HEENA

HEENA
BAB 107. Menggigit jari



Asisten Dika menatap satu per satu wajah yang di hadapannya, Angel dan dua temannya, serta lima orang lainnya yang tadi mendorong-dorong tubuh Heena dan dua wanita yang menyiram air jus ke tubuh dan wajah Heena.


"Siapa yang membawa masalah ini!" Asisten Dika bertanya dengan suaranya yang dingin, meski sudah tahu siapa orangnya, tapi Asisten Dika ingin melihat pengakuan dari Angel.


Belum sempat Angel bicara, wajahnya lebih dulu di tunjuk semua orang. Angel menelan ludah dengan kasar, mau tidak mengakui tapi kenyataanya memang ia penyebab masalah ini.


"Saya Tuan, saya minta maaf tolong jangan pecat saya, Tuan." Angel bicara dengan kepala menunduk dalam, berharap mendapat rasa iba dari Asisten Dika.


Asisten Dika tidak menjawab kata maaf dari Angel, dirinya tidak butuh semua itu, ia hanya ingin mendengar pengakuan kesalahan dari Angel.


Dengan wajahnya yang masih tampak dingin dan tatapan menusuk, lima wanita dan dua wanita langsung merasa bila perusahaan mereka saat ini sedang tidak lagi aman.


Dan ketakutan itu seolah langsung menjadi kenyataan saat mendengar kalimat yang terucap dari bibir pria yang dikenal tangan kanan Aldebaran itu.


"kalian bertujuh, sudah tahu kan bila wanita tadi yang kalian keroyok adalah istri kesayangan Tuan Aldebaran, dan kalian semua sudah menyakiti tanpa mau mencari tahu siapa wanita itu lebih dulu, pulanglah sekarang dan jangan menyesali apa yang akan kalian lihat di hari esok."


Sebuah penjelasan yang diucapkan dengan pelan dan penuh penekanan, seolah sudah memberi sinyal-sinyal kehancuran.


Mereka orang bertujuh tubuhnya bergetar, rasa takut benar-benar menyerang mereka, ada yang menjerit dalam hati tidak mau jatuh miskin, ada yang langsung lemas tidak bisa berpikir apa-apa lagi, ada yang bingung campur takut, dan masih banyak lagi ketakutan-ketakutan yang mereka rasakan saat ini.


Baru saja Asisten Dika membicarakan jangan menyesali apa yang terjadi di hari esok, tiba-tiba handphonenya mereka orang bertujuh mendapat notifikasi, tanpa ragu mereka semua membuka handphone masing-masing, dan begitu tercengang saat mendapat pemberitahuan bahwa saham perusahaan mereka masing-masing telah turun drastis.


Ternyata ancaman yang diberikan Asisten Dika lebih dulu terjadi dari pada ucapnya barusan, mereka orang bertujuh ingin memohon untuk tidak melakukan semua ini.


Namun melihat wajah dingin dan tatapan menusuk Asisten Dika, membuat mereka tidak berani.


Mereka semua berjalan pergi ke luar ruangan dengan kepala menunduk dan perasaan yang menyesal, karena sekarang imbasnya adalah perusahaan miliknya sendiri.


Sekarang masih tersisa tiga orang, mereka bertiga adalah karyawan di Al-Gazali Group, tentu mereka juga akan mendapatkan pembalasan yang setimpal.


Mereka bertiga sudah merasakan hawa dingin yang mencengkam, tubuh yang gemetar sembari meremat jemarinya.


Asisten Dika melirik arlojinya sebelum ahirnya bicara, "Temui saya besok pagi di ruang HRD."


Setelah berkata seperti itu, Asisten Dika langsung pergi meninggalkan mereka bertiga, yang saat ini langsung ambruk terduduk di lantai, membayangkan apa yang akan terjadi besok di ruang HRD, berlinang air mata memohon pada Tuhan supaya mendapat pertolongan dan kebaikan hati pemilik perusahaan supaya masih diijinkan bekerja lagi, meski itu hanya kemungkinan kecil.


Sebelum mereka bertiga pergi dari ruangan tersebut untuk kembali pulang, mereka bertiga saling menyalahkan satu sama lain, mengatakan salahmu dan saling menunjuk, dan ahirnya mereka pulang dengan naik taksi sendiri-sendiri, padahal tadi waktu berangkat mereka bersamaan.


Ternyata rasa tidak enak dan kikuk juga terjadi di dalam salah satu kamar presiden suite room hotel.


