
Mobil yang Aldebaran kendarai memasuki pelataran rumah Paman Syafiq. Setelah mobil berhenti, Aldebaran ke luar mobil lalu berjalan untuk membuka pintu mobil sebelah, Aldebaran mencegah saat Ane mau menggendong Yusuf yang tertidur.
Kini Aldebaran berjalan masuk ke dalam rumah dengan menggendong Yusuf.
Heena yang sudah bangun dari tidurnya, tadi duduk santai di ruang tamu, dan alangkah terkejutnya saat matanya melihat Aldebaran baru memasuki rumah dengan menggendong Anak kecil yang sangat ia kenal.
"Yusuf." Heena terkejut hampir tidak percaya.
"Dia tidur, sekarang mau aku antar ke kamar."
Setelah berkata seperti itu Aldebaran kembali melanjutkan langkahnya, yang diikuti Heena di belakang.
Mengapa Nyonya ada di sini, apa Nyonya tinggal di sini sekarang, tapi mengapa tidak bilang kami, ah! sudahlah aku juga tidak tahu, lebih baik sekarang aku hubungi Tuan Michael, gumam Ane dalam hati.
Sembari duduk di kursi sofa, Ane mengirim pesan ke Michael memberitahu bila Yusuf sedang bersama Nyonya Heena.
Setelah itu Ane duduk bersandar, di dalam kamar Aldebaran. kini Yusuf sudah Aldebaran baringkan di atas ranjang. Lalu ia selimut hingga batas leher, namun sebelumnya sudah ia lepas sepatu serta kaus kakinya.
Heena yang berdiri di samping Aldebaran, menatap pria itu dengan penuh tanda tanya.
"Al, mengapa Yusuf bisa bersama kamu?"
Pertanyaan Heena seketika membuat Aldebaran langsung menatap ke arahnya. Kemudian Aldebaran menceritakan kronologinya mengapa bisa bertemu Yusuf, dan setelah itu Aldebaran ke luar dari kamar, meninggalkan Heena berdua saja dengan Yusuf.
Heena ikut naik ke atas ranjang, mengusap pelan kening Yusuf, tanpa terasa air matanya menetes. "Maafkan Mama, Nak." Heena mengecup kening Yusuf begitu dalam.
Heena kemudian ikut berbaring, tidur sambil memeluk Yusuf.
Di luar kamar.
Bibi Sekar yang berjalan ke arah ruang tamu, terkejut saat melihat wanita yang tidak di kenali, dan ia merasa aneh karena wanita itu menggunakan seragam suster seperti pengasuh anak.
Ane tersenyum saat Bibi Sekar mendekat ke arahnya.
"Maaf, Mbak siapa ya?" tanya lembut Bibi Sekar.
Ane tersenyum. "Saya Ane, Nyonya. Pengasuh Tuan Muda Yusuf."
Deg! mendengar nama Yusuf, Bibi Sekar menjadi bingung, pasalnya di rumah ini tidak ada yang namanya Yusuf, dan pastinya yang dimaksud oleh wanita di hadapannya ini adalah Yusuf seorang anak kecil.
Bibi Sekar ingin bertanya lagi, namun Aldebaran lebih dulu datang dan kemudian menjelaskan pada Bibi Sekar, bahwa saat ini putranya Heena sedang tidur di kamar, tadi Aldebaran yang membawanya.
Bibi Sekar baru paham, dan setelah itu Bibi Sekar mengajak Ane untuk ke dapur supaya bisa ngobrol-ngobrol dengan pelayannya yang lain.
Sementara Aldebaran melanjutkan misinya untuk bertemu Asisten Dika untuk membahas masalah yang belum terselesaikan.
Waktu terus berputar hingga kini jarum jam menunjuk pukul tujuh malam, di salah satu kamar, seorang anak kecil dan ibunya saling memeluk melepaskan rasa rindu yang beberapa hari ini tidak bertemu.
Pelukan Yusuf di pinggang Heena sangat erat, seolah takut bahwa Mamanya akan pergi.
"Yusuf kangen banget cama, Mama." Yusuf bicara seraya menenggelamkan wajahnya di dada Heena.
"Mama juga sayang, tolong maafkan, Mama." Heena menciumi puncak kepala Yusuf dengan linang air mata.
Setiap kali dalam keadaan seperti ini, Heena merasa sangat sedih, apa lagi sampai mendengar putranya mengatakan kangen, ada rasa bersalah dalam hati Heena, hanya kata maaf dan maaf yang mampu Heena ucapkan.
Ane dari luar masuk ke dalam kamar Heena dengan membawa baju setelan baru untuk Yusuf, yang Aldebaran kirimkan barusan melalui ojek online.
Selama tadi bincang-bincang dengan pelayan rumah ini, Ane baru tahu bila ternyata Nyonya sudah menikah dengan pria yang tadi bernama Aldebaran, setelah Ane tahu semua, ia tidak mau mencampuri, lagian juga tidak punya hak, Ane hanya bisa berdoa berharap Nyonya Heena bahagia di pernikahan ini.
Ane yang saat ini berdiri langsung berjalan mendekati pintu kamar mandi yang dibuka oleh Heena.
Heena mengeringkan tubuh Yusuf dan rambutnya juga, setelah itu memakaikan baju baru untuk Yusuf.
Ane menyisir rambut Yusuf, sementara Heena berganti baju karena sebelummya ia hanya menggunakan handuk kimono, karena tadi ia sekalian mandi.
Setelah semua selesai, Heena ke luar kamar seraya mengandeng tangan mungil Yusuf, Ane berjalan mengikuti di belakang Heena.
Setelah sampai di ruang makan, kehadiran Yusuf menjadi pusat perhatian Bibi Sekar dan Paman Syafiq.
Bibi Sekar dan Paman Syafiq sama-sama melihat ke arah Yusuf yang saat ini lagi berjalan dengan digandeng Heena menuju kursi di ruang makan, dengan senyum hangat.
Sebelumya Bibi Sekar sudah menjelaskan pada Paman Syafiq, bila saat ini putranya Heena ada di rumahnya, itulah sebabnya Paman Syafiq tidak terkejut saat melihat Yusuf barusan.
"Halo tampan ... belum kenalkan sama Oma, Oma namanya Oma Sekar." Bibi Sekar menyambut Yusuf yang saat ini berdiri di hadapannya ia duduk, seraya menoel dagu Yusuf dengan gemas.
"Nama aku Yusuf, Oma." Yusuf bicara dengan gaya menggemaskan ala anak kecil.
Bibi Sekar yang gemas dengan Yusuf, tidak bisa bila tidak memeluk anak kecil itu, dan dengan gerakan cepat langsung memeluk Yusuf.
Paman Syafiq yang juga duduk tidak jauh dari Yusuf, tangannya terulur mengusap kepala Yusuf, dengan senyum hangat di bibirnya.
Melihat pemandangan ini Heena sangat bersyukur, karena Yusuf disambut hangat oleh Bibi Sekar dan Paman Syafiq, seperti halnya dirinya kemarin.
Setelah itu semua baru memulai makan malam, suasana makan malam hari ini ada yang beda karena ada kehadiran Yusuf, menjadi sedikit ramai karena ada celoteh lucu Yusuf, yang terdengar.
Bahkan sampai sudah masuk ke dalam kamar, Bibi Sekar masih teringat Yusuf yang bertingkah lucu saat makan tadi.
Bibi Sekar yang saat ini di atas ranjang bersama Paman Syafiq, menyandarkan kepalanya di pundak Paman Syafiq. "Pa, gimana kalo Yusuf tinggal di sini, biar ramai Pa rumah kita."
"Ma? kita tidak punya hak untuk ikut campur, bila memang Yusuf diajak tinggal di sini juga, Papa tidak keberatan."
"Iya juga ya, Pa." Bibi Sekar menimpali dengan cepat.
Bila Bibi Sekar sedang mengobrol dengan suaminya, terjadi hal yang sama juga dengan penghuni kamar lainnya.
Di dalam kamar, Yusuf dan Heena saling mengobrol, Yusuf menceritakan hal-hal di sekolahnya, juga menceritakan Papanya. Hingga lama-kelamaan Yusuf ahirnya mengantuk kemudian tidur.
Heena membenahi selimut di bawah leher Yusuf, Heena tersenyum, malam ini ia bisa tidur sambil memeluk Putranya.
Tidak lama setelah mereka berdua tidur, Aldebaran masuk ke dalam kamar. Tersenyum kecil melihat ke arah ranjang, dimana dua orang yang saling menyayangi sedang tidur bersama, seolah Aldebaran juga bisa merasakan kerinduan yang dirasakan oleh keduanya.
Selesai mandi, Aldebaran ikut tidur di sofa, setelah waktu terus berputar Samapi di tengah malam, Yusuf bangun kemudian duduk.
Yusuf melihat Mamanya, kemudian tanpa sengaja ia melihat ke arah sofa, di sana ada Om Al yang lagi tidur.
Yusuf berkali-kali melihat ke arah Mamanya dan beralih melihat Aldebaran, wajahnya tampak jelas menggambarkan kebingungan.