HEENA

HEENA
BAB. 98. Mencari Heena.



Saat jendela kamar di buka, cahaya matahari yang hangat langsung masuk ke dalam kamar, bertanda sudah tiba pagi hari.


Di dalam rumah sederhana di sebuah desa, gadis muda bernama Lulu sedang bersiap, hari ini sesuai niatnya ia akan mencari Kakaknya yang hilang sejak beberapa tahun yang lalu, tepatnya bukan hilang tapi di titipkan.


Lulu menghampiri kamar Ibunya untuk berpamitan, Ibu sudah mandi dan juga sudah sarapan, Ibu juga masih bisa berjalan walau harus pelan-pelan.


Meski Lulu sebenarnya tidak tega meninggalkan Ibunya terlalu lama, tapi ia mencari Kakaknya itu karena demi kesembuhan Ibunya juga.


"Ibu ..." Lulu menggenggam tangan Ibunya, kemudian mencium punggung tangan Ibunya.


"Lulu pamit, Bu. Tolong doakan Lulu supaya bisa bertemu, Kakak." Lulu menatap wajah Ibunya, yang saat ini tersenyum ke arahnya.


Ibu mengusap wajah Lulu. "Hati-hati, segeralah pulang sebelum malam."


Lulu mengangguk kemudian memeluk Ibunya, cukup lama keduanya berpelukan, sampai akhirnya Lulu benar-benar pergi untuk mencari Kakaknya.


Lulu berjalan menuju halte, rumayan jauh dari rumahnya, tapi apalah daya karena uang hanya pas-pasan, tapi Lulu sudah terbiasa berjalan jauh.


Sampai di tengah jalan tiba-tiba ada orang yang menghentikan motornya.


"Neng Lulu mau ke mana?" tanya orang tersebut sembari melihat penampilan Lulu yang tidak seperti biasanya malah seperti orang yang mau pergi pikir orang itu.


"Mau ke halte bis Pak Cipto." Lulu menjawab dengan tersenyum.


"Yasudah Bapak antar, kebetulan Bapak juga arah ke sana."


Mendengar penjelasan Pak Cipto, Lulu diam sesaat merasa tidak enak, tapi Pak Cipto memaksa, sebenarnya tiga puluh menit lagi sampai bila berjalan, tidak enak menolak kebaikan Pak Cipto, ahirnya Lulu mau dibonceng Pak Cipto.


Pak Cipto adalah orang tetangga Lulu, Bapaknya Kartika teman Lulu, Pak Cipto juga yang selalu membantu keluarganya bila dalam kesusahan.


Apa lagi Ibu dalam keadaan sakit, bila tiba-tiba harus dibawa ke rumah sakit, pasti menggunakan mobil Pak Cipto untuk mengantar ke rumah sakit.


Karena menggunakan motor, cukup dalam waktu lima belas menit, kini Lulu sudah sampai halte bis.


"Kamu mau ke mana, Lulu?" tanya Pak Cipto setelah Lulu turun dari motornya dan berdiri di sampingnya.


"Ada urusan Pak, tidak lama kok sebentar lagi juga pulang, titip Ibu ya pak." Lulu menjawab dengan tersenyum.


Gadis kecil yang selalu semangat, seperti itulah yang Pak Cipto lihat selama ini dari Lulu meski hidup hanya bersama Ibunya.


Lulu mencium punggung tangan Pak Cipto untuk pamit pergi.


"Hati-hati, Lulu." Pak Cipto berpesan lagi sebelum Lulu melangkah menjauh, Lulu tersenyum sembari mengangguk.


Lulu kemudian mencari Bis yang jurusan ke kota Jakarta, sebenarnya tidak jauh untuk sampai di Jakarta, sekitar butuh waktu satu jam setengah sudah sampai di Jakarta.


Setelah menemukan Bis yang ia cari, Lulu langsung masuk ke dalam memilih tempat duduk, pilihannya jatuh di tempat duduk dekat jendela kaca. Setelah Lulu duduk, ada juga orang lain yang duduk di sebelahnya, kini Lulu tidak sendirian. Penumpang di dalam juga hampir penuh.


Setelah menunggu beberapa saat Bis berjalan, Lulu menatap ke arah luar jendela. "Kak, semoga kita segera bertemu." Sorot matanya terlihat sendu, sangat mengharapkan bisa segera bertemu.


Sebenarnya Lulu juga kurang tahu tentang masa lalu Ibunya, selama ini Ibu tidak menjelaskan sedetailnya, Ibu hanya berkata menyesal dan menyesal karena sudah meninggalkan Kakaknya di panti asuhan.


Yang menjadi pikiran Lulu, apa kah Kakaknya itu juga satu Ayah dengannya atau beda, tapi Ibu hanya menikah satu kali, Lulu memandangi wajahnya Heena di foto yang sudah ia print.


"Kami tidak mirip," gumamnya sembari terus menatap lekat foto Heena.


Lulu menghela nafas, kemudian menyimpan kembali foto tersebut, tidak ada gunanya mikir hal yang tidak penting, Lulu ahirnya memilih memejamkan matanya.


Setelah membayar biaya transportasi, Lulu berjalan mulai mencari Heena, menggunakan tas ransel kecil, memakai topi, rambutnya di kuncir.


"Di kota Jakarta sangat ramai," gumam pelan Lulu sembari terus berjalan, hanya perbekalan Foto Heena, Lulu mencari.


Saat melihat orang duduk entah muda tau tua, entah wanita atau pria, Lulu pasti bertanya apa kah mengenali wanita di foto yang ia bawa.


Tapi semua menjawab tidak tahu, di bawah sinar matahari yang terik, Lulu tanpa menyerah terus mencari, dan terus bertanya pada setiap orang.


"Ibu, kenal wanita di foto ini?" tanya Lulu pada ibu-ibu penyapu jalanan.


"Tidak, Neng." Ibu itu menjawab, Lulu tersenyum kemudian melanjutkan perjalanan lagi.


Di ujung sana melihat bapak tua penjual buah, Lulu berjalan cepat lalu bertanya, "Bapak kenal wanita di foto ini?"


Lagi-lagi Lulu harus menelan kekecewaan, saat jawaban bapak itu juga mengatakan tidak tahu.


Sinar matahari terasa panas, sepertinya sudah masuk siang hari, Lulu mencari warung mau membeli minum, sampai di warung saat Lulu mau membayar minuman tiba-tiba tasnya dijambret dan orang itu langsung berlari.


"Co-copet!" teriak Lulu sembari menunjuk pria yang berlari membawa tasnya, orang-orang yang duduk di warung makan tersebut, langsung pada lari mengejar copet tersebut, Lulu juga ikut berlari untuk mengejar copet.


Semua terus berlari sampai di suatu tempat copet itu tidak terlihat, entah pergi ke mana.


"Wahh ke mana dia!"


Ucapan semua orang yang sama berkata kemana dia hilangnya copet itu.


Lulu hanya bisa berdiam sedih saat mendapati copet tersebut telah lolos, bekal makanan dan semua uang telah hilang, tidak bisa makan dan minum, apa lagi pulang nanti sore.


Lulu berjalan mencari tempat duduk, di sana Lulu meneteskan air mata, tidak menyangka bila akan terjadi seperti ini.


Beberapa saat Lulu bersedih, namun kembali melanjutkan untuk mencari Heena, rasa haus dan lapar ia tahan, yang terpenting sekarang bisa segera bertemu Heena.


Untungnya foto Heena Lulu simpan di saku celana, karena ukuran tidak besar jadi bisa di kantongin.


Sampai tiba waktu sore, dari sekian banyaknya orang yang Lulu tanya mengenai foto yang ia tunjukan, tidak ada yang tahu.


Lulu mengusap keringat di lehernya menggunakan tangan, tenggorokannya terasa kering perutnya juga lapar.


Lulu yang saat ini berdiri di pinggiran jalan, toleh-toleh melihat pedagang kaki lima, mau beli tapi tidak ada uang.


Lulu melanjutkan perjalanannya sembari berharap bisa bertemu Heena, melewati jembatan yang tidak terlalu panjang, langkah kakinya terhenti saat melihat pedagang sate di seberang jalan yang lagi berdebat dengan pihak keamanan.


"Silahkan Bapak pindah jangan jualan di sini!" ucap tegas pihak keamanan.


"Saya sudah lama jualan di sini, saya juga jualan sudah di pinggir tidak mengganggu orang jalan, atau kendaraan lain, saya mencari rezeki untuk anak dan istri saya." Pedagang Sate membela diri dengan bibir bergetar.


Aroma lezat Sate menyebar ke seluruh trotoar jalan, Lulu masih terus melihat ke atas pedagang tersebut. "Sungguh kasihan?" ucapnya lirih sembari menatap iba.


Lulu berjalan lagi sampai tiba waktunya malam, juga belum minum dan makan, Lulu duduk di pinggir jalan sembari menatap kendaraan yang lalu lalang.


Saat bersedih tidak bisa pulang dan mengingat Ibunya yang di rumah sendiri, tiba-tiba ada orang yang berdiri di depannya memberikan nasi bungkus dan juga minuman.


Wanita cantik itu tersenyum dan mengangguk saat Lulu menatapnya, perlahan Lulu menerimanya. Wanita itu kemudian pergi.


"Sungguh cantik," gumam Lulu sembari melihat wanita berbalut jas putih masuk ke dalam mobil.