HEENA

HEENA
BAB 78. Bertemu Michael di sekolah Yusuf.



Semua orang telah berkumpul untuk sarapan pagi di meja makan, Yusuf sudah rapi menggunakan seragam sekolahnya, yang saat ini duduk di samping Heena.


Bibi Sekar, Paman Syafiq, dan juga ada Rengky yang pagi ini ikut sarapan pagi bersama, semua makan dengan tenang, sesekali melihat ke arah Yusuf dan tersenyum.


Anak tiri Aldebaran ternyata tampan juga, kayaknya bisa jadi persaingan ini buat Aldebaran bila ketemu bapaknya itu bocah, anaknya saja tampan apa lagi bapaknya, batin Rengky dengan menyuap makanan ke dalam mulutnya seraya melihat ke arah Yusuf.


Dengan menyuapi Yusuf, Heena teringat kejadian tadi malam, di saat dirinya tiba-tiba terbangun dari tidurnya, melihat Yusuf yang duduk di atas ranjang seraya menatap ke arah Aldebaran yang lagi tidur di sofa.


Dari sorot mata Yusuf yang dipancarkan, Heena bisa melihat bahwa ada sebuah pertanyaan dalam pikirin anak kecil itu, hanya mungkin bingung cara mengungkapkan.


Dan Heena berharap Yusuf tidak bertanya perihal semalam apa yang dia lihat. Sampai nanti tiba waktunya yang tepat Heena dan Aldebaran akan sama-sama menjelaskan pada Yusuf.


Setelah acara sarapan selesai, Heena dan Yusuf pamit pada semua orang untuk berangkat sekolah, Yusuf mencium punggung tangan Bibi Sekar dan Paman Syafiq, bersamaan itu Yusuf mendapat pesangon dari Bibi Sekar.


"Hole makacih, Oma?" Yusuf kegirangan lompat-lompat dengan memegang selembar uang seratus ribu.


Dan tingkahnya itu langsung membuat semua orang di ruang makan jadi tertawa.


Setelah itu gantian Heena yang pamit dengan Bibi Sekar dan Paman Syafiq, kemudian berjalan ke luar bersama Ane, di luar rumah sudah ada sopir yang siap mengantar.


Mobil langsung melaju setelah semua sudah berada di dalam mobil, rasanya Heena sudah lama sekali tidak ikut mengantar Yusuf ke sekolah, bila diingat-ingat ia mengantar Yusuf sekolah saat menjadi istri Michael.


Dan tentu itu sudah lama sekali, dan hari ini Heena tidak menyangka akan mendapat kesempatan mengantar Yusuf sekolah lagi, untungnya Aldebaran tidak membatasi apa pun yang akan Heena lakukan.


Hah! mengingat nama Aldebaran, Heena jadi ingin tersenyum, pria itu memang cuek tapi Heena merasa dia baik hati.


Dan senyum-senyum Heena di tangkap oleh Yusuf saat anak itu mendongakkan kepalanya.


"Mama napa cenyum-cenyum cendiri," celetuk Yusuf tiba-tiba.


"Ah, tidak apa-apa." Heena rasanya malu sekali ketahuan Yusuf senyum-senyum sendiri.


Ane yang duduk di sebelah Heena, juga ikut tersenyum, Ane merasa Heena bahagia di pernikahan ini.


Dan tidak lama kemudian mobil sampai di sekolahan Yusuf.


Heena ke luar dari dalam mobil bersama Yusuf, kemudian menggandeng tangan Yusuf untuk masuk ke dalam sekolahan.


Namun langkah Heena langsung berhenti, saat matanya kini tengah melihat pria yang berdiri di samping pagar masuk sekolah.


Yusuf mengangguk, kemudian Ane dan Yusuf meninggalkan Heena tetap di luar.


"Tadi pagi aku mendatangi rumah kamu, tapi rumah kamu dikunci, dan aku pikir kalian sudah berangkat, tapi nyatanya aku sampai sini Yusuf belum tiba, lalu kalian dari mana saja? panjang lebar pertanyaan Michael yang saat ini dirinya dan Heena sudah duduk di bangku yang ada di luar kelas.


Haruskah aku memberi tahu? tapi ya, mungkin dia tetap berhak tahu karena aku pergi bersama putranya juga, dia juga pasti mencemaskan Yusuf pikir Heena.


Heena menghela nafas panjang. "Kami tadi beli roti dulu di tempat langganan kami, katanya Yusuf mau makan siang sama roti jadi aku belikan."


Heena melirik Michael dan sepertinya pria itu percaya dengan cerita karangannya, karena Heena tidak mungkin kan jujur sudah tidak tinggal di rumah itu, Ane saja Heena suruh tutup mulut tidak boleh cerita pada siapa pun.


"Baiklah jika begitu, tadinya aku khawatir saja, bila begitu aku titip Yusuf, karena aku harus berangkat ke kantor." Michael melihat ke arah Heena.


"Pasti, karena dia kan juga putraku," jawab cepat Heena, yang langsung mendapat anggukan kepala Michael.


"Apa kantor kamu berjalan lancar?" tanya Heena saat Michael sudah berdiri dan siap mau berjalan.


Michael yang berdiri sudah memunggungi Heena, ia sedikit berbaik lalu menoleh ke arah Heena. "Walau tidak sebesar dahulu, tapi Alhamdulillah semua kerjaan berjalan dengan lancar."


Heena mengangguk paham. "Syukurlah."


Setelah itu Michael Benar-benar pergi meninggalkan sekolahan Yusuf.


Heena terus melihat punggung tegap Michael sampai masuk ke dalam mobil, hingga mobilnya melaju dan menghilang dari pandangannya.


Michael Henderson, pria keras kepala yang dulu pernah aku kenal, sekarang sudah mulai berubah menjadi sedikit lembut, dan aku berharap dia bisa mengambil pelajaran dari semua peristiwa yang sudah terjadi. Heena menengadahkan dua tangannya lalu mengusap wajahnya dengan berkata amin.


Di tempat yang berbeda.


Wanita cantik menggunakan baju dress selutut bewarna krim, yang sangat pas di badannya hingga membentuk lekuk tubuhnya yang seksi, rambutnya dibiarkan tergerai, berjalan anggun menyusuri koridor rumah sakit. Matanya yang sebab ia sembunyikan di balik kaca mata hitamnya.


Sampai di tempat tujuan, langsung membuka handle pintu, saat pintu sudah terbuka, wanita cantik itu berdiam sejenak melihat pria di atas ranjang pasien.


Dari bentuk tubuh dan wajah meski menggunakan kaca mata hitam, pria itu tetap mampu mengenali.


Dan wanita cantik itu semakin berjalan mendekati seraya tersenyum sinis.