bunga-bunga mulai ditaburkan serta aroma pewangi, berdoa yang terbaik untuk ibunya, tidak lama kemudian orang-orang mulai berangsur pulang, kini hanya menyisakan Heena dan Aldebaran.
Setelah beberapa saat Heena dan Aldebaran meninggalkan tempat tersebut, berjalan menuju mobil dengan saling menguatkan.
Mobil Aldebaran sudah melaju, Heena menatap ke arah jalanan melalui jendela mobil.
Bukan hal yang harus di lupakan, semua yang terjadi akan dijadikan kenangan yang berarti, pertemuan sesaat tapi menjadi pengalaman yang tidak akan pernah terlupakan.