
Malam itu juga Mulan menyusul Ayahnya di kantor polisi.
Mulan langsung berlari setelah ke luar dari dalam mobil.
"Ayah ..." teriaknya saat melihat Pak Muklis berjalan di dampingi polisi untuk dibawa ke tahanan.
Pak Muklis dan polisi serta Aldebaran dan Asisten Dika yang juga berada di situ, semua langsung menoleh ke belakang, kini bisa melihat wajah cantik Mulan yang basah akan air mata.
"Mulan putriku," gumam Pak Muklis.
Mulan langsung berlari menghambur memeluk Pak Muklis, Isak tangisnya semakin terdengar pilu, beberapa saat Mulan bisa memeluk Ayahnya, setelah waktu yang Polisi tentukan sudah habis, Polisi mendorong tubuh Mulan pelan.
"Maaf, Nona. Kami harus segera membawa, Pak Muklis." Polisi langsung mengajak Pak Muklis berjalan.
"Ayah! Ayah ..." teriak Mulan seraya tangannya ingin menjangkau Ayahnya lagi, namun polisi yang lain menghalangi.
"Ayah ...."
Mulan tertunduk di atas lantai, berteriak memanggil nama Ayahnya dengan menangis tersedu-sedu.
Polisi yang tadi menahan Mulan terus pergi, kini masih ada Aldebaran dan Asisten Dika yang berdiri di tempat tersebut.
Setelah merasa lelah, tangisan Mulan berubah sesenggukan, Mulan perlahan mendongakkan kepalanya menatap Aldebaran yang juga menatapnya.
Mulan bangkit, lalu melangkah lebih mendekati Aldebaran. Dengan tatapan mengunci.
Mulan tersenyum getir. "Al, mengapa kamu tega melakukan ini terhadapku, kenapa? Al." Mulan menepuk pelan dadanya.
Aldebaran melengos menatap ke arah lain, harusnya dirinya yang bertanya kenapa dahulu Mulan dan Pak Muklis tega terhadap keluarganya, bukan malah Mulan yang bertanya hal tersebut, karena apa yang Aldebaran lakukan saat ini, hanyalah untuk mengambil yang sudah menjadi haknya, yang selama ini di kuasai oleh Pak Muklis dan tiga orang lainnya.
Aldebaran masih diam, belum mau menjawab atau pun menatap wajah Mulan.
Melihat Aldebaran hanya diam saja, Mulan semakin tidak menentu perasaannya, ingin marah karena Aldebaran sudah berani membuat Ayhnya masuk penjara, tapi sedih karena Mulan sangat mencintai Aldebaran.
Mulan berusaha menguasai diri supaya tidak meledak amarahnya pada Aldebaran, Mulan mengambil nafas lalu ia hembuskan perlahan berkali-kali.
Mulan meraih tangan Aldebaran. "Al, aku mohon tolong maafkan ayahku, aku ngerti dan aku paham bahwa ayahku salah besar, tapi tolong jangan hukum ayahku di penjara, aku mohon, Al."
"Maaf aku tidak bisa!" Aldebaran melepas tangan Mulan, kini menatap tajam ke arah Mulan, bila bukan wanita mungkin sudah habis di tangan Aldebaran sendiri, kehidupannya berubah semua atas campur tangan wanita yang saat ini menangis di hadapannya.
Aldebaran langsung cepat mengangkat tangannya lalu ia meletakan jari telunjuknya di bibir Mulan, membuat Mulan tidak jadi melanjutkan perkataannya.
"Aku cuma mau bilang selama ini kita hanya kekasih bohongan! aku tidak pernah mencintaimu, ingat itu!"
Deg! Mulan langsung terkejut mendengar ucapan tegas Aldebaran barusan, dan belum sampai memikirkan maksud yang Aldebaran ucapkan, Mulan kembali terkejut sampai hampir tidak percaya.
"Jangan anggap aku ke kasihmu lagi! dan satu hal aku bisa membuatmu masuk ke dalam penjara! seperti ayahmu saat ini bila kamu berani mencari masalah denganku!"
Mulan menggelengkan kepalanya berkali-kali seraya menutup mulutnya dengan air mata yang kembali berderai, rasanya sungguh sakit mendengar perkataan sekejam itu dari bibir pria yang dicintai, sungguh apa salahnya sampai Aldebaran segitu membencinya, Mulan belum bisa menyadari kesalahan yang ia buat.
Mulan berteriak dengan menangis, sesekali mengusap wajah dengan kasar, dan mengacak rambutnya sendiri.
Aaaaa! Mulan kembali tertunduk di lantai, kini hanya ia sendiri, Aldebaran dan Asisten Dika sudah meninggalkannya sejak tadi.
Mulan masih terus menangis sampai kehilangan kendali, menjambak rambutnya sendiri dan berteriak hingga suaranya serak.
Petugas polisi wanita mendatangi Mulan, membantu Mulan untuk berdiri lalu membawanya ke tempat duduk.
Mulan masih terus menangis, tanpa peduli dengan siapa yang kini tengah membantunya, Polisi wanita datang lagi setelah tadi pergi untuk mengambil air minum. Memberikan air minum untuk Mulan.
"Nona, tenanglah dan setelah ini silahkan Anda pulang, karena waktu sudah malam." Polisi wanita menasehati.
Mulan mendengar hanya tidak ia pedulikan, Mulan mengembalikan gelas ke tangan polisi wanita, menatap polisi wanita sekilas tanpa senyum, kemudian Mulan terus pergi dari tempat tersebut.
Aku harus mencari cara supaya ayah bisa terbebas, aku tidak ingin melihat ayah menderita, ah! Gery. Di mana dia di rumah sakit mana dia, aku harus menemui Gery, batin Mulan selama berjalan menuju mobilnya, dan langsung masuk ke dalam mobil dan segera menghidupkan mesin mobil, tanpa butuh lama mobil langsung melesat pergi.
Di rumah sakit.
Gery saat ini sedang dalam perawatan, dan juga belum sadarkan diri, posisinya kini ia tidur tengkurap karena punggungnya sakit, namun pelurunya sudah di ambil oleh dokter, saat ini tinggal menunggu pemulihan.
Di luar ruangan Gery ada empat polisi yang menjaga, di dalam juga kedua tangan Gery dan kedua kakinya di borgol.
Di dalam mobil, Mulan terus berpikir untuk langkah selanjutnya yang harus ia lakukan, masih belum terima di permainkan seperti ini oleh Aldebaran, Mulan tidak mau sakit sendirian, dalam hati ia akan membalas, dan masih berpikir siapa sasaran yang akan ia gunakan untuk menjerat Aldebaran.
Hingga sebuah nama yang tiba-tiba terlintas di pikirannya, Mulan tersenyum menyeringai menatap tajam lurus ke depan dengan mengemudikan mobil.