HEENA

HEENA
BAB 133. Chip penyadap suara.



Mata Aldebaran masih menelisik ruang kamar Ibu Tiara, kemudian beralih menatap Ibu Tiara, Aldebaran merasa ada yang aneh, membandingkan tiga CCTV di ruang kamar ini dengan Ibu Tiara yang sedang sakit, CCTV ini terlihat bukan seperti untuk melindungi dari hal buruk, tapi malah terlihat seperti untuk mengawasi gerak-gerik Ibu Tiara atau siapapun yang masuk ke ruang kamar ini.


Aldebaran jadi berpikir, apakah ini ada kaitannya dengan rahasia besar yang dimiliki Ibu Tiara, sampai Tuan Bara bertindak seperti ini, karena tidak ingin dibohongi.


Tapi entahlah, ini hanya pemikiran Aldebaran saja, dan lamunannya tersadarkan saat suara Heena memanggil.


"Al?" Heena menolah ke arah Aldebaran seraya mengulurkan tangannya.


Ibu Tiara mengerutkan dahinya seraya berpikir siapa pria itu.


Aldebaran mendekat seraya meraih tangan Heena, Heena tersenyum dan membawa Aldebaran untuk berdiri di sampingnya ia duduk di tepi ranjang.


Heena masih menggenggam tangan Aldebaran seraya menatap wajah Ibu Tiara dengan tersenyum. "Ibu, ini adalah suami aku." Heena beralih tersenyum ke arah Aldebaran seraya menempelkan punggung tangan Aldebaran ke pipinya.


Mendengar dan melihat Putrinya bermanja dengan pria yang baru Ibu Tiara dengar adalah suaminya, mata Ibu Tiara langsung berkaca-kaca, tidak menyangka putri kecilnya kini sudah menikah, miliki suami yang tampan.


Melihat Suami Putrinya yang sepertinya orang baik, Aldebaran tersenyum melihat Ibu Tiara.


Aldebaran menyalami tangan Ibu Tiara sebagai tanda hormat karena ibu mertuanya, Ibu Tiara mengusap kepala Aldebaran disertai tangis haru. "Ibu titip putri Ibu, ya."


Aldebaran mengangkat wajahnya lalu mengangguk kecil.


Ibu Tiara beralih menatap Heena. "Kamu mau kan tinggal di sini beberapa hari?" tanya Ibu Tiara dengan penuh harap.


Melihat wajah Ibunya yang memelas, Heena tidak tega dan langsung memeluk Ibu Tiara.


Ya, Heena dan Aldebaran sudah putuskan bersama untuk tinggal di rumah ini, guna untuk mengetahui semua hal yang terasa mengganjal, dan membuka alasan Ibu Tiara dulu yang membuang Heena karena alasan firasat buruk, Heena dan Aldebaran perlu membuka itu semua sampai jelas dan tuntas.


Jam makan malam telah tiba, pelayan khusus yang mengurus Ibu Tiara datang ke kamar dengan membawa nampan yang berisikan makan malam untuk Ibu Tiara.


"Leha, malam ini kamu boleh keluar, saya mau makan bersama putriku," ucap Ibu Tiara saat nampan makanan di ambil alih oleh Heena yang saat ini tersenyum ke arah Leha.


Leha mengangguk paham, lalu ijin undur diri untuk kembali ke belakang.


Heena menyuapi Ibu Tiara, sembari kunyah-kunyah Ibu Tiara bicara, "Selama ini kamu tinggal bersama siapa, Nak."


"Heena miliki orang tua angkat, Ibu. Mereka sangat baik dengan Heena." Heena bicara dengan tersenyum, Ibu Tiara yang melihat senyum Heena, dalam hati bersyukur bila putrinya di urus orang baik, yang seharusnya dirinya yang melakukan itu semua, namun tidak bisa dan ahirnya kehilangan kesempatan momen bersama bayi kecilnya dulu.


Menerima suapan lagi dan kunyah-kunyah, Ibu Tiara sekarang jadi penasaran dengan orang tua angkat Heena. "Apa sekarang mereka masih sering bertemu denganmu, Nak."


Heena tersenyum getir, Ibu Tiara jadi bingung melihat raut wajah Heena yang berubah.


"Ayah sudah meninggal, dan ibu sakit jiwa." Heena menunduk, tiba-tiba hatinya terasa sedih mengingat Ayah dan Ibu Jamilah.


Ibu Tiara menggelengkan kepalanya. "Maaf, Ibu tidak bermaksud mengingatkan-."


"Tidak apa-apa Ibu?" ucap Heena cepat seraya mengangkat sendok ke arah mulut Ibu Tiara.


Ibu Tiara mengunyah pelan makanan di dalam mulutnya, kini ia sudah tahu kehidupan putrinya di luar sana tanpa dirinya, dan melihat putrinya sedih saat bercerita orang tua angkatnya, hati Ibu Tiara terasa tergores.


Setelah makanan Ibu Tiara habis, Heena dan Aldebaran menemani Ibu Tiara sampai wanita itu terlelap, Aldebaran dan Heena kemudian mengikuti langkah Leha yang mengajak keluar kamar Ibu Tiara.


Leha akan menunjukan kamar untuk Heena selama tinggal di sini, setelah sampai di depan pintu kamar, yang Heena pikir adalah kamar untuknya, ternyata tidak jauh dari kamar Ibu Tiara, hanya saja jalannya berbelok-belok.


Leha memberikan kunci kamar ke Heena, lalu pergi namun sebelum itu, Leha mengatakan bahwa akan mengantar makan malamnya ke kamar, karena Aldebaran dan Heena belum makan.


Heena dan Aldebaran melangkah masuk setelah pintu kamar terbuka.


Seketika ruang kamar yang indah memanjakan mata Heena yang menyambut.


Heena dan Aldebaran masuk ke dalam, Aldebaran berjalan menuju kursi sofa, Heena masih berdiri seraya pandangannya menyapu ke seisi ruang kamar. Tanpa Heena sadari tingkahnya itu di perhatikan oleh Aldebaran.


Ruang kamar ini memang sangat mewah, dindingnya, keramiknya, bahkan hiasan yang ada di ruangan ini.


Aldebaran yang gemas dengan tingkah Heena, menarik wanitanya hingga jatuh di pangkuannya, Aldebaran melingkarkan tangannya di pinggang Heena, seraya meletakkan kepalanya di bahu Heena.


Sekarang yang terlihat manja adalah Aldebaran, tangan Heena tidak bisa bergerak, karena Aldebaran memeluk pinggang Heena lewat luar kedua lengan Heena, kini Heena seperti terkunci.


"Al?"


"Jangan bicara," tolak Aldebaran, dirinya hanya mau diam seperti ini tanpa bicara.


"Kenapa tidak boleh?" tanya Heena dengan kening berkerut.


"Ikuti saja mauku."


Heena menghela nafas panjang. "Baiklah," ucapnya pasrah, lagian siapa sih yang membantah, rang cuma bertanya saja pikir Heena, dengan bibir mengerucut tajam.


Pintu kamar di ketuk dari luar, Heena mau membuka tapi di tahan oleh Aldebaran, Heena mencium pipi Aldebaran, baru tangan pria itu menyingkir dengan tawa terkekeh.


Heena menggelengkan kepalanya seraya berjalan menuju pintu lalu membukanya, ternya Leha yang datang mengantar makan malam, Heena menerima nampan itu, dan mengatakan bila leha boleh pergi.


Heena membawa makanan itu masuk ke dalam, ia letakkan di atas meja depan sofa tempat Aldebaran duduk tadi, tapi saat ini pria itu tengah berdiri di samping ranjang dan sedikit membungkuk sembari tangannya meraba-raba di bawah ranjang.


Aldebaran seperti mencari sesuatu, tapi apa? Pikir Heena yang masih terus memperhatikan Aldebaran dengan melipat kedua tangannya di depan dada.


Aldebaran seperti mendapat sesuatu dari bawah ranjang tidur itu, Heena mendekat karena ingin tahu apa yang Aldebaran pegang saat ini.


"Itu apa Al?" tanya Heena saat melihat benda kecil di tangan Aldebaran, karena dirinya benar-benar tidak tahu gunaan benda kecil itu yang lebih mirip seperti mainan anak.


Tapi Heena semakin bingung saat Aldebaran diam saja dan wajahnya nampak serius.


Kecurigaan Aldebaran benar, tentang perasaannya yang di rumah ini ada yang aneh, dan Aldebaran sampai bertanya-tanya dalam hatinya, mengapa benda seperti ini harus di pasang di kamar tempat dirinya akan menginap.


Aldebaran diam karena benda ini masih hidup belum di matikan, Aldebaran meletakkan benda itu di lantai kemudian menginjak dengan kakinya yang masih menggunakan sepatu.


Heena bingung saat melihat Aldebaran malah merusak benda itu.


Di ruangan ini tidak ada CCTV, tapi Aldebaran masih curiga bila masih ada benda seperti tadi di sekitar kamarnya ini.


Aldebaran mengetik di hp kemudian menunjukkan pada Heena. Seketika mata Heena terbelalak setelah membaca tulisan di hp Aldebaran.


Chip penyadap suara, gumam Heena sembari menutup mulutnya yang karena terkejut.