HEENA

HEENA
BAB. 80. Penjara 15 tahun.



Deg!


Deg!


Detak jantung semakin terpompa cepat menunggu bibir berucap, ah! Mulan langsung menangis menjerit dalam hati, saat telinganya mendengar kalimat yang Hakim tengah sampaikan.


"Setelah kami mendengar dari para saksi, dan setelah kami melihat semua dari barang bukti, dengan ini Hakim memutuskan dengan sebenar-benarnya dan seadil-adilnya, bahwa tersangka tengah mendapatkan hukuman penjara lima belas tahun."


Tuk.


Tuk.


Tuk.


Bersamaan Hakim ketua selesai bicara dan mengetuk palu tiga kali, air mata Mulan langsung tumpah, bahkan Pak Muklis dan tiga orang pelaku lainnya juga menangis seraya menundukkan kepalanya.


Hanya Aldebaran pihak yang merasa terpuaskan, mau dikata kejam karena harus bahagia di atas kesedihan orang lain, Aldebaran tidak peduli, karena apa yang saat ini mereka dapatkan itu adalah hasil perbuatan mereka sendiri.


Bahkan dahulu Aldebaran pernah di posisi itu, acuh dan tidak peduli Aldebaran berjalan ke luar.


Mulan yang baru sadar dari keterkejutannya sampai membuatnya lupa yang seharusnya segera menyapa Ayahnya.


Mulan bangkit dari duduknya, lalu segera mengejar langkah Ayahnya yang berjalan ke luar ruang sidang didampingi polisi.


Mulan berlari lalu menghadang langkah Pak Muklis dan langsung memeluknya. "Ayah."


Mulan terisak dalam pelukan Ayahnya, menyalurkan rasa sedih yang ia terima barusan, yang akan terpisah dengan Ayahnya dalam waktu cukup lama.


Lima belas tahun, mengingat lagi kalimat itu rasanya Mulan tidak sanggup, dan semakin terisak di dalam pelukan Ayahnya, sebelum ahirnya polisi membawa Pak Muklis pergi.


Masih dengan Isak tangis Mulan melihat punggung Ayahnya yang berjalan semakin menjauh.


"Ayah ..." teriak lirih Mulan, Mulan tidak mampu berkata-kata lagi, ia berjalan dengan langkahnya yang lambat, dengan tatapan mata kosong, melangkah berjalan menuju parkiran mobilnya.


Pipinya terus basah akan air mata yang tidak mau henti, tangannya seolah tidak punya tenaga hanya sekedar menarik pintu mobil.


Dengan perlahan Mulan masuk ke dalam mobil, Mulan meluapkan rasa dalam hatinya berteriak sekuatnya, bercampur menangis.


Aaaaa! Mulan memukul setir mobil berkali-kali, yang sesekali menjentus-jentuskan kepalanya di setir mobil juga seraya terus berteriak terus menerus.


Dan saat ini kehilangan Ayahnya yang harus di penjara, Mulan terus menyalahkan dirinya, tanpa bisa berbuat sesuatu selain hanya menerima kenyataan.


Setelah beberapa menit hatinya sudah mulai tenang, Mulan melajukan mobilnya, saat ini tidak ada tujuan lain selain pulang ke rumah, Mulan kehilangan semangat, bahkan sudah tidak mempedulikan lagi telepon dari Asisten Ayahnya, yang paling akan mengabarkan perusahaan dalam kondisi masalah pikir Mulan.


Bila Mulan diselimuti rasa kesedihan, berbeda halnya dengan Aldebaran yang saat ini banyak orang yang mengucapkan selamat padanya.


Orang-orang yang dahulu yang pernah bekerja di perusahaan Papanya, berbondong-bondong datang mengucapkan selamat atas keberhasilan Aldebaran dan selamat atas kembalinya lagi perusahaan Al-Gazali Group.


Aldebaran sangat senang dan berterima kasih dengan mereka semua, tapi masih batas normal, karena biasa bila ada orang kaya semua orang yang ingin mendapat keuntungan pasti merayu menjilat sok baik.


Tia dan Syifa juga mengucapkan selamat pada Aldebaran, mereka berdua tidak menyangka bila bosnya ternyata orang kaya, masih tidak percaya tapi itu kenyataannya.


Syifa masih menatap kagum ke arah Aldebaran, bos yang diam-diam ia puji hanya sebatas fans, ternyata bukan sekedar bos permainan game online.


Bos biasa saja, Syifa sudah kagum apa lagi ini ditambah bos kaya raya, jiwa play girl nya meronta-ronta, bila tidak ingat Aldebaran adalah bosnya pasti sudah ia jadikan pacar, pacar simpanan juga mau, Eh! paling yang mau hanya Syifa dan bos Aldebaran tidak mungkin mau, ucapan Syifa dalam hati yang menampar balik ucapannya, supaya sadar diri.


Mereka semua saat ini sedang berada di luar gedung D.A. Corp, memang Aldebaran belum sempat masuk ke dalam, karena tadi langkah kakinya terhenti saat beberapa orang datang dan mengucapkan selamat.


Syifa yang matanya masih menatap kagum ke arah bos Aldebaran, tiba-tiba merasa bahunya di toel oleh Tia, Syifa menoleh dan Tia menunjukan tiga wartawan wanita yang datang dari arah depan, berjalan menyelinap di tengah-tengah beberapa orang.


Syifa terus melihat tiga wartawan wanita itu sampai berdiri di depan Aldebaran. Dan langsung mengajukan beberapa pertanyaan.


Syifa langsung menutup mulutnya, matanya tidak berkedip saat melihat wajah Aldebaran yang terlihat tidak lagi senyum tapi juga tidak lagi dingin, terlihat sangat tampan.


"Berhentilah mengagumi, kau bisa di pecat bos," bisik Tia di telinga Syifa seraya menari tangan Syifa untuk menjauh.


"Hei, aku masih mau di sini!" Syifa belum mau pergi. Tia tidak peduli terus menarik tangan Syifa, bagi Tia, Syifa terlalu lebay.


Dan hampir seluruh stasiun televisi membawakan berita tentang Pak Muklis, dan juga berita kebenaran Aldebaran.


Bibi Sekar dan Heena yang saat ini sedang menonton televisi juga sedang menyaksikan berita live di TV.


Heena dan Bibi Sekar saling berpelukan bahagia mendengar berita itu.


Namun berbeda dengan seseorang di tempat lain, Mulan yang telah sampai rumah, dan saat ini ia sedang memasuki kamar Ayahnya, air matanya kembali tumpah, Mulan melempar tas yang ia pegang lalu jatuh tertunduk di lantai seraya berteriak memanggil Ayahnya.


"Ayah ...."