Ini adalah pertama kalinya Aldebaran dan Heena tidur di atas satu ranjang, setelah tadi banyak drama yang dilakukan Aldebaran karena tidak ingin satu ranjang dengan Heena, tapi saat tidur di atas karpet ia merasakan dingin yang luar biasa, membuat dirinya tidak ada pilihan lain yang ahirnya naik ke atas ranjang.


Mereka berdua tidur dengan saling memunggungi, dengan satu guling yang berada di tengah sebagai pembatas.


Heena menahan jantungnya yang terasa berdebar-debar, sulit rasanya untuk memejamkan matanya, hal yang benar-benar berbeda dengan yang pernah ia rasakan dulu, meski gemetar dan berdebar, tapi di bagian hati kecilnya merasa bahagia.


Heena senyum-senyum seraya meremat selimut yang saat ini membungkus tubuhnya.


Hal yang sama juga yang dirasakan oleh Aldebaran saat ini, jantungnya juga merasa berdebar-debar lebih cepat dari biasanya, Aldebaran berpikir besok akan memeriksakan kesehatan jantungnya yang merasa tidak normal, dulu pernah mencintai Heena tapi jantungnya tidak berdebar-debar sampai seperti ini.


Bahkan Aldebaran takut bila Heena sampai mendengar suara debaran jantungnya, rasa kantuk yang tadi menguasai kini malah hilang, dan hal ini semakin membuat Aldebaran resah.


Bila langsung tertidur kan akan terasa aman, berbeda bila masih terus berjaga seperti ini takut yang ia jaga juga akan malah terbangun.


Aldebaran juga pria normal yang pasti miliki keinginan untuk melakukan making love, namun selama ini ia tahan karena masih banyak hal yang harus ia luruskan dulu, dan tentunya meyakinkan hatinya dulu.


Aldebaran mengubah posisinya menjadi telentang, kini ia mendengar suara dengkuran halus Heena, yang bertanda wanita itu sudah masuk ke alam mimpi.


Aldebaran menoleh menatap punggung Heena.


Kamu tahu seberapa khawatirnya aku tadi saat Dika mengatakan kamu dalam bahaya, aku berlari cepat sudah seperti kehilangan kendali, tapi bagian hatiku merasa senang saat aku sampai sana, melihatmu dalam keadaan baik-baik saja, meski aku marah pada mereka yang berani membully kamu, tapi sekarang mereka sudah mendapat balasan yang setimpal.


Selesai bicara dalam hati, tangan Aldebaran terulur menyentuh rambut Heena. Eh ternyata jadi kunci Aldebaran bisa memejamkan mata, dan ternyata tertidur pulas sampai pagi tiba.


Pukul sembilan pagi di gedung Al-Gazali Group.


Angel dan dua temannya sudah masuk ke dalam ruang HRD, wanita bagian HRD juga ikutan memarahi Angel dan dua temannya, karena sudah berbuat sesuatu yang mencemarkan nama baik Presdir Al-Gazali Group.


Pagi-pagi sudah sarapan omelan ibu HRD, ditambah saat ini pria yang memintanya tadi malam untuk datang ke ruang HRD telah tiba, dengan wajah datar dan aura dingin lengkap dengan tatapan mata tajam.


Ibu HRD sudah memberi hormat saat Asisten Dika berjalan masuk, sementara tiga orang pelaku masih setia menunduk dalam.


Asisten Dika meminta amplop yang sudah ibu HRD siapkan, kemudian menyerahkan amplop tersebut pada tiga wanita di hadapannya.


"Buka dan baca!"


Mendengar kalimat perintah itu, mereka langsung membuka dan membaca, baru membaca paragraf pertama tangan mereka sudah gemetar karena ini adalah surat pemecatan, dan semakin gemetar dan syok saat membaca pernyataan bahwa tidak akan mendapat pekerjaan di mana pun perusahaan.


Saat itu juga mereka langsung menangis, bohong kalau masih kuat karena ini adalah hukuman yang sangat menyakitkan, sudah di pecat dan mendapat larangan kerja di perusahaan mana pun.


Asisten Dika tidak peduli, dengan tangis mereka semua, merasa tugasnya sudah selesai, Asisten Dika langsung pergi.


Ibu HRD yang tidak ingin pekerjaannya di ganggu langsung mengusir mereka bertiga.


Sekarang mereka bertiga melangkah ke luar perusahaan dengan menggigit jari.