
Bila Heena sudah tertidur pulas di bawah selimut tebalnya, berbeda dengan pria yang sejak bertemu Heena siang tadi, ia merasa penyesalan begitu dalam, hingga membuat dirinya hilang tujuan, dan tepat pukul dua belas malam Michael baru sampai rumah.
Kakinya terlihat malas untuk menapaki anak tangga berjalan menuju ke kamarnya, berpakaiannya sudah tidak rapi, jasnya di lepas hanya ia pegang, kemeja yang ia kenakan ke luar dan nampak kusut, dasinya mengendur dengan mencong ke kiri, rambutnya acak-acakan serta wajah nampak lelah.
Seperti itulah penampilan Michael malam ini, tangganya membuka handel pintu, lalu masuk ke dalam.
Berjalan menuju ranjang, Michael melihat ada seseorang di bawah selimut, ia langsung berjalan lebih cepat meski agak susah, lalu segera menyibak selimut setelah berhasil mendekati ranjang.
"Heena," gumamnya, "Heena, kamu di sini, hahaha." Michael memeluk dan mengguncang tubuh orang tersebut.
"Michael, lepas! aku Mawar bukan, Heena!" sentak Mawar seraya mendorong dada Michael.
Beraninya dia menyebut nama Heena di kamar aku! sungguh aku tidak sudi! dan, hah! apa ini dia mabuk. Gumam kesal Mawar dalam hati.
"Kau bukan Heenaku." Michael memperjelas pandangannya, dan setelah memang bukan Heena, Michael berlalu meninggalkan Mawar yang lebih kesal.
"Michael ..." teriaknya seraya menatap Michael yang berjalan ke kamar mandi.
Heena Heena Heena, aku akan membuat perhitungan pada wanita itu!
Hati Mawar bergemuruh dengan dada naik turun, tangannya mengepal.
Pagi hari.
Mawar kembali berteriak-teriak kesal, saat ia bangun tidur, mendapati Michael yang sudah tidak ada di Mansion, dan nomor ponsel Michael dihubungi berkali-kali tidak aktif.
Mawar berteriak sana sini, bahkan memaki para pelayan yang tidak bersalah, Yusuf mengintip dari balik pintu kamarnya, lalu berbisik di telinga Ane, "Tante itu gila." Tertawa menutup mulut imutnya.
"Iya, hahaha," timpal Ane yang juga ikut tertawa seperti Tuan Mudanya.
Arghhhh!
Mawar mengacak rambutnya sendiri, ada beberapa vas bunga di ruang tengah ia pecahkan, sekarang berjalan menuju kamar lagi.
"Aku harus menemui, Michael. Rasanya aku sudah bosan hidup seperti ini!" gumamnya seraya terus berjalan menuju kamarnya.
Siang hari Mawar mendatangi kantor Michael, kebetulan Michael yang baru ke luar dari ruang meeting, Mawar baru sampai.
Wanita itu langsung mengikuti langkah suaminya untuk masuk ke ruang kerjanya.
"Ada apa kamu datang ke sini," ucapnya acuh seraya duduk di kursi sofa. Mawar mendekati Michael.
"Aku ingin menagih janjimu." Mawar menatap wajah Michael yang terlihat tampak lelah.
Michael memijit pangkal hidungnya, istrinya yang sekarang benar-benar beda dengan yang dulu, yang sekarang begitu menginginkan hartanya.
"Bisa tidak kamu tunggu sebentar."
"Kapan!" ucapan Mawar langsung meninggi, Michael jadi merasa curiga dengan niat Mawar.
Melihat Michael yang menatapnya dengan tatapan curiga, Mawar kembali berakting.
Namun tatapan Michael tidak berubah, merasa sudah malas dengan keberadaan Mawar di ruang kerjanya, Michael berdiri berjalan ke arah laci meja kerjanya, lalu mengambil sesuatu dari dalam laci tersebut.
Michael menandatangi lalu menyerahkan berkas berisikan pernyataan saham lima persen atas nama Mawar.
Mawar langsung senang menerima berkas tersebut, Mawar langsung memeluk dan mencium Michael, sebelum ahirnya ia pergi dari kantor Michael.
Setelah kepergian Mawar, Michael menjatuhkan tubuhnya di sofa, kini dengan posisi tiduran, saham lima persen yang ia berikan ke Mawar itu memang tidak seberapa bila dibandingkan dengan harta kekayaannya.
Tidak begitu memikirkan yang dilakukan Mawar, hati dan pikiran Michael sedang kacau menyesali perbuatannya.
Di dalam mobil yang sedang melaju di jalanan raya, Mawar mengendarai mobilnya seraya berteriak senang setelah mendapatkan yang ia mau.
"Aku berhasil, hahaha!"
Tiba malam hari.
Michael pulang ke Mansionnya tepat pukul delapan malam.
"Papa ..."
Suara Yusuf menyambut kedatangannya seraya berlari mendekat dan meminta gendong.
Michael membawa Yusuf duduk di ruang tamu, Yusuf menceritakan kegiatannya hari ini di sekolah, tidak lupa menceritakan Mawar yang pagi-pagi sudah marah-marah.
Mendengar cerita Yusuf yang mengatakan Mawar marah-marah pagi hari, Michael jadi ingin lebih tahu, dan saat bertanya pada Ane, jawabannya memang benar, bahkan Ane mengatakan bahwa Nyonya juga marah-marah pada pelayan.
"Sayang, Papa mandi dulu ya, nanti kita main lagi."
Yang langsung dijawab dengan anggukan cepat oleh Yusuf. Michael mencium pipi Putranya sebelum ia beranjak pergi.
"Kamu tadi pagi marah-marah kenapa!"
Mawar yang sedang duduk di sofa kamar seraya membaca majalah, langsung terperanjat kaget mendengar suara Michael yang terdengar dingin, saat memasuki kamar.
"Aku tidak marah-marah," elaknya seraya tersenyum dan mendekati Michael yang saat ini sedang melepas pakaian kerjanya.
"Tidak usah bohong, aku tahu!" Michael berbalik badan menatap Mawar dengan tajam. "Katakan karena apa!"
"A-aku ... aku hanya mencarimu, aku bangun tidur, kau sudah tidak ada."
Michael mendengar jawaban Mawar tidak mengubah ekspresi wajahnya, tetap datar dan dengan segera ia lebih milih mandi dari pada meladeni istinya Mawar yang tidak jelas. Entah mengapa akhir-akhir ini perasaannya terhadap Mawar berubah hambar.
Michael menyiram tubuh lelahnya di bawah pancuran air shower. Matanya terpejam menikmati air yang menetesi tubuhnya, namun bayang-bayang wajah Heena semakin jelas dalam matanya, wajah menyedihkan saat dahulu masih ia sakiti.
"Maafkan aku, Heena." Tubