HEENA

HEENA
BAB 61. Menegang.



Setelah berhasil mengambil uang kes, Pak Muklis kembali ke hotel, sementara ini ia akan sembunyi di hotel, sambil mencari tempat yang aman.


Saat ini Aldebaran dan Asisten Dika sudah bergabung dengan polisi yang bertugas di lapangan, salah satu polisi datang mendekat berhasil melacak keberadaan Pak Muklis, terakhir Pak Muklis mengambil uang tunai di kota Bandung.


Aldebaran dan para polisi lainnya langsung berangkat ke Bandung.


Setelah menempuh perjalanan beberapa jam, kini sudah sampai di tempat tujuan.


Aldebaran dan para polisi bertanya pada orang sekitar, serta menunjukan foto Pak Muklis, namun mereka menjawab tidak melihat.


Foto-foto Pak Muklis kini sudah di tempel di semua tempat, semua orang bisa melihat dan membaca hadiahnya bila berhasil menangkap.


"Bagaimana ini, Pak." Aldebaran bertanya pada polisi.


"Sebaiknya kita cari di hotel-hotel yang ada di kota ini."


Semua orang setuju dengan pendapat salah satu polisi tersebut. Mobil mereka mulai mendatangi setiap hotel yang yang ada di kota Bandung.


Sudah sekitar ada tiga hotel yang sudah didatangi, namun tidak ada nama Pak Muklis yang tertera menginap di hotel tersebut.


Dan kini adalah hotel yang keempat yang mereka datangi, waktu sudah menjelang sore hari, sambil istirahat mereka semua berhenti sebentar.


Aldebaran dan Asisten Dika bersama dua polisi masuk ke dalam hotel, bertanya pada receptionist, namun jawabannya sama dengan hotel-hotel sebelumnya, bahwa Pak Muklis tidak ada.


Aldebaran dan yang lainnya kembali ke luar, kebetulan samping hotel ada restoran, mereka istirahat dulu sebelum melanjutkan pencarian lagi.


Pak Muklis sengaja tidak menghidupkan hp karena tidak ingin keberadaannya di lacak, dan saat ini ia begitu merindukan Mulan.


Waktu sudah masuk malam, para polisi dan Aldebaran kini berdiri di area halaman hotel.


Pak Muklis yang buka hordeng jendela begitu terkejut saat melihat ada polisi di bawah.


"Ini tidak mungkin mereka ada di sini," gumamnya takut.


"Gimana ini, aku harus apa." Pak Muklis gusar, cepat atau lambat pasti akan ditemukan bila hanya diam di hotel.


Meski ia mengunakan identitas palsu dan KTP orang lain, namun Pak Muklis merasa tidak tenang.


Pak Muklis mengintip ke bawah lagi, ternyata mobil polisi berjalan pergi saat ini.


Pak Muklis bersiap untuk pergi dari hotel ini, siang tadi setelah mengambil uang tunai, Pak Muklis menyewa mobil, masih dengan mengunakan identitas palsu.


Anjing pelacak tadi menggong-gong, yang itu artinya Pak Muklis ada di hotel ini,saat ini Aldebaran dan para polisi lainnya sedang menyusun stra tegi.


Sementara Asisten Dika sembunyi untuk terus mengawasi siapa pun orang yang tampak mencurigakan yang ke luar hotel.


Di tempat lain.


Mulan memeluk foto ayahnya dengan menangis, yang saat ini duduk di ranjang Ayahnya.


Mulan mendekap Foto Ayahnya di dekat dada, khawatir dengan keadaan Ayahnya, air matanya tidak bisa ia bendung sejak tadi.


"Ayah maafkan Mulan, sekarang Mulan tidak tahu Ayah di mana." Mulan semakin terisak, tidak karuan merasakan kesedihan.


Hingga lama kelamaan Mulan tertidur di kamar Ayahnya.


Mulan mimpi buruk, di dalam mimpinya Ayahnya tertembak dan berhasil di tangkap.


"Ayah ...."


Mulan bangun dari tidurnya, nafasnya terengah-engah. "Ayah," ucapnya lirih sambil menangis lagi.


Perasaan Mulan semakin takut bila Ayahnya tertangkap seperti dalam mimpinya.


"Ayah ... maafkan Mulan." Mulan menangis terisak seraya memeluk bantal guling.


Di Bandung.


Pak Muklis sudah bersiap untuk ke luar dari hotel, sampai di teras hotel, Pak Muklis menoleh ke kanan dan ke kiri memastikan tidak ada polisi.


Setelah merasa aman, pak Muklis berjalan menuju mobil sewanya, mengunakan topi dan masker.


Asisten Dika yang melihat orang yang mencurigakan langsung menghubungi Aldebaran dan polisi yang masih menunggu di tempat tersembunyi.


Saat orang mencurigakan yang Asisten Dika lihat sudah masuk ke dalam mobil.


Asisten Dika cepat-cepat masuk ke dalam mobilnya, yang ingin mengikuti mobil tersebut.


Saat mobil Pak Muklis di jalankan, Asisten Dika juga ikut menjalankan mobilnya.


"Aku harus segera pergi dari kota ini," gumamnya seraya serius menyetir.


Mobil terus melaju hingga tiba diperbatasan parkir area Hotel, tiba-tiba dua mobil menghadang mobil Pak Muklis, hingga menimbulkan decitan mobil yang memekik, karena Pak Muklis segera mengerem.


Ciiiiittttttt!


Sialan! umpat Pak Muklis, saat melihat mobil satu muncul dari depan, dan satunya muncul dari samping.


Pak Muklis menoleh ke belakang, ingin berbalik arah, namun ternya di belakang mobilnya juga ada mobil yang menghadang, Pak Muklis saat ini terkepung.


Polisi dan Aldebaran kini ke luar mobil, sudah siap dengan pestol di tangan masing-masing, yang di arahkan tempat di mobil Pak Muklis.


Berjalan lebih mendekat ke mobil Pak Muklis, Pak Muklis saat ini sudah merasa takut, ia terjebak dengan keadaan, yang ia pikir sudah aman ternyata mereka sembunyi memancing dirinya untuk ke luar, pikir Pak Muklis.


Antara menyerahkan diri, atau kabur, namun Pak Muklis bingung mau kabur juga kini ia sudah di kepung.


Deg!


Deg!


Jantung Pak Muklis semakin berdetak hebat, saat polisi dan juga Aldebaran kini sudah mengedor-gedor pintu mobilnya.