HEENA

HEENA
BAB 33. Rencana Mulan.



Tampak ke luar kaki cantik putih mulus dari pintu mobil sport yang terbuka. Seorang wanita cantik berambut pirang bergelombang, menyembul ke luar menampakkan diri dengan sempurna.


Baju atasannya terbuka dengan bawahan rok panjang selutut, bibirnya ditekan rapat memberi kesan aura angkuh, berjalan menuju gedung D.A. Corp tanpa melepas kaca mata hitam.


Mengetuk pintu masuk, dari arah dalam Tia berjalan mendekati pintu lalu membukanya.


"Maaf ada yang dapat kami bantu?" tanya ramah Tia.


Wanita itu berdecak, seolah tidak suka dengan bahasa basa-basi yang Tia berikan, dengan angkuh seraya melepas kaca mata hitamnya, wanita itu bicara, "Saya mau bertemu dengan CEO D.A. Corp."


Wanita itu mau menerobos masuk, namun Tia langsung mencegahnya. "Maaf, Nona. Apa Anda sudah membuat janji temu? bila sudah, silahkan Anda menunggu, saya akan memberitahu Tuan Aldebaran atas kedatangan Anda kemari."


Tanpa mempedulikan perkataan Tia, wanita itu langsung menepis tangan Tia dengan kuat, lalu ia langsung berjalan masuk.


"Nona, tunggu!"


Tia langsung menghentikan langkahnya saat melihat wanita itu berhenti seraya menatap Asisten Dika yang berada di lantai dua.


"Mulan?" gumam pelan Asisten Dika.


Asisten Dika yang baru ke luar dari ruang CEO, tidak sengaja malah bertemu Mulan, yang entah belum tahu maksud tujuan wanita itu datang ke mari.


Saat ini Asisten Dika sudah berdiri di hadapan Mulan.


"Minggir! aku mau bertemu dengan Aldebaran!"


Gila! ini wanita apa tidak bisa bicara baik-baik, apa tidak tahu dia, bahwa laki-laki yang berdiri di hadapannya sekarang ini adalah orang kepercayaan Tuan Aldebaran, hah! sok cantik banget, umpatan batin Tia.


Heena dan juga Syifa yang mendengar suara ribut-ribut langsung mengintip.


"Anda tunggu di sini, Nona. Saya akan sampaikan dulu pada Tuan kami."


Wanita bernama Mulan itu tersenyum sinis seraya menatap Asisten Dika yang kembali ke lantai dua.


Tia kembali ke ruangannya untuk melanjutkan pekerjaannya.


Syifa langsung menyerbu Tia dengan pertanyaan-pertanyaan, sedangkan Heena wanita itu tidak peduli ia fokus terhadap pekerjaannya.


Mulan mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dengan tatapan jijik, sudah sempit dan jelek pikirnya.


"Mengapa Aldebaran mau-maunya bekerja di sini," gumamnya yang tidak habis pikir dengan jalan pikiran laki-laki yang saat ini ia datangi.


Asisten Dika menghampiri seraya mengatakan sudah diijinkan masuk.


Mulan langsung berjalan cepat ke lantai dua, yang langsung membuat Asisten Dika geleng kepala.


"Al ..." ucapnya setelah membuka pintu tanpa mengetuk dahulu.


Aldebaran menghentikan kegiatannya yang saat tadi sedang membaca sebuah dokumen.


"Katakan tujuanmu, setelah itu pergilah!"


Aldebaran tanpa basa-basi langsung melempar pertanyaan yang lebih tepatnya mengusir secara halus saat melihat Mulan baru duduk.


Apakah Mulan akan marah? tentu jawabnya tidak. Mulan memasang senyum yang manis, yang hanya ia tunjukan pada Aldebaran.


"Al, aku datang ke mari ingin menawarkan sesuatu." Mulan menatap Aldebaran yang terlihat sibuk membuka-buka dokumen.


Hemm.


Mendengar jawaban dehheman dari Aldebaran, Mulan melanjutkan bicaranya, "Bagaiman bila kamu bekerja di perusahaan papa aku, jadi kamu tidak perlu susah payah lagi seperti ini, lagian kau tidak pantas hidup susah, untuk apa kau lanjutkan?"


Aldebaran seketika menatap Mulan dengan wajah marah, ia benar-benar tidak terima pekerjaannya dihina. Mulan yang mendapat tatapan membunuh tubuhnya langsung gemetaran, Mulan dengan tubuh bergetar ia mencoba menjelaskan kembali.


"Al, jangan marah dulu, aku dan papa aku hanya ingin balas budi, karena dahulu papa kamu pernah menolong kami."


Deg!


Mendengar papanya disebut oleh Mulan, Aldebaran seketika teringat masa lalu, yang memang benar papanya pernah menolong keluarga Mulan.


Aldebaran lama diam, ia menimbang-nimbang tawaran yang diberikan oleh Mulan, hatinya menduga-duga yang mungkin banyak informasi yang akan ia dapatkan bila bergabung dengan Perusahaan Papanya Mulan.


"Al?" ucap Mulan lagi saat mendapati Aldebaran hanya diam saja.


Aldebaran miliki rencana lain sebelum ia menjawab menyetujui tawaran Mulan.


"Aku akan bekerja di bagian apa?" Aldebaran bersandar di kursi duduk santai namun tatapannya mengintimidasi, hingga membuat Mulan merasa tidak bisa berkutik.


Mulan memasakan bibirnya untuk tetap senyum. "Bagian CEO, jangan khawatir? karena papa aku yang meminta."


Aldebaran senyum menyeringai. "Kau yakin, aku tidak suka dibohongi!" ucapnya tegas dan penuh penekanan di setiap kata.


"Aku yakin, Al." Mulan sudah sangat bahagia Aldebaran mau tahu lebih dalam, itu artinya Aldebaran tertarik dengan tawaran yang ia berikan.


"Baiklah, konfirmasi lagi kapan aku harus mulai kerja di sana."


"Ba-baik, Al." Mulan semakin merasa bahagia, bahkan hatinya sudah yakin rencananya supaya bisa berdekatan dengan Aldebaran akan segera terwujud.


Setelah mengatakan tujuannya dan mendapatkan seperti yang dirinya inginkan, Mulan langsung ijin pulang, sekarang tujuannya segera memberitahu Papanya mengenai Aldebaran yang setuju akan bekerja di perusahaannya.


Saat menuruni tangga menuju lantai satu, Mulan berpapasan dengan Tia lagi. Namun kali ini beda, Mulan tersenyum ke arah Tia, Tia yang melihat hal tersebut bergidik negeri, merasa wanita itu aneh, saat Mulan sudah ke luar, Tia membuat gerakan jari telunjuk miring di kening.


Di ruang CEO.


Aldebaran masih memikirkan tawaran Mulan, hatinya sedikit curiga, namun Aldebaran akan terus menyelidiki hingga kasus Papa Bagas terungkap.