HEENA

HEENA
BAB 15. Sulit menyembuhkan luka kecewa



Di sebuah rumah mewah, tepatnya di kolam renang, tampak seorang pria bertelanjang dada dan hanya menggunakan celana pendek, ia sedang asik berenang, padahal sudah satu jam lamanya pria itu terus menyelam-nyelam yang kadang gaya renangnya berubah telentang, ia mangambang di atas air, suasana sore hari menambah rasa nyaman.


Sepupunya hanya menggelengkan kepala sedari tadi, pasalnya pria itu tetap tidak mau ke luar dari kolam renang, meski sudah dirinya panggil berulang kali.


"Ayo lah, Al. Apa kau ingin aku menjual kolam renang ini?"


Terdengar decak kesal dari bibir pria yang saat ini terpaksa ke luar dari kolam renang.


Tubuhnya yang masih basah dengan air, menambah kesan seksi pria tampan itu yang saat ini berjalan ke pinggiran, wajahnya yang datar saat menatap sepupunya tidak merubah aura tampan yang sudah digariskan sejak ia lahir.


Dua wanita pelayan berjalan ke arahnya membawa handuk, wanita yang satunya memakaikan kimono ke tubuh pria itu, dan wanita satunya lagi mengeringkan rambut pria itu, yang saat ini tengah duduk di kursi dekat kolam renang.


Merasa sudah cukup, pria itu mengangkat satu tangannya seraya menatap lurus ke arah sepupunya yang terus menertawakannya sedari tadi, dua wanita itu pergi.


Pria itu masih di tempat semula, belum ada keinginan untuk masuk ke dalam rumah, kini ia mengangkat kaki kanannya untuk bertumpu di kaki kirinya.


Duduknya terlihat santai, tapi siapa pun yang melihatnya akan merasa takut, matanya sedikit menyipit serta senyum kecil di bibirnya yang entah artinya apa.


"Come on, Brother." Sepupunya menyentuh bahu pria itu.


"Rengky!" Pria itu langsung berdiri gagah di depan Rengky dengan tatapan tidak suka diusik.


Rengky mundur beberapa langkah. "Wah, wah maaf aku hanya minta tolong sekali ini saja, malam ini temani aku bertemu kolega bisnis papa." Rengky berjalan di belakang pria itu yang kini berjalan menuju kamarnya.


"Aku berjanji akan menambah uang jajanmu." Rengky menutup pelan pintu kamar pria itu, kini keduanya sudah berada di dalam kamar.


Pria itu masih diam membisu, belum mau memberi jawaban, kini tangannya asik memilih baju di dalam almarinya.


Rengky yang kesal ahirnya meninggikan suaranya, berbicara dengan manusia yang irit bicara benar-benar membuat dirinya naik darah.


"Aldebaran!"


"Gue harus gimana, gue harus apa, hah! ... kurang baik apa gue sama elo?"


hiks hiks.


Rengky menangis sedih. "Gue seperti punya kutukan, mendapat sepupu kayak elo!"


Brukk!


Rengky menjatuhkan tubuhnya di kasur.


Hem.


"Al, kamu tidak sedang frustasikan?"


Rengky langsung menutup mulutnya saat sisir yang di pegang Aldebaran jatuh, dan kini pria itu menatap tajam ke arahnya.


"Kamu mau apa?" Aldebaran duduk di sofa dengan sedikit kesal. "Sudah aku katakan kan, aku ingin bebas hingga waktu yang aku tentukan, aku gak mau kemana-mana selain tempat hiburan?" Memalingkan wajah ke arah lain.


Rengky membuang nafas kasar seraya mengangkat dua tangannya bertanda menyerah membujuk, padahal tujuannya ia hanya ingin sepupunya itu kembali seperti dulu.


Sosok Aldebaran yang semangat kerja, memiliki kehidupan yang terarah, tidak seperti saat ini, yang bila diajak ke kantor tidak mau, dimodalin untuk membangun usaha juga tidak mau, maunya hanya bersenang-senang yang benar-benar tidak ingin memikirkan beban.


Dan sudah satu bulan setelah keluar penjara kegiatannya cuma seperti itu.


Ya meskipun bersenang-senangnya masih dikatakan hal normal, karena cuma pergi ke mall, ke tempat olahraga, ke pantai. Bukan bersenang-senang yang sampai bermain perempuan.


Namun Rengky juga tidak bisa menyalahkan perubahannya saat ini, karena ia paham masalah di masa lalu Aldebaran, hingga membuat pria yang dulu berhati hangat kini berubah kejam yang tak berbelas hati.


"Ok ok." Rengky bangkit dari duduknya, kini ia berjalan ke arah Aldebaran.


"Kalo kamu tidak mau menemani aku, setidaknya kunjungi usaha kecil yang udah kamu bangun, itu bisnis game online kamu gimna kabarnya?"


"Ada Dika, yang ngurus," bicara ketus seraya berjalan ke luar kamar.


"Al, Al ... dasar gila!" Tangan Rengky terkepal meninju ke udara. Ia lalu ikut menyusul ke luar.


Tiba malam hari.


Aldebaran masuk ke dalam kamar setelah tadi selesai makan malam bersama keluarga Omnya.


Aldebaran tidak langsung tidur menuju ranjang, melainkan ia berjalan menuju jendela, lalu jari telunjuknya menekan ke dinding, bersamaan itu pintu kaca bergeser, yang ternyata di luar sana adalah balkon kamarnya, Aldebaran melangkah ke luar, angin malam langsung menyambut kedatangannya menerpa wajahnya yang tampan, menyapu hawa panas memberi rasa sejuk.


Dari atas tempat balkon kamarnya, ia bisa melihat taman bunga-bunga dan pepohonan yang hijau, Om dan Tantenya seorang yang suka tanaman, jadi tidak heran bila semua itu terawat indah.


Di bawah sana tidak gelap, karena ada lampu hias yang menambah keindahan di malam hari.


Aldebaran pandangan menatap bangku taman, tiba-tiba pikirannya teringat ucapan Sepupunya tadi sore yang membahas soal masa lalu.


Aldebaran menghela nafas panjang, dalam lubuk hatinya yang paling dalam, ia memang sangat kecewa saat di tinggalkan ke kasihnya ketika ia sedang terpuruk, dan masih sulit menyembuhkan luka kecewa itu.


"Heena, semoga takdir tidak akan pernah mempertemukan kita lagi."


Bibirnya berkata tidak, tapi entah dengan hatinya.