
Heena menatap mobil Aldebaran yang melaju ke luar gerbang melalui lantai balkon, padahal waktu baru menunjuk pukul tujuh pagi, Aldebaran langsung pergi tanpa bicara mau ke mana.
Memang kamu siapa Heena, meminta dia harus mengasih tau di mana pun dia pergi, batin Heena bermonolog sendiri, dan sesaat kemudian mengusap wajahnya dengan kasar.
His! Heena kamu mikirin apaan sih, jangan berharap lebih Heena, jangan! pikiran Heena menyadarkan diri sendiri, seraya memukul pelan kepalanya.
Heena kemudian masuk ke dalam kamar lagi, untuk membersihkan diri.
Bila Heena sedang ceria melewati hari-harinya, berbeda dengan Mulan, seolah wanita itu merasa terpuruk tidak punya siapa-siapa lagi.
Setiap sendiri hanya bisa menangis, meski kadang kala memiliki rencana jahat untuk orang lain. Setelah Ayahnya berada di tahanan, Mulan lebih sering mengurung diri dan menangis.
Seperti saat ini, Mulan sedari tadi menangis tersedu-sedu seraya memegangi keningnya dan menunduk, duduk di pinggiran ranjang.
Tiba-tiba handphonenya berbunyi ada sebuah pesan masuk. Yang ternyata dari Sekertaris Pak Muklis, yang mengatakan bahwa Mulan harus bertemu calon pengacara Pak Muklis.
Mulan langsung bangkit dan kemudian bersiap diri, setelah tiga puluh menit, kini Mulan sudah rapih, mata sembabnya sudah ia tutup dengan make-up tebal.
Mulan mengambil kaca mata hitam miliknya, lalu ia pakai bersamaan dengannya ke luar dari kamar.
Sampai di garansi mobil, Mulan langsung memencet tombol remote mobilnya, Mulan langsung masuk setelah mobilnya di bukakan pelayan.
Satpam rumah sudah membuka gerbang, Mulan langsung melesat pergi, menuju tempat perjanjian bertemu.
Setelah menempuh perjalanan kurang lebih tiga puluh menit, Mulan sampai di sebuah gedung tinggi pencakar langit.
Setelah mobilnya terparkir rapih, Mulan membuka pintu mobil lalu menyembul ke luar.
Berdiri sejenak di dekat pintu mobil untuk merapihkan rambutnya, kemudian melangkah berjalan memasuki gedung seraya membenahi kaca mata hitam yang masih ia kenakan.
Berjalan anggun serta aura dingin terpancar jelas di wajah cantiknya. Mulan mendekati receptionist bertanya unit lantai ruang kerja pengacara Bapak Nardi.
Receptionist menyebutkan unit lantai milik bapak tersebut, setelah itu Mulan langsung berjalan menuju lift.
Setelah sampai di nomor kamar yang sepertinya sama dengan yang receptionist katakan, Mulan langsung memencet bel.
Tidak berselang lama ke luar pria baruh baya, melihat pria itu dengan kening berkerut, Mulan melepas kaca mata hitamnya seraya tersenyum miring.
"Nona Mulan," ucap Pak Nardi.
Mulan mengangguk kecil, setelah itu Mulan dipersilahkan untuk masuk, Mulan duduk di sofa yang di ruangan tersebut.
Dan setelah Pak Nardi duduk dengan membawa berkas di tangannya, Mulan langsung bersuara.
"Saya sangat kenal dengan Bapak, Pak Nardi adalah pengacara yang hebat, setiap masalah klien yang Bapak tangani selalu bisa bebas, saya minta tolong ... benar-benar minta tolong Pak, bantu ayah saya." Mulan mengatupkan kedua tangannya di depan dada.
Setelah urusannya dengan pengacara selesai, Mulan langsung pamit pergi, saat ini Mulan sedang berada di dalam lift, Mulan bersandar di dinding lift, saat ini Mulan sudah merasa sedikit tenang, Mulan yakin dengan menggunakan pengacara hebat seperti Pak Nardi Ayahnya bisa bebas.
Setelah pintu lift terbuka Mulan langsung melangkah ke luar, memakai kaca mata hitamnya lagi, memasang wajah dingin berjalan menuju parkiran mobil.
Mulan melajukan mobilnya, menyusuri jalanan kota tanpa tahu arah tujuannya, hingga tanpa sadar mobil Mulan berhenti di depan gedung D.A Corp.
Mulan menatap gedung tersebut dengan mata tidak percaya, saat ini Aldebaran memang sedang berusaha mengalihkan semua aset yang dulu Ayahnya ambil untuk menjadi milik Aldebaran lagi.
"Al, tidak perlu kamu repot seperti ini, cukup menikah dengan aku, semua akan menjadi milikmu." Mulan bicara sendiri dengan masih menatap gedung tersebut.
Setelah beberapa saat Mulan berpikir, ahirnya ia memutuskan untuk ke luar dan menemui Aldebaran.
Dan sepetinya takdir sedang baik untuk Mulan, tiba-tiba Aldebaran ke luar bersama Asisten Dika yang berdiri sedikit di belakangnya, saat Mulan mau membuka handle pintu.
"Al ..." sapa Mulan seraya tersenyum ke arah Aldebaran, namun Aldebaran tidak bergeming tetap cuek dan dingin.
"Al, aku mau minta maaf atas semuanya, Al." Mulan menatap memohon ke arah Aldebaran.
Aldebaran menghela nafas berat, tidak mau memperdulikan Mulan lagi, berada terlalu lama di dekat wanita itu, hanya membuat emosi Aldebaran tidak terkontrol.
Aldebaran kemudian berjalan yang diikuti Asisten Dika langsung, namun baru beberapa langkah Mulan menghadang langkah Aldebaran, dan terpaksa membuatnya harus berhenti.
Aldebaran tidak tahu apa yang akan Mulan lakukan lagi, sepertinya wanita di hadapannya ini tidak peka dengan ucapannya tempo lalu, terbukti karena Mulan masih saja terus muncul di hadapannya.
Tiba-tiba saja Mulan bersimpuh di kaki Aldebaran, menangis terisak seraya memegang erat kaki Aldebaran.
Aldebaran benar-benar jengah dengan apa yang Mulan lakukan.
"Mulan, pergilah! kamu adalah wanita jangan rendahkan harga dirimu!" Aldebaran bicara penuh penegasan.
Tetapi yang Aldebaran dapatkan bukan Mulan yang bangkit dari hadapannya, melainkan merasakan kini tangan Mulan semakin erat memegangi kakinya, dan terdengar suara Isak yang semakin pilu.
Melihat Tuannya merasa tidak nyaman, Asisten Dika membantu Mulan untuk menjauh dari Aldebaran.
"Lepaskan aku! lepaskan aku!"
Mulan memberontak, namun Asisten Dika terus membawa tubuh Mulan untuk menjauh.
"Al ... beri aku kesempatan, aku mohon! Al." Mulan berteriak seraya terus berjalan menjauh di tarik oleh Asisten Dika untuk menuju mobil Mulan sendiri.
Setelah melihat Mulan sudah diamankan, Aldebaran langsung pergi menggunakan mobil sendiri.
Sedangkan Mulan masih melanjutkan menangisnya, ia memukul setir mobil berkali-kali, rasanya tidak bisa bila harus menerima penolakan Aldebaran. "Kenapa kamu tidak bisa mencintaiku, Al ..." teriak Mulan memenuhi ruangan mobilnya sendiri.