HEENA

HEENA
BAB 127. Ingin cerita yang sebenarnya.



Pagi ini Heena sudah ijin pada Aldebaran, bila akan menemui Yusuf di sekolahan.


Tepat pukul sepuluh pagi kurang lima menit Heena sampai di sekolahan Yusuf, berjalan masuk ke gerbang sekolah, dari tempat ini Heena melihat Ane yang duduk di bangku ujung sana bersama para pengasuh lainnya.


Ane yang duduk langsung berdiri saat melihat Heena. "Nyonya," sapanya seraya menunduk hormat.


Saat Heena mau duduk tiba-tiba terdengar bunyi lonceng bertanda jam sekolah selesai.


Heena melihat anak-anak yang berlarian keluar dari ruang kelas, lalu bibirnya tersenyum saat melihat jagoan kecilnya sudah kelihatan yang saat ini tengah berjalan ke arahnya. "Mama ..." teriknya dan sedikit berjalan cepat.


Heena menangkap tubuh mungil Yusuf, lalu menggendongnya dan membawanya menuju mobil.


Mobil melaju kini tujuannya mampir dulu ke pusat perbelanjaan, mengajak Yusuf main di sana.


Sampai di pusat perbelanjaan, Yusuf langsung berlari masuk ke dalam membuat Ane juga segara mengikuti langkah kecilnya itu.


Heena tertinggal, saat ini Yusuf dan Ane sudah sampai di tempat permainan anak.


Saat Heena mau menaiki eskalator, tiba-tiba lengannya tersenggol seorang pria.


"Oh maaf, tidak sengaja," ucap pria itu yang kemudian terbawa naik ke atas seiring perjalannya eskalator.


Sementara Heena yang saat ini masih berdiri di atas lantai masih melihat punggung pria itu, tadi tidak begitu jelas wajahnya karena pria itu menggunakan kaca mata hitam.


Tidak ingin putranya terlalu lama menunggu, Heena ahirnya segera menyusul Yusuf, sampai di lantai tempat permainan Heena mencari keberadaan putranya.


Heena melihat Yusuf yang sedang bermain kuda berputar bersama Ane, Heena tersenyum lalu mencari tempat duduk yang tidak jauh dari tempat Yusuf bermain.


Saat melihat Mamanya Yusuf melambaikan tangan, Heena juga membalas, melihat putranya yang tertawa bahagia seperti itu, berasa menghilangkan beban berat yang Heena alami sejak ke marin.


Tadi juga sudah minta ijin dengan Michael bila akan mengajak Yusuf untuk bermain, dan untungnya pria itu mengijinkan. Bila pulang sedikit lambat maka tidak masalah.


Tempat permainan cukup ramai saat ini, Yusuf juga sudah ganti pakaian tadi waktu di dalam mobil.


Saat putaran berhenti, Yusuf berganti bermain gem, kini lawannya adalah Ane, sebagai pengasuh, Ane harus bisa apa pun permainan yang di mainkan Tuan Mudanya. Bila tidak sudah dipastikan Yusuf akan marah.


Heena hanya menjadi sebagai penonton melihat Yusuf dan Ane yang asyik bermain, dalam hati Heena bersyukur punya pengasuh sabar seperti Ane, yang mau merawat dan menemani Yusuf, yang kadang juga Heena harus akui bila Yusuf sedikit manja. Tapi Ane untungnya sabar dengan semua sikap putranya.


Setelah bosan bermain game, Yusuf mengajak Mamanya dan juga Ane untuk bermain capit.


Ane yang pertama main, ia mengarahkan alat capit ke boneka hello Kitty, namun sudah beberapa kali percobaan tidak bisa, dan ahirnya bisa mencapit juga namun ketika alatnya dinaikan ke atas boneka tersebut jatuh lagi.


Wajah Ane jadi lesu, kini berganti Heena yang bermain, saat alat capit di arahkan, hanya sekali saja sudah bisa membawa boneka naik ke atas tapi tidak lama kemudian jatuh ke bawah, seperti itu terus sampai lima kali percobaan.


Sekarang berganti Yusuf yang bermain, Heena dan Ane juga ikut merasakan ketegangan, saat Yusuf mulai menggerakkan alat capit, ikutan gemas tangannya saat bonekanya susah di capit, dan ahirnya bonekanya tercapit juga, pelan-pelan Yusuf menaikan ke atas lalu dengan pelan membawa ke arahnya.


Heena dan Ane sampai menahan nafas saat boneka semakin dekat, dan ...


Yeeee! Teriak semuanya saat boneka berhasil diraih. Heena memeluk Yusuf dengan bangga, kemudian Yusuf memberikan bonekanya untuk Mamanya untuk mamanya peluk ucapnya, Heena terkekeh mendengar ucapan Yusuf.


Sampai di rumah, Heena menemani Yusuf tidur siang, namun sebelum Yusuf tertidur Heena bicara bila nanti Mamanya akan pulang, dan meminta Yusuf tidak boleh nangis saat tahu Mamanya tidak ada di rumah.


Yusuf mengangguk paham, dan tidak lama Heena mengusap punggung Yusuf, putranya itu sudah terlelap, Heena tersenyum lalu mencium kening Yusuf, Heena ikutan berbaring di samping Yusuf, beberapa detik kemudian Heena juga ikutan tertidur.


Heena bangun tepat pukul empat sore, dengan gerakan pelan Heena turun dari ranjang Yusuf, tanpa menimbulkan gerakan, tidak mau mengganggu tidur putranya.


Di luar kamar Yusuf, Heena mencari Ane, setelah bertemu Ane di dapur, Heena berpamitan bila mau pulang, dan titip Yusuf ucapnya pada Ane sebelum ahirnya Heena pergi meninggalkan rumah itu.


Di saat dalam perjalanan pulang, Heena sudah bertukar kabar dengan Aldebaran bahwa hari ini harus menemui Ibu Fatima.


Aldebaran yang masih berada di kantor segera menyelesaikan pekerjaannya, tepat pukul lima sore Aldebaran pulang.


Karena pria itu biasanya selalu pulang malam, tapi karena mau menemani Heena, beberapa pertemuan dengan klien nanti malam Aldebaran batalkan.


Pukul setengah enam sore Aldebaran sampai di rumah, berjalan langsung menuju kamar.


Di dalam sana Heena sudah bersiap, sudah mandi dan saat ini sedang bermake-up.


Aldebaran segera membersihkan diri. Heena yang sudah selesai bermake-up, ia mempersiapkan pakaian untuk Aldebaran.


Tepat pukul tujuh malam Heena dan Aldebaran keluar rumah, sebelumnya sudah berpamitan dengan Bibi Sekar, dan menitip salam untuk Paman Syafiq yang belum pulang kantor.


Seperti hari sebelumnya bahwa Heena dan Aldebaran malam ini akan menginap di rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan satu jam, mobil Aldebaran sudah sampai area rumah sakit.


Heena dan Aldebaran berjalan menyusuri koridor rumah sakit.


Tadi di jalan Heena sempat membeli buah dan makanan untuk Ibu Fatima dan Lulu, dan setelah sampai di dalam ruangan Ibu Fatima, Lulu menyambut hangat kedatangan Heena dan Aldebaran.


Ibu Fatima terlihat bahagia melihat Heena datang, dan saat ini wajahnya terlihat sudah tidak pucat lagi seperti kemarin.


Heena duduk di kursi seraya menggenggam tangan Ibu Fatima, mengajak bicara dengan keadaan Ibu Fatima yang sekarang ini.


Sementara Lulu saat ini sedang memakan makanan yang Heena bawa, Heena juga sembari menyuapi Ibu Fatima.


Selesai makan malam, Ibu Fatima menatap Heena dengan tatapan begitu dalam, seolah ada yang ingin ia sampaikan.


Dan Heena merasa genggaman tangan Ibu Fatima semakin kuat, Heena tersenyum saat melihat bola mata Ibu Fatima kini sudah mulai menggenang air mata.


"Jika Ibu bercerita yang sebenarnya apa kamu akan marah sama Ibu."


Heena menggeleng dan tersenyum, tidak ada hak dirinya bila harus marah, semua sudah terjadi, Heena hanya bisa menerima takdirnya, dan menjalankan hubungan baik.


"Katakan Ibu?" ucapnya lembut dengan senyum manis yang terukir di bibir.