HEENA

HEENA
BAB 147. Dikelilingi orang-orang baik.



"Yeee, Papa pulang," ucap Yusuf dengan girang saat membuka pintu rumah melihat Papanya pulang kerja.


Tapi mata kecil Yusuf beralih menatap sosok wanita yang saat ini bersama Papanya, Yusuf menelisik wanita itu dari bawah sampai atas, terakhir yang Yusuf lihat adalah kayu berukuran kecil dan panjang yang wanita itu pegang.


Dia buta gumam Yusuf dalam hati.


"Hei sayang kamu sendirian di mana Ane?" tanya Michael sembari masuk ke dalam.


Lamunan Yusuf seketika terbuyarkan saat mendengar ucapan Papanya, kemudian menjawab sembari mengikuti langkah Papanya dari belakang, "Ane lagi buatkan susu buat Yusuf, Pa?"


Hemm.


Jawab Michael sembari sedikit mengendurkan dasinya, Michael lupa bahwa gadis yang ia bawa itu adalah buta, dirinya main masuk saja dan meninggalkan Nelly tetap di luar.


Dan saat menyadari Nelly masih di luar, Michael menepuk jidatnya, dan kembali memanggil Nelly, kemudian menuntun Nelly untuk masuk ke dalam, dan meminta Nelly untuk duduk di kursi ruang tamu.


Michael juga duduk di ruang tamu, Yusuf duduk di pangkuan Papanya.


Tidak lama kemudian Ane datang dengan membawa sebotol susu untuk Yusuf, namun kaget saat tiba di ruang tamu sudah melihat Tuannya pulang kerja.


Tapi yang lebih membuat Ane kaget ada seorang wanita yang duduk di ruang tamu, Ane kemudian ikut duduk setelah mendapat perintah Michael yang memintanya untuk duduk karena ada yang ingin dirinya bicarakan.


"Ane, dia adalah Nelly, dan saya minta kalian berdua jadi partner kerja yang baik, mulai malam ini Nelly akan bekerja di sini, dan kamu Ane tolong bantu Nelly."


Ane mengangguk, kini ia tahu bahwa wanita bernama Nelly itu adalah pekerja di rumah ini, tadi hatinya sempat menduga-duga.


"Dan Nelly buta tidak bisa melihat, jadi kamu Ane harus sabar dalam mengajarinya nanti, dan kamu Nelly pelan-pelan saja belajarnya dan hati-hati."


Ane dan Nelly mengangguk paham, Nelly sedikit lega setelah tahu di rumah ini ia ada temannya dalam bekerja.


"Dan nama putraku adalah Yusuf, kamu Nelly bisa memanggilnya Yusuf," jelas Michael lagi sembari menciumi pipi putranya.


"Kok bau acem, kamu belum mandi?" tanya Michael penuh selidik.


"Hehehe, aku mau mandi sama Papa." Yusuf bicara yang hidungnya dipencet Michael karena gemas.


"Baiklah kalian bisa mengobrol dulu, aku dan Yusuf akan ke kamar."


Setelah bicara seperti itu Michael meninggalkan ruang tamu menuju kamar sembari menggendong Yusuf.


Ane mengajak Nelly ke kamarnya, Ane juga membantu membawakan tas ransel milik Nelly.


Sampainya di dalam kamar, Ane mulai tanya-tanya tentang Nelly, dan kemudian Nelly menceritakan semua pada Ane dan alasannya pergi dari rumah tantenya karena tidak mau dijodohkan. Dan sampai ahirnya bertemu Michael lalu ditawari kerja di rumahnya.


Ane memeluk Nelly yang saat ini menangis, Nelly minta maaf pada Ane karena terbawa suasana hati yang sedih sampai membuat dirinya menangis.


Malam ini Nelly belum bekerja, setelah selesai makan malam, Ane mengajak Nelly untuk tidur, Yusuf malam ini ditemani Papanya, bocah kecil itu sudah bahagia bersama Papanya.


Malam panjang pun terlewati.


Menu sarapan pagi ini Ane memasak di bantu oleh Nelly, tanpa disangka ternyata Nelly jago masak dan tadi memberikan resep masakan yang bila di makan akan lebih terasa lezat.


Michael dan Yusuf saat ini sudah duduk di kursi ruang makan, Ane duduk di samping Yusuf untuk menyuapi Tuan Mudanya.


"Ini masakan kamu Ane?" tanya Michael sembari menyuap lagi.


"Iya Tuan, tapi resep dari Nelly." Ane bicara sembari menyuapi Yusuf, sarapan pagi ini Yusuf juga sangat lahap.


Michael mengangguk dan kemudian melanjutkan sarapan paginya sampai habis.


Selesai sarapan, Michael mengantar Yusuf sekolah, hari ini Nelly juga ikut, karena Michael merasa khawatir bila Nelly harus ditinggal di rumah sendiri, karena kondisi gadis itu buta.


"Nanti yang jemput supir, Papa tidak bisa jemput karena banyak kerjaan, sore hari Papa janji pulang cepat," ucap Michael setelah sampai di sekolahan Yusuf.


"Baik Papa," jawab Yusuf yang kemudian masuk ke dalam sekolahan bersama Ane dan juga Nelly.


Michael melajukan kembali mobilnya menuju kantor.


Di tempat lain. Heena saat ini tengah membuat kue kesukaan Yusuf, nanti siang rencana Heena mau bermain ke rumah Yusuf, dirinya sudah mendapat ijin dari suaminya.


Kue brownies kukus adalah kesukaan Yusuf, bila sedang membuat seperti ini, Heena jadi teringat dulu saat masih tinggal bersama, Yusuf selalu ikut membantu, meski ahirnya baju putranya kotor tapi seneng melihat putranya Heppy.


Heena membuatnya sendiri tidak mau dibantu oleh pelayan, karena ini spesial untuk Yusuf, awal sampai akhir harus dirinya yang membuat.


Dan setelah dikukus kurang lebih dua puluh menit, kue brownies kukus sudah matang, kini Heena menuju ke kamar untuk bersiap.


Tepat pukul sepuluh pagi Heena mengendarai mobilnya menuju rumah Yusuf, setengah sebelas sampai di sana, menunggu beberapa saat mobil yang membawa Putranya telah tiba.


"Mama ..." teriak Yusuf setelah turun dari mobil dan melihat Mamanya datang.


Yusuf memeluk Heena, kemudian mengajaknya masuk ke dalam, di kamar Yusuf, Heena membantu putranya untuk berganti pakaian.


Di sela-sela Yusuf berganti pakaian ia bercerita bila miliki pelayan baru, dan menjelaskan juga bila pelayan baru itu buta.


Heena yang mendengar cerita Yusuf jadi penasaran ingin bertemu pelayan baru yang putranya maksud.


Ane datang masuk ke dalam, dengan membawakan segelas susu, Yusuf menerima gelas susu itu dan langsung meneguknya sampai habis, karena susu itu dibuat dengan air hangat jadi bisa langsung diminum.


Kemudian Heena mengajak Yusuf bermain di luar, kini duduk di atas karpet yang ada di ruang tengah, Yusuf bermain sedang menyusun rumah-rumahan bersama Ane.


Tadi Heena meminta Ane untuk memanggilkan pelayan baru yang katanya buta.


Dan di sini lah Nelly sekarang, duduk di samping Heena di sofa, sembari menemani Yusuf bermain.


Heena memperkenalkan dirinya sebagai Mamanya Yusuf namun sudah tidak bersatu lagi yang artinya sudah bercerai dengan Papanya Yusuf, Nelly yang mendengar itu mengangguk mengerti, kemudian Heena bertanya tentang Nelly, gadis yang di mata Heena sangat terlihat memprihatinkan.


Sama halnya dengan ceritanya pada Ane, Nelly menceritakan semua kejadiannya sampai dirinya saat ini bekerja di rumah ini.


Heena langsung memeluk Nelly, merasa kasihan dengan gadis buta itu, karena Heena pernah diposisi dipaksakan harus menikah dengan pria yang tidak dicintai, tapi Heena salut sama Nelly, karena Nelly mampu menolak tidak seperti dirinya dulu.


"Keputusanmu sudah tepat, kamu harus mencari kebahagiaan kamu," ucap Heena sembari mengusap lengan Nelly yang masih ia peluk.


"Terimakasih, Nyonya?" balas Nelly yang hatinya semakin bersyukur dikelilingi orang-orang baik.