
Setelah kepergian Heena, Yusuf terus menangis, Michael dengan sabar terus membujuknya.
Malam ini Michael menemani Yusuf tidur, memeluk putranya, yang kadang mengigau memanggil Mamanya.
Michael menatap jam di dinding, saat ini menunjuk pukul sebelas malam, dan perlahan matanya mengantuk lalu tidur bersama putranya.
Saat tiba waktu subuh, Michael merasakan ada sebuah jemari mengusap wajahnya. Dan saat ia membuka mata, ternyata putranya sudah bangun.
"Yusuf, mau colat, Pa. Mau mendoakan Mama."
Air mata itu kembali menetes dari sudut mata putranya, Michael tidak sanggup melihatnya, ia segera mencium putranya lalu mengajaknya mengambil air wudhu.
Sholat berjamaah berdua, Yusuf mencium punggung tangan Papanya setelah sholat itu usai.
Yusuf memanjatkan doa untuk keselamatan dan kebahagiaan Ibunya dan Papanya. Air matanya kembali menetes, tangan mungilnya mengusap wajahnya tanda ia sudah selesai berdoa.
Michael meraih tubuh kecil putranya untuk ia peluk, ia cium puncak kepala putranya, mendekapnya dengan sayang, tiba-tiba tanpa permisi air matanya juga menetes.
"Maafkan Papa, Nak," ucapnya dalam hati.
Yusuf mendongakkan kepalanya untuk bisa menatap wajah Papanya. "Papa, Yusuf mau cucu."
Michael yang tidak biasa mendengar permintaan Putranya sedikit merasa aneh, pikirnya mengapa subuh-subuh minta susu, tapi ia menuruti saja, mungkin itu kebiasaan putranya yang tidak pernah ia ketahui.
Karena mulai sekarang ia akan menggantikan posisi Heena, yang biasanya mengurus putranya.
Setelah kepergian Papanya ke dapur, Yusuf berjalan menuju ke arah laci, lalu ia mengambil sebuah foto dari dalam laci tersebut.
Yusuf membawanya untuk duduk di ranjangnya, tangan mungilnya mengusap foto tersebut, sebuah foto Yusuf dan Heena dan juga Michael.
Yusuf memeluk foto tersebut, air matanya kembali bercucuran di pipi.
"Mama, Yusuf sayang banget sama, Mama. Huhuhu."
Deg!
Michael yang sudah kembali ke kamar putranya dengan membawa sebotol susu, ia terkejut mendapati Yusuf yang menangis dengan menyebut nama Mamanya.
Michael benar-benar merasa bersalah, ia menghela nafas panjang sebelum ahirnya kakinya melangkah mendekati putranya yang duduk di ranjang.
Hatinya sudah memantapkan bahwa nanti ia akan mengajak Yusuf untuk berkunjung menemui Heena.
Dan Michael semakin terkejut saat mendapati putranya yang ternyata tadi menangis sambil memeluk sebuah foto, sebuah foto bersama sewaktu dulu di Paris.
"Minum sayang." Michael menyodorkan botol susunya, Yusuf meraihnya dan meminumnya.
Pagi itu saat sebelum sampai sekolahan Yusuf, Michael mengajak putranya untuk bertemu Heena, namun dengan syarat tidak boleh nakal dan harus tetap berangkat sekolah.
Yusuf menjawab dengan semangat, kini wajahnya tidak lagi ada guratan kesedihan.
Heena yang lagi masak di dapur, ia seperti mendengar sebuah mobil yang berhenti di halaman rumah.
Heena lalu mengintip dari jendela dapur yang langsung mengarah ke halaman rumah. Dan saat itu matanya melihat sosok kecil yang mengunakan seragam sekolah TK, tangan mungilnya di gandeng pria dewasa.
"Yusuf," gumamnya. Lalu berlari menuju ruang utama dan membukakan pintu.
"Mama ...."
"Awas jatuh!" Kekhawatiran Michael saat melihat Yusuf berlari.
Heena menciumi pipi putranya begitupun dengan Yusuf yang juga menciumi pipi Mamanya.
"Mama, Yusuf. Tidak bisa lama, tapi Yusuf sudah cenang bisa beltemu, Mama." Yusuf mencium pipi Mamanya lagi.
Heena mencium kening putranya, rasanya pertemuan singkat ini sudah mengobati rasa rindunya.
"Belajar yang giat, Sayang."
Genggaman tangan itu terlepas seiring langkah putranya yang berjalan menuju mobil.
Sejenak matanya bertemu dengan mata manik indah milik Michael saat pria itu menoleh ke arahnya.
Heena langsung memalingkan wajahnya, dan tidak lama dari itu terdengar deru mobil berjalan menjauh dari halaman rumahnya.
Iya, Heena kamu harus bisa, tunjukan pada dia bahwa kamu bisa tanpanya. Bagian hati Heena menasehati, Heena mengusap sudut matanya lalu kembali ke dalam rumah.
Seharian ini masih Heena gunakan untuk membereskan rumahnya, menata barang supaya terlihat rapih, yang sebenarnya ini rumah terlalu besar bagi dirinya yang hanya tinggal seorang diri.
Dan rencana besok Heena akan mulai mencari kerja, setelah masakannya selesai ia langsung sarapan dan mandi lalu melanjutkan aktivitasnya.
Waktu tiba siang hari.
Yusuf pulang sekolah, kali ini ia hanya bersama Ane dan sopir, wajahnya nampak sedih yang mungkin belum terbiasa tanpa hadirnya Mamanya.
"Tuan Muda, ayo makan siang." Ane membujuk, namun Yusuf menggelengkan kepalanya.
"Mama, Yusuf mau Mama." Yusuf mulai menangis lagi. Ane langsung menggendong Yusuf namun tangisnya belum henti juga.
Hingga suara tangisannya terdengar di telinga Mawar, wanita itu menapaki tangga, wajahnya terlihat marah dan kesal karena tangisan Yusuf sudah mengganggu waktu istirahatnya.
"Hei kau bisa diam tidak!"
Suara bentakan Mawar semakin membuat pilu tangisan Yusuf. "Mama, huhuhu ...."
"Tuan Muda, tenanglah." Ane mengusap punggung Yusuf supaya bisa lebih tenang.
Mawar tidak berhenti begitu saja, ia terus mengoceh memarahi Yusuf yang tidak mau diam menangis.
Heena menunjuk Yusuf, yang saat ini ia berada di dekat Ane berdiri yang sedang menggendong Yusuf. "Kau seharusnya ikut ibumu yang sialan itu! di sini kau hanya menyusahkan!"
"Mawar!"
Deg!
Mendengar sebuah suara yang sangat ia kenal, langsung membuat tubuh Mawar membeku, ia tidak menyangka akan ketahuan memarahi Yusuf.
Dan semakin membeku saat mendengar sebuah kalimat amarah.
"Beraninya kau membentak putraku, dan mengatakan dia menyusahkan, hah!"