HEENA

HEENA
BAB 137. Ruang bawah tanah.



Tuan Bara dan istrinya Mala sama-sama terkejut saat melihat siapa yang saat ini ada di hadapannya.


"Tidak perlu Ayah dan Ibu melanjutkan ini semua, biarlah Rexci saja yang pergi!" nada suara Rexci sedikit tinggi karena kesal dengan kedua orang tuanya yang masih terus ingin melanjutkan rencananya itu.


"Rexci bukan begitu-," ucapan Mala terhenti saat suaminya memotong pembicaraannya.


"Pergi dari sini, kau hanya boleh menurut tidak usah menganggu rencana Ayah!" bentak Tuan Bara, Mala langsung mengusap lengan suaminya supaya amarahnya mereda.


Masih dengan tatapan kesal, Rexci ahirnya pergi dari tempat tersebut berjalan menuju kamarnya.


Sementara Tuan Bara dan Mala tetap terus melanjutkan tujuan mereka.


Malam panjang pun terlewati, kini semuanya sudah duduk di kursi ruang makan, melaksanakan sarapan pagi.


Sesekali Tuan Bara mengajak bicara dan bercanda, benar-benar tidak kelihatan bila dirinya miliki niat jahat untuk Heena.


Aldebaran juga menanggapinya open tidak yang hanya mendengar dan diam, bila dilihat cara perlakuannya memang sangat baik, siapa sangka di balik bibirnya yang selalu berkata manis itu, miliki niat jahat di hatinya.


Setelah selesai sarapan pagi, Heena mengantar Aldebaran berangkat kerja sampai ke depan.


Setelah mobil Aldebaran pergi, Heena kembali masuk ke dalam, namun baru balik badan Heena terkejut saat tiba-tiba melihat Mala sudah berdiri di hadapannya.


Heena bingung saat Mala tersenyum ke arahnya, benar-benar bukan seperti sikap wanita itu yang biasa ditunjukkan pada dirinya.


"Heena mari ikut saya, saya akan menunjukan baju yang akan kamu gunakan nanti malam," terang Mala masih disertai senyum manis.


Heena kemudian mengikuti langkah Mala berjalan di belakang wanita itu. Heena tidak tahu mau di bawa ke mana, yang pasti sedari tadi melewati banyak ruangan, dan rumah ini memang sangat besar, jika di minta untuk menghafal jalan yang tadi Heena lewati pasti lupa.


Dan kini langkah mereka berhenti tepat di depan pintu, Mala tersenyum lagi ke arah Heena sebelum akhirnya membuka pintu ruang tersebut.


Hal pertama yang Heena lihat di dalam ruangan ini adalah kegelapan, Mala menyalakan lampu, dan seketika Heena bisa melihat isi dalam ruangan tersebut.


Sebuah macam gaun, dan beraneka gaun ada di dalam ruangan ini, sudah seperti toko baju.


Mala mengajak Heena berjalan masuk ke dalam. Mereka berdiri tepat diantara gaun-gaun yang di gantung tersebut, namun masih lengkap dengan bungkusnya, bahkan harganya juga masih ada, Heena bisa melihat itu.


"Kamu pilih salah satu diantara semua gaun ini, untuk kamu gunakan nanti malam." Mala bicara seraya membuat gerakan tangan menunjukan semua gaun.


Sebenarnya Heena tidak perlu ini semua, tapi mengingat acara nanti malam adalah untuk kesembuhan Ibunya, Heena mau lakukan yang terbaik, meski sedikit aneh pikirnya mengapa harus menggunakan gaun, padahal acara pengobatan.


Pilihan Heena jatuh pada gaun bewarna hijau, Mala awalnya sedikit keberatan saat Heena memilih warna hijau, karena itu lambang keberuntungan, Mala bingung saat ternyata masih ada gaun warna hijau di ruangan ini, padahal kemarin ia sudah memastikan tidak ada warna hijau lagi.


Tapi Mala juga tidak akan mencegah, dan biarlah Heena tetap menggunakan gaun warna hijau itu.


Bila Heena berjalan menuju kamar, berbeda dengan Mala, wanita itu pergi dari rumah entah tujuan mau kemana, namun sebelum mereka berdua terpisah tadi, Mala meminta Heena untuk mempersiapkan diri untuk nanti malam, dan berpesan juga jangan sampai sakit. Dan memberikan denah jalan menuju ruang bawah tanah.


Heena yang saat ini duduk di tepi ranjang seraya menatap gambaran denah di kertas yang dirinya pegang, mencermati gambar


denah tersebut, jalannya di mulai dari kamar Heena, dan bila di lihat-lihat masih melewati jalan yang barusan dirinya lewati.


Heena mengangguk paham, kemudian menyimpan denah tersebut.


Setelah seharian terlewati, kini tiba juga malam yang telah di tunggu, Heena yang saat ini masih berada di dalam kamar, memfoto gambar denah tersebut kemudian ia kirim ke ponsel Aldebaran.


Saat ini pukul tujuh malam, Aldebaran yang masih bertemu klien belum sempat membuka hp nya.


Heena menunggu pesan balik dari Aldebaran, namun tidak kunjung di balas, Heena ahirnya milih keluar kamar, karena sudah di tunggu Ayahnya di luar.


Heena benar-benar menggunakan gaun warna hijau, kulitnya yang putih membuat warna itu sangat cocok untuk Heena, meski tanpa polesan make up, Heena tetap terlihat cantik.


Heena berjalan sendiri, meski bulu kuduknya berdiri merasa merinding, tapi Heena tetap lanjut terus berjalan.


Heena melihat arlojinya, padahal waktu baru jam tujuh malam, tapi melewati ruangan ini sudah seperti berjalan di waktu jam dua belas malam.


Yang pasti ruang bawah tanah itu sangat jauh, Heena berjalan selama dua puluh menit baru sampai.


Di depan Heena berdiri ada pintu besar yang diukir, di depan pintu itu, ada dua orang penjaga, Heena melihat wajah dua orang itu bergantian, mereka diam saja tidak menyapa, Heena merasa ada yang aneh dengan mereka .


Heena kemudian menyentuh pintu itu, namun secara otomatis setelah Heena sentuh, pintu itu terbuka dengan sendirinya.


Perlahan pintu terbuka lebar, Heena belum melangkah masuk, ia masih melihat isi di dalam dari tempat dirinya berdiri, dan dari arah sini Heena hanya melihat lilin-lilin menyala di dalam sana.


Ada perasaan takut yang menyeruak di dalam hati Heena, namun tidak bisa menjelaskan apa?


Heena kembali teringat tujuannya datang ke mari adalah untuk kesembuhan Ibunya, dengan tekad yang berani, Heena ahirnya melangkah masuk ke dalam.


Pintu otomatis tertutup sendiri, Heena balik badan melihat pintu sudah tertutup sempurna, Heena ketakutan dan berusaha mau membuka pintu itu lagi tapi tidak bisa, Heena mau berteriak namun tiba-tiba suara Ayahnya menyadarkan dari ketakutannya itu.


"Nak, kemarilah?"


Heena menoleh ke belakang saat mendengar suara Ayahnya, dan ternyata yang Heena lihat setelah berbalik badan, tidak hanya ada Ayahnya tapi juga ada Rexci dan Mala di ruangan ini.


Yang Heena perhatikan tidak hanya pakaian yang di gunakan mereka bertiga yang menggunakan warna serba hitam, tapi juga ruangan ini, banyak patung yang mengerikan, tempatnya gelap, hanya lilin sebagai penerang cahaya di tempat ini.


Setelah pandangannya menyapu ke seisi ruangan, kini yang terakhir Heena lihat adalah tempat ritual, semua itu seperti aneh, dan Heena berpikir mengapa tidak ada Ibunya, mengapa Ibunya tidak dibawa ke mari, baru saja Heena ingin bertanya, namun lebih dulu tubuhnya ambruk, karena dua orang di belakangnya membuat Heena tidak sadarkan diri.