
Mulan memejamkan matanya untuk menahan emosinya, karena tidak suka mendengar kata sabar yang Ayahnya ucapkan.
"Ayah! Mulan harus sabar dan sabar sampai kapan, Ayah!" Mulan menarik tangannya yang di pegang Ayahnya dengan kasar. Lalu berjalan duduk di sofa.
Pak Muklis bangkit dari duduknya, kemudian berjalan mendekati Mulan dan duduk di sebelahnya.
"Ayah tahu yang kamu rasakan, Nak." Pak Muklis memegang bahu Mulan. "Tunggu sebentar ya? Ayah akan bicara dulu dengan Aldebaran."
Mulan menoleh ke arah Ayahnya, dan kemudian memeluk Ayahnya.
Ayah akan lakuin apa pun yang kamu inginkan, Nak. Ayah juga ingin melihat kamu bahagia, batin Pak Muklis.
Di tempat lain.
Siang hari Heena dikejutkan dengan kedatangan Yusuf dan Ane secara tiba-tiba. Yusuf pulang sekolah langsung mampir ke rumah Heena.
"Mama ..." Teriak Yusuf saat melihat Mamanya membuka pintu. Heena langsung mensejajarkan tingginya dengan Yusuf dan langsung memeluk putranya itu.
Heena mengajak Yusuf dan Ane untuk masuk ke dalam rumah.
Heena melepas sepatu Yusuf dan kaos kakinya, Ane yang melihat itu merasa tidak enak karena ini adalah tugasnya, namun Heena menjawab tidak apa-apa, karena ini kesempatan langka, mengingat ia tidak tinggal bersama dengan Yusuf.
Ane mengalah meski merasa tidak enak, Heena juga mengganti pakaian sekolah Yusuf dengan baju santai, Yusuf sendiri juga merasa senang di gantikan baju oleh Mamanya.
Setelah selesai berganti baju, Yusuf langsung naik di atas sofa dan melompat-lompat, Ane langsung sigap menjaganya takut Tuan Mudanya jatuh.
"Yusuf sayang, ayo duduk dengan tenang." Heena mengusap puncak kepala putranya, kemudian berjalan ke dapur untuk membuatkan makan siang untuk putranya.
Saat Heena sedang memasak tiba-tiba Yusuf masuk dapur mendekati Heena yang lagi masak sup ayam.
"Mama?"
"Hei, sayang ada apa?" Heena menghentikan kegiatannya yang lagi mengaduk sup, kemudian berdiri mensejajarkan tingginya dengan Yusuf.
"Mau lihat Mama masak."
Mendengar ucapan Yusuf Heena tersenyum dan mengacak rambut Yusuf dengan gemas, Heena kemudian menggendong Yusuf untuk putranya bisa melihat ia memasak.
Setelah beberapa menit masakan sudah matang, Heena mendudukkan Yusuf di meja makan.
Saat ini ketiganya makan siang bersama. Yusuf, Heena, dan Ane.
Makan siang kali ini Heena merasa bahagia, ditambah celoteh lucu Yusuf membuatnya lupa dengan masalahnya, Heena memutuskan untuk diam tidak bercerita soal dirinya yang sudah menikah, masih menunggu waktu yang tepat untuk memberitahu putranya.
Setelah selesai makan siang, semuanya duduk di ruang tengah, Yusuf asyik bermain dengan mainan robot nya yang Heena belikan, Heena terus memperhatikan setiap senyuman yang tersungging di bibir Yusuf.
Sementara Ane yang melihat Nyonyanya melamun ingin menegur tapi tidak berani, hingga suara Yusuf menyadarkan Heena dari lamunan.
"Mama, pegangin robot yang satunya, Yusuf mau ajak pelang."
"Nanti beli lagi, Ma. Hohoho." Yusuf tertawa, Heena langsung mencubit hidung mancung putranya dengan gemas.
Ahirnya Heena mengalah dan mengikuti kemauan putranya Yusuf.
Keduanya bermain bersama penuh tawa dan canda bersama Ane juga, hingga tiba sore hari Yusuf sudah kelelahan, kini sedang duduk di pangkuan Heena, matanya tampak sayu seperti menahan kantuk.
Heena bernyanyi untuk membuat Yusuf segera terlelap, namun sepertinya itu salah, karena Yusuf saat ini sedang menatap wajah Mamanya serta menyentuh pipi Mamanya.
"Mama, apa tidak ingin berkunjung di rumah baru, Yusuf."
Deg! berarti mereka sudah pindah batin Heena, Heena melihat wajah putranya dengan khawatir mencari kesedihan di mata putranya, tapi sepertinya kebahagiaan yang terpancar.
"Sayang." Heena mengusap wajah Yusuf. "Kamu bahagia tinggal di rumah baru?"
"Ceneng banget, Mama."
Mendengar ucapan Yusuf, Heena langsung memeluk putranya itu dengan menangis. Sedih campur bahagia yang dirasakan Heena, anaknya bisa mengerti keadaan orang tuanya, hal yang ia takuti ternyata tidak terjadi.
"Mama, papa bilang ingin bertemu Mama, tapi takut katanya."
Heena langsung melerai pelukannya, ia sedikit terkejut mendengar ucapan Yusuf barusan, kenapa bisa putranya bisa tahu.
"Hei, Yusuf tidak boleh menguping obrolan orang dewasa, ok."
Heena masih berpikir bahwa Yusuf mungkin menguping saat Papanya berbicara dengan orang lain, tapi tunggu dulu bila bicara pada orang lain itu artinya ada orang lain yang tahu batin Heena, namun sedetik kemudian Heena tercengang saat mendengar pengakuan Yusuf.
"Papa bercerita pada Yusuf ingin beltemu, Mama."
Heena sungguh tidak percaya, bisa-bisanya Michael bercerita dengan anak kecil, itu kan sama saja memberi harapan untuk Yusuf bila kedua orang tuanya akan bersama lagi. Tidak! ini tidak bisa dibiarkan, batin Heena masih berperang sendiri.
Heena mengusap puncak kepala Yusuf. "Sayang tidurlah."
Setelah itu Yusuf mulai memejamkan matanya tidur di pangkuan Heena.
Heena pikir ia akan segera bertemu Michael, berbicara berdua untuk tidak sekali-kali bercerita tentang perasaannya kepada sanga putra.
Tiba-tiba Heena merasakan kepalanya berdenyut sakit, masalah satu belum selesai kini bertambah masalah baru.
Tidak akan menunda lagi, mungkin besok ia akan menemui secara pribadi, karena tidak ingin Yusuf sampai tahu.
Setelah merasa Yusuf sudah benar-benar tertidur, Heena membawanya masuk ke dalam kamar, membaringkan putranya di atas ranjang dengan perlahan.
Heena mengecup sekilas kening Yusuf, merapihkan selimut di dekat leher, kemudian Heena ke luar kamar.
Baru saja Heena menutup pintu kamar tiba-tiba dikagetkan dengan seseorang yang berdiri di hadapannya.