
Di ruang CEO, setelah kepergian Heena, Syifa, dan Tia. Asisten Dika langsung merasa dirinya tidak aman, kepalanya menunduk tidak berani menatap pria yang saat ini duduk di depannya.
"Jelaskan!"
Hawa dingin yang mencengkam memenuhi seisi ruangan, setelah kalimat perintah yang ke luar dari bibir pria yang saat ini sedang marah padanya.
Aldebaran meraih kerah Asisten Dika, saat melihat pria itu hanya melamun, Asisten Dika langsung terperanjat kaget, rasanya hawa dingin langsung menusuk tubuhnya menjadi blank, kata-kata yang sudah ia susun di otaknya saat melamun tadi, tiba-tiba buyar menjadi kepingan-kepingan yang tidak ia ingat.
Yang tadinya cuma tangan satu yang memegang kerah jas Asisten Dika, kini dua tangan Aldebaran memegang kerah jas Asisten Dika dengan kuat.
Asisten Dika rasanya sulit bernafas saat melihat mata tajam yang mampu menguliti tubuhnya.
"Katakan, mengapa bisa kau menerima dia kerja di sini, hah!"
"Ba-baik, akan saya jelaskan, ta-tapi tolong turunkan tangan Anda duluan, Tuan."
Aldebaran menjauhkan tangannya seraya membuang nafas kasar. Kini tangannya beralih memegang pena yang ia ketuk-ketukkan di atas meja.
Setiap suara ketukan pena di atas meja, seperti waktu batas usia, terdengar sangat mengerikan di telinga Asisten Dika, mengingat Tuannya bisa berbuat semua hal, tubuhnya jadi merinding.
"Tuan? ini salah saya." Merendahkan diri dulu, jangan sampai menyulut amarahnya, batin Dika. "Yang terpenting sekarang kita mendapat pekerja yang mampu menggambar bagus, dan ...."
"Kamu mau aku mengingat semuanya, hah! dan tidak konsentrasi dalam bekerja, iya!" Aldebaran mencekal kuat kerah jas Asisten Dika.
Bu-bukan begitu maksud saya, ahh! jadi salah paham dia. Batin Asisten Dika.
"Masih banyk yang lain mengapa harus dia." Aldebaran menjauhkan lagi tangannya.
Asisten Dika kembali berpikir keras untuk memberi jawaban yang tepat, sebenarnya tadi jawaban dirinya udah tepat menurutnya, hanya saja yang menerima informasi mudah pemarah, jadinya begini ni.
Asisten Dika menghela nafas panjang, sebelum mengatakan jawabannya lagi, dalam hati berharap rangkaian kata-katanya bisa membuat hati Tuannya senang.
"Tuan, Nona Heena saat ini butuh pekerjaan, tidak apa-apa lah menggunakan jasanya untuk beberapa bulan ke depan, saya yakin Tuan bisa mengenyampingkan perasaan kesal Tuan, tidak salah bukan bila kita saling membantu." Panjang lebar alasan bijak Asisten Dika. Melirik sedikit pria yang duduk di depannya, wajahnya tetap datar tidak bergeming.
"Apa kau yakin dia bisa diandalkan?"
Asisten Dika langsung berani mengangkat kepalanya saat mendengar kalimat yang artinya tertarik dengan yang ia ucapkan.
Dengan mantap Asisten Dika menjawab, "Seratus persen yakin, Tuan." Asisten Dika menyerahkan beberapa gambar hasil karya Heena di depan Aldebaran.
Aldebaran membuka lembar per lembarnya dengar mencermati setiap gambar. Asisten Dika sesekali melihat perubahan wajah Aldebaran, berharap menemukan senyuman di bibir pria itu, namun harapannya nihil.
Setelah melihat gambar yang cukup memuaskan hatinya, Aldebaran mau mengikuti saran Asisten Dika, meski di lubuk hatinya yang paling dalam ia tidak ingin bertemu lagi dengan wanita di masa lalunya.
Tiba-tiba Aldebaran kepikiran dengan ucapan Asisten Dika yang mengatakan Heena butuh pekerjaan, lalu di mana suaminya? pikirannya mulai minta jawaban.
Aldebaran menoleh ke arah Asisten Dika, belum mengatakan hasil penilaiannya terhadap gambar yang dirinya lihat. Yang di tatap jantungnya berdegup kencang.
Mengapa matanya selalu terlihat mengerikan, batin Asisten Dika.
"Mengapa dia butuh pekerjaan, lalu di mana suaminya, apa sudah jatuh miskin, hahaha, jatuh miskin."
Ah! Tuan mengapa Anda bertanya hal beginian, apa Anda tertarik dengan urusan rumah tangga orang, Asisten Dika ngedumel dalam hati.
"Nona Heena sudah bercerai dengan suaminya, Tuan."
Gak perlu kan saya ceritakan juga masalah pribadinya, atau Anda memang ingin tertarik mengetahui semuanya. Asisten Dika bicara sendiri dalam hati.
Tidak ada respon dari Aldebaran, pria itu tetap setia dengan wajah datar diam tanpa ekspresi.
Tiba-tiba Aldebaran berdiri lalu berjalan ke arah pintu, Asisten Dika gelagapan hampir jatuh kesandung kaki meja, karena buru-buru mengejar langkah kaki Aldebaran.
Menuruni anak tangga, sebelum sampai pintu utama ke luar masuk, Aldebaran menoleh ke arah meja Heena, wanita itu terlihat sibuk dengan pekerjaannya. Asisten Dika yang juga berhenti di belakang Aldebaran, ia juga mengikuti arah mata Aldebaran.
Memakai kaca mata hitam, kemudian melanjutkan langkahnya ke luar gedung, kali ini tujuannya menemui sepupunya, yaitu Rengky.