HEENA

HEENA
BAB 164. Curhat.



Siang hari itu Aldebaran berangkat kerja, setelah menemani Heena senam ibu hamil, dan kini sedang sibuk dengan pekerjaan yang ada di hadapannya.


Banyak file-file yang harus Aldebaran periksa dan tanda tangani, karena bertepatan dengan akhir bulan, penutup buku bulan ini.


Aldebaran mendongakkan kepalanya saat mendengar pintu ruangannya di buka dari luar, Aldebaran menghela nafas panjang setelah tahu siapa yang datang.


Tadi hatinya sudah sempat menduga, bahwa bukan karyawannya yang masuk, karena bila mereka pasti mengetuk pintu dulu.


"Hah! aku pusing," keluh Rengky yang baru duduk di depan Aldebaran dengan meja sebagai pembatas.


Namun Aldebaran tidak menanggapi, tetap fokus dengan pekerjaannya, karena memang lagi banyak kerjaan, dan Rengky datang di waktu yang tidak tepat.


"Al kamu dengar tidak sih aku curhat!"


"Mata kamu buta!" jawab Aldebaran tidak kalah tinggi namun matanya masih fokus dengan berkas yang saat ini dirinya baca.


"Hah, sudahlah lanjutkan saja!" Rengky bangkit dengan perasaan kesal menuju sofa, berbaring di sana sembari menunggu Aldebaran selesai kerja.


Rengky diam namun tiba-tiba pikir ingin menjahili Aldebaran.


"Sudah belum Al?"


Aldebaran diam tidak menjawab.


Lima menit lagi Rengky kembali bertanya.


"Sudah belum Al?"


Aldebaran tetap diam, hatinya masih sabar.


Sepuluh menit lagi.


"Sudah belum Al?"


Brukk!!


Hahahaha! tawa Rengky yang merasa puas sudah membuat Aldebaran kesal, kini rasa kesalnya dalam hati pada Ayunda mulai terkurangi.


Tapi tawanya hanya sesaat, Rengky kembali pusing teringat Ayunda yang suka minta aneh-aneh, dan tujuannya datang ke sini untuk berbagi dengan Aldebaran, karena kan Aldebaran juga lagi menghadapi istri yang lagi hamil pikirnya.


Tapi malah mendapati Aldebaran yang sibuk, Rengky hanya bisa membuang nafas kasar, dan sedikit tertarik membaca majalah yang baru Aldebaran lempar.


Ahirnya Rengky teralihkan dengan membaca majalah, Aldebaran bisa kembali fokus menyelesaikan pekerjaannya.


Dan setelah semua pekerjaan Aldebaran selesai selama hampir dua jam lebih, kini semua tumpukan file-file di hadapannya tadi sudah diambil oleh Dika.


"Kamu kenapa sih, datang-datang bikin orang emosi," ucap Aldebaran yang saat ini sudah duduk di kursi sofa.


Rengky yang tadi berbaring kini beralih duduk. "Aku pusing, Ayunda sering minta makanan aneh-aneh, kadang tidak dia habiskan, dan malah meminta aku," ucap Rengky dengan wajah yang ditekuk imut.


"Namanya juga lagi hamil, turuti aja lah," jawab Aldebaran santai seraya bersandar.


"Iya juga sih, tapi pernah lho dia pengen makan ayam geprek yang pedas, cuma ambil sedikit terus suruh aku yang abisin, kamu mau tau gak besoknya aku kenapa?"


"Tidak, hahaha," jawab cepat Aldebaran campur tawa.


"Sialan lho!" Rengky memukul Aldebaran menggunakan majalah, yang kemudian disusul gelak tawa keduanya.


"Ya terus apa ... apa?" tanya Aldebaran setelah Rengky kembali duduk tenang.


"Besoknya aku diare! dan aku tidak bisa masuk kerja! dan apa coba reaksi dia melihat aku? dia tertawa puas! ngeselin kan dia."


"Kasih solusi lah buat aku," imbuhnya lagi.


"Solusi apa? ya tidak ada, aku sendiri saja masih menghadapi istri yang lagi hamil, nikmati sajalah."Aldebaran menjawab apa adanya, karena memang tidak ada solusi selain kesabaran.


Rengky bersandar dengan tatapan bingung, seraya memikirkan ucapan Aldebaran barusan.