
Di sebuah gedung bangunan ruko berlantai dua, sebuah tempat yang terbilang jauh dari kata mewah, namun pemiliknya sangat menyukai karena di tempat inilah awal mula ia akan memulai bisnis kembali.
Setelah berbagai masalah kehidupan yang ia alami selama lima tahun belakangan ini, ternyata tidak mengubah kepribadiannya yang suka bekerja keras, padahal bisa saja ia menerima bantuan dari Omnya yang langsung memiliki perusahaan, tetapi ia menolak keras, merasa yakin akan kemampuannya pasti akan berhasil.
Aldebaran Al-Gazali.
Dialah pemilik tempat ini, yang saat ini sedang duduk diantara bawahannya yang mau bekerja susah payah bersamanya dari nol.
Hanya tiga orang yang saat ini membantunya menjalankan bisnis ini, yaitu Dika. Syifa, dan Tia.
Saat ini sedang melakukan rapat membahas kegagalan kemarin peluncuran permainan gem baru yang kurang diterima di pasaran.
Penjelasan dari Tia, sebagai bawahannya yang ditugaskan untuk mensurvei hasil pemasaran, hanya membuat Aldebaran menarik sedikit sudut bibirnya, entah apa yang dipikirkan pria itu, yang sepertinya hanya merasa biasa.
Tangannya mengetuk-ngetuk pena di atas kertas, bibirnya mengatup rapat, perlahan matanya menatap satu per satu wajah karyawannya. Semua orang diam tidak ada yang berani bicara.
"Syifa."
Syifa yang merasa namanya disebut langsung memberikan penjelasan yang bertanda bahwa ia harus bicara.
"Bagaimana bila kita mencari pekerja baru yang benar-benar handal dalam menggambar."
Penjelasan dari Syifa mulai dipikirkan oleh Aldebaran, penggambaran yang bagus sangat penting, apa lagi ini adalah mengenai game online.
"Lakukan."
Satu perintah kalimat yang singkat langsung Asisten Dika laksanakan, ia langsung membuka laptop di depannya dan langsung mengetik mengenai pembutuhan karyawan baru di web milik DA Corp.
drrtt.
Aldebaran mengambil handphonenya yang berdering, lalu hendak berdiri dari duduknya dan berjalan menjauh dari ketiga bawahannya.
"Hemm."
Jawaban Aldebaran setelah orang di sambungan telepon selesai bicara, Aldebaran kembali menghampiri ketiga bawahannya, dan mengatakan ia akan pergi.
Ketiga bawahannya melanjutkan pekerjaannya, sementara Aldebaran mulai berjalan ke luar menuju parkiran mobilnya.
Para gadis yang melintas di area tersebut langsung melebarkan mata, tidak berkedip sedikit pun saat berpapasan dengan Aldebaran, pria yang berjalan tegap dengan balutan jas hitam yang pas di badan, bibir tipis mengatup rapat, hidungnya mancung, serta kaca mata hitam yang digunakan menambah aura dingin, menatap pria itu hingga di dekat mobilnya, dan langsung membuat hati terpesona saat pria itu membuka kaca mata hitam, kini terlihat jelas ketampanan yang mendekati kata sempurna itu memiliki mata yang tajam kesukaan para wanita, serta alis yang tebal.
Aldebaran melajukan mobilnya menuju suatu tempat.
...****************...
"Jelek."
Heena membuang nafas kasar, saat melihat dirinya tidak cantik, tubuhnya yang kurus serta wajahnya yang terlihat tidak segar.
Heena membuka laci di bawah meja rias, lalu ia meraih sebuah kartu, kartu ATM miliknya yang di dalamnya ada sebuah jumlah uang dari pemberian mantan suami.
Heena membolak-balikkan kartu tersebut, menimbang-nimbang harus ia gunakan untuk perawatan atau ia gunakan untuk kebutuhan yang lebih penting, mengingat ia belum memiliki pekerjaan.
Heena menatap lagi pantulan dirinya di cermin, setelah memantapkan hatinya ia kan menggunakan uangnya sebagian, untuk membeli skincare guna merawat wajahnya, dan akan melakukan rutin olah raga.
Satu jam berlalu, kini Heena sudah berada di mall terdekat, ia langsung berjalan mencari toko kosmetik, untuk masalah pakaian ia tidak begitu perlu karena masih pada bagus, ia hanya butuh memperbaiki wajah dan badannya, Heena akan memulai merubah dirinya.
Dulu yang terkenal sebagai wanita cantik saat sebelum menikah, hatinya ingin bisa seperti dulu lagi, dan akan berusaha terus untuk merawat diri.
Karena ia sadar saat dirinya lengah tidak merawat diri, suaminya berpaling, meski memang dari dulu tidak pernah dilakukan romantis tapi setidaknya dulu tidak sampai mengkhianatinya.
Heena menghentikan langkahnya di pintu toko kosmetik, Heena menghela nafas panjang, hatinya masih sakit mengingat semuanya.
Tidak ingin mood baiknya dirusak karena pikiran kesalnya, Heena langsung melangkah ke dalam mencari sesuatu yang ia inginkan.
Tidak butuh waktu lama, Heena sudah mendapatkan yang ia cari, membayarnya lalu ke luar toko.
Heena masuk ke toko lain yang ia rasa membutuhkan barang yang ada di toko tersebut.
Setelah semua sudah ia dapatkan Heena ke luar Mall dengan membawa beberapa belanjaan.
Dari arah yang sama, dalam waktu bersamaan. Aldebaran masuk Mall bersama Rengky, bahkan pasti Heena akan langsung mengenali bila ia tidak sedang menoleh ke arah tas belanjaannya yang tadi membuat tangannya sakit karena belum pas penataannya.
Sesat setelah tubuhnya kembali tegap, Heena merasakan sesuatu yang rasanya tidak asing baginya, Heena menoleh ke belakang namun tidak ada siapa-siapa, hanya melihat orang-orang berlalu lalang, Heena kembali berjalan ke luar.
Aldebaran dan Rengky berjalan menjauh, keduanya berjalan menuju ruangan yang sudah di pesan.
Rengky memukul pelan lengan Aldebaran. "Bro, tiap kali gue jalan bareng sama elo, pasti cewek-cewek yang dilihatin wajah elo! semua naksir sama elo!" Rengky bersungut, hatinya kesal merasa kalah saing.
"Memang siapa yang akan naksir mantan napi?" Aldebaran masih memasang wajah cool.
Mendengar kalimat yang di ucapkan Aldebaran, Rengky mencebik, bibirnya komat-kamit, jelas-jelas saja Aldebaran yang tidak peduli sama wanita tapi pake merendahkan diri. Wajahnya kemudian melengos melihat arah lain.
Aldebaran yang melihat sekilas sepupunya mencebikkan bibirnya, ia hanya tersenyum kecil sangat kecil hingga tidak terlihat.
Dua pria tampan yang berjalan bersama di Mall, saat ini menjadi pusat perhatian para gadis. Dengan ketampanan hampir serupa, hanya perbandingan sebelas dua belas, tinggi badan keduanya sama, hampir kurang lebih seratus delapan puluh sentimeter, belum puas mata memandang namun dua pria berwajah tampan tersebut kini sembunyi di balik pintu lift.