HEENA

HEENA
BAB 13. Do'a Yusuf.



Sejak kejadian malam pesta itu, Heena semakin dirundung pilu, pilu karena sikap Michael yang membuatnya semakin tidak mengerti.


Terkadang pria itu bersikap baik namun tidak jarang juga sikapnya kejam, bahkan pernah laki-laki itu berjanji akan memperbaiki semua kesalahannya, namun janji tinggallah janji.


Seperi itu terus hubungannya hingga lima bulan belakangan ini.


Ya, sudah lima bulan, wanita cantik bernama Heena itu harus merasakan rasanya kepahitan, pahit karena Madunya selalu bikin ulah dan ingin menguasai Suaminya sendiri.


Seperti yang terjadi sore ini, saat Mawar meminta Heena untuk membuatkan nasi goreng, dengan alsan ngidam pengen dibuatkan nasi goreng oleh Heena.


Namun ternyata semua itu adalah caranya untuk semakin membuat Michael membenci Heena.


Hueekk.


Mawar memuntahkan nasi goreng yang ia makan.


"Sayang, mengapa?" Michael panik, seharian ini ia tidak bekerja karena menjaga Mawar yang sedang hamil.


Kandungan Mawar sangat lemah itu kata Dokter, hingga membuat Michael turun tangan sendiri untuk menjaga Mawar.


Soal pekerjaan bila tidak terlalu penting mengharuskan ia ke luar, maka cukup di rumah ia menyelesaikannya, selebihnya ia serahkan ke Asistennya.


"Nasi gorengnya asin, aku kan alergi dengan rasa asin."


Mendengar keluh Mawar, Michael langsung meraih piring itu lalu mencicipi nasi goreng tersebut.


Dan benar saja nasi goreng itu sama persis dengan yang dikatakan Mawar, bahkan Michael sampai memicingkan matanya karena menahan rasa yang sangat asin.


Tanpa waktu lama, Michael ke luar kamar Mawar lalu mencari Heena serta membawa nasi goreng di piring tersebut.


"Heena!" teriaknya memenuhi seisi ruangan, Michael berjalan ke arah kamar putranya yang biasa Heena berada.


Dan saat pintu kamar di ketuk, Ane membukakan pintu, Michael menengok ke dalam, yang ternyata Heena sedang menidurkan Yusuf.


Ane mendekati Heena, menyampaikan pesan dari Michael sebelum laki-laki itu pergi tadi.


"Nyonya, Tuan, meminta, Nyonya, untuk menemuinya di ruang kerja."


Heena langsung menemui Michael di ruang kerja, di ruang tersebut juga ada Mawar yang bergelayut mesra di lengan Michael seraya mengusap perutnya yang mulai tampak buncit.


Deg.


Ada perasaan iri di hati Heena, dulu saat ia hamil Yusuf, Michael tidak semanis itu memperlakukan dirinya.


"Kau mau meracuni, Anak dan Istriku, dengan nasi goreng buatanmu yang asin ini!" Michael menyodorkan piring berisi nasi goreng.


Heena terkekeh masam, dalam hatinya ia sudah tau bahwa ini akal-akalan Mawar, karena tadi ia membuat nasi goreng banyak sekalian di makan bersama, dan tentu Mawar sudah menambah garam di nasi goreng miliknya.


"Baiklah akan aku makan."


Michael dan Mawar tidak percaya melihat Heena menghabiskan nasi goreng asin dengan begitu lahap.


Heena menunjukan piringnya yang sudah kosong, setelah itu ia ingin berlalu dari tempat itu namun Mawar menahan tangannya.


"Kau pasti sengajakan melakukan ini, supaya aku dan Anak aku keracunan!" Mawar berkata marah seraya mengusap perutnya.


"Apa menurutmu garam bisa meracuni, hah!" Heena tidak terima terus disalahkan.


"Kau!"


"Lepas!"


"Heena!"


Plak!


Sebagian wajah Heena tertutup rambut, wanita itu melirik pria yang barusan menampar pipinya, Heena menyelipkan rambutnya dengan kasar lalu menatap Michael dengan tajam.


"Sudah hebat kau menjadi seorang suami, hingga kau hanya bisa memukul, menyakiti, dan menyiksaku!"


Plak!


Bersaman Heena berhenti bicara, ia merasakan pipinya kembali panas. Namun itu hanya sesat, karena di detik kemudian Heena di tarik menuju halaman mansion lalu di ikat di tiang di bawah hujan yang deras.


Michael pergi meninggalkan Heena sendiri, sementara Mawar tersenyum penuh kemenangan.


Yusuf melihat mamanya di hukum hanya bisa menangis sedari tadi, Anak kecil itu menatap ibunya dari jendela kamarnya.


"Mama ...Mama huhuhu."


Ane sebagai pengasuhnya juga merasa sedih melihat Nonyanya di hukum di bawah air hujan.


Duar!


Suara petir mengiringi hujan turun, Yusuf berlari ke luar kamarnya lalu menuju halaman.


"Tuan Muda!"


Ane mengejar Yusuf yang sedang berlari.


"Mama?" Yusuf melepas ikatan di tangan Mamanya lalu mengajak Mamanya masuk ke dalam.


Dari arah balkon Mawar melihat Yusuf melepaskan Heena, senyumnya langsung berubah sinis.


Kejadian itu terus terjadi, Heena yang selalu kalah dan Michael yang lebih percaya terhadap omongan Mawar.


Hingga tepat hari ini Ayunda sebagai Adik satu-satunya Heena, ia mendatangi perusahaan Michael untuk membebaskan kakaknya.


"Apakah cinta bisa di bilang cinta, Kakak."


Ayunda duduk di kursi sofa dengan gerakan luar biasa santai. Matanya menatap Michael dengan teduh, bibirnya membentuk garis lengkung sejak melangkah masuk di ruang tersebut.


Michael menatap sekilas wanita yang dikenal sebagai Dokter ahli bedah itu, pikiran Michael sudah berkecamuk memikirkan maksud dari kata Adik Iparnya itu.


"Lepaskan, Kak Heena, aku rela melepas gelarku di hari ini asalkan, Kakak melepas, Kak Heena."


"Jika, Kak Heena, hanya istri sebagai penebus hutang, maka gelarku yang akan membayar."


Ayunda menangis, hatinya tiba-tiba sakit saat mengucapkan fakta status Kakaknya.


Maafkan aku kak, jika dulu aku tidak ingin jadi Dokter mungkin Kakak tidak berkorban sebesar ini.


Michael tersenyum sinis, karena ia tahu Ayunda sangat menyukai pekerjaannya itu.


Michael belum mau menjawab, ia meminta Ayunda untuk ke luar ruangannya, dengan berat hati wanita itu ke luar, namun dalam hati bila rencananya tidak berhasil, ia akan melakukan cara lain demi kebebasan Kakaknya.


Hari sudah berganti malam, Michael sudah sampai Mansion tepat pukul sepuluh malam.


Pria itu masuk ke kamar Yusuf, namun ia begitu kaget saat melihat putranya menangis sambil berdoa meminta kebahagiaan Ibunya.


"Yusuf, ingin Mama, bahagia Ya Alloh ...."


Huhuhu.


Suara tangis yang sangat pilu Michael dengar, seolah mampu menyayat hatinya, tidak terasa sudut matanya juga ikut menangis.