
Masih di malam yang sama, setelah pulang dari Mall.
Aldebaran berjalan cepat memasuki rumah, Heena sampai mengejar langkah lebar pria itu.
"Al, tunggu ..." teriak Heena, karena ia tahu Aldebaran saat ini sedang marah dengannya. Tapi Heena menganggap hal itu wajar, karena tadi Aldebaran melihat dirinya bersama Michael.
Heena ingin meluruskan masalahnya, bila tidak ada hubungan apa-apa lagi antara dirinya dan juga Michael.
Saat sampai di rumah, semua orang sudah pada masuk ke dalam kamar masing-masing, dan hal ini menguntungkan bagi Heena, karena bila Bibi Sekar atau Paman Syafiq yang masih duduk di luar dan melihat dirinya sedang bertengkar kan jadi malu.
Aldebaran sudah masuk ke dalam kamar, dan menutup pintu dengan keras, Heena yang baru berdiri di depan pintu sampai terlonjak kaget dan reflek memegangi dadanya.
Heena melangkahkan kakinya masuk ke dalam kamar. "Al ..." Heena menyebut nama pria yang saat ini berdiri memunggunginya.
Haduh gimana ya caranya aku meredakan amarahnya, kalo sampai besok-besok marahnya kan gawat, bisa-bisa Bibi Sekar mengintrogasi aku, hah aku tidak mau Bibi Sekar sampai tahu masalah penyebab Aldebaran marah, Heena masih terus perang batin.
Sampai tiba-tiba Aldebaran berbalik badan menatap ke arahnya, deg! saat ini Heena masih bisa melihat amarah itu masih terpancar jelas di sorot mata Aldebaran.
Hah! Dia mau apa! Emmm..
Aldebaran membawa tubuh Heena sampai membentur dinding, lalu mencium bibir Heena dan sedikit menggigitnya, hingga mengecap rasa bau anyir karena bibir itu berdarah, Aldebaran melepas ciumannya, dan mengendurkan pegangannya di bahu Heena.
Aww! Heena mengusap bibirnya yang berdarah seraya menatap wajah pria yang baru saja bikin ulah. Namun Aldebaran tidak merasa bersalah melihat Heena mengusap bibirnya yang berdarah menggunakan ibu jarinya.
Wajah tidak merasa bersalah Aldebaran masih menunjukan aura dingin dan marah, seolah api di dalam dadanya masih berkobar, dan belum hilang bila hanya sekedar menggigit bibir Heena.
"Al, aku minta maaf." Disaat bibirnya terasa perih, Heena masih berusaha meminta maaf.
Namun Aldebaran tetap diam membisu, tidak menjawab dan malah membawa Heena masuk ke dalam kamar mandi.
Al, kamu marahnya mengerikan, aku mau dibawa kemana, dan mau kamu apakan aku! jerit Heena dalam hati.
Hah! Mengapa tanganku dibilas dengan air, dicuci pakai sabun, bahkan dia mengelapnya juga, hah! Apa sih kenapa dia mencium aroma tanganku, jelas wangi lah kan baru dicuci pakai sabun, batin Heena kembali berhenti bicara saat tiba-tiba Aldebaran membasuh bibirnya lalu mengelapnya menggunakan tisu.
Dia ini sedang marah tapi mengapa berlaku romantis, pikir Heena, yang masih belum paham dengan sikap Aldebaran saat ini.
Saat Heena masih termenung bingung memikirkan sikap Aldebaran, tiba-tiba mendengar pria itu bicara.
"Aku tidak suka tangan kamu di pegang pria lain." Aldebaran mengangkat tangan Heena untuk menunjukkan pada Heena.
Eh, apa ini, apa dia cemburu, oooo dia cemburu sampai mencuci tanganku, batin Heena senyum bahagia.
Saat tangannya kembali di tarik oleh Aldebaran untuk dibawa ke luar dari dalam kamar mandi, Heena mengikutinya dengan bibir senyum-senyum sendiri.
Aldebaran meninggalkan Heena berdiri di samping ranjang, kemudian ia berjalan menuju balkon, dan membuka pintu kaca itu selebar mungkin, angin malam seketika menerpa wajahnya yang saat ini sedang berjalan menuju tepi balkon, Heena yang masih di dalam kamar juga merasakan angin malam masuk ke dalam kamar.
Memejamkan mata sesaat, membuka mata perlahan kemudian Heena berjalan menuju balkon mengikuti Aldebaran.
Menghela nafas berdiri sejenak di belakang Aldebaran, menatap punggung pria itu, yang berdiri seraya tangannya berpegangan pada pagar balkon.
"Aku harus apa supaya kamu tidak marah." Heena bicara pelan seraya tangannya mengusap-usap perut sixpack Aldebaran, tanpa Heena sadari itu mengganggu sesuatu di sana.
Aldebaran menarik nafas seraya memejamkan mata, sebenarnya bukan marah sama Heena, hanya kesal dengan Michael, pokonya intinya tidak suka bila Heena didekati pria lain, Aldebaran marah dan tidak tahu harus bersikap apa, hingga malah tadi melukai bibir Heena.
Aldebaran menoleh, pada posisi ini ia bisa mencium aroma wangi rambut Heena. Merasakan wajah Heena mengusel-ngusel punggungnya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa lagi dengan Michael."
Memang tidak ada hubungan lagi dengan Michael, tapi bukan itu yang Aldebaran tangkap, pria itu mengira Heena melindungi Michael hingga dirinya tidak boleh marah.
Aldebaran memutar tubuhnya, menoleh kursi sebelah, lalu membawa Heena duduk, lebih tepatnya Heena duduk di pangkuannya.
Deg! Mengapa dia masih marah, memang aku salah bicara, batin Heena. Menyadari posisinya yang sangat dekat dan bahkan saat ini tangannya melingkar di leher Aldebaran, Heena jadi malu dan menunduk.
Cih, dia senyum-senyum karena membela laki-laki itu, aku tidak akan biarkan laki-laki itu masih berada dalam hatimu! Ucapan batin Aldebaran yang semakin membuatnya salah paham.
Aldebaran menarik kembali tangan Heena yang mau diturunkan dari lehernya.
Heena bengong melongo, apa lagi saat menangkap tatapan menyeringai Aldebaran, sesat kemudian Heena memejamkan matanya saat merasakan bibir basah mengecup lehernya, yang rasanya geli-geli aneh, bila dirasa dari kecupan itu pasti meninggalkan bekas merah.
Bersamaan Heena membuka mata, Aldebaran menjauhkan wajahnya perlahan, Heena saat ini bisa melihat wajah Aldebaran yang masih menunjukan aura dingin tapi malah terlihat tampan dan keren.
Heena kau menyukainya, menyukai kecupan itu, Heena dasar dasar kamu ya, batin Heena memarahi diri sendiri.
Jantung Heena berdetak lebih kencang, saat merasakan tangan Aldebaran semakin mengeratkan pelukannya, dan wajah pria itu semakin mendekat, Heena memejamkan mata otaknya sudah traveling.
"Aku akan beneran menghukum mu bila sampai aku melihat kamu bertemu dengan ..." Aldebaran tidak menyebut nama Michael.
Heena jadi malu sendiri, ternyata Aldebaran cuma berbisik, eh dia berkata mengancam! Pikir Heena yang baru sadar.
"Berdiri."
Heena malah diam saat mendapat perintah berdiri dari Aldebaran, sampai mendengar pria itu bicara lagi.
"Apa kamu ingin aku melakukannya sekarang." Aldebaran tersenyum menyeringai.
Reflek Heena langsung menganggukkan kepalanya, eh! aku kenapa batin Heena seraya menutup mulutnya.
Aldebaran tersenyum miring. "Yakin mau? Kamu kan sedang datang bulan."
Eh! dari mana dia tahu pikir Heena yang seketika melongo mendengar ucapan Aldebaran.
Dari wajah bengongnya Heena, seolah Aldebaran bisa menangkap apa yang wanita itu pikirkan.
Aldebaran menuding hidung Heena. "Kamu ingin tahu aku bisa tahu dari mana, kamu lupa kita tinggal satu kamar, dan kamu membuang sampah plastik pembalut di tong sampah yang sama."
Hohoho, Heena bangkit berdiri dari pangkuan Aldebaran, sungguh malu yang dirasa saat ini, Heena berjalan mundur masih disertai senyum meringis, sampai di pintu balkon Heena berbalik dan langsung lari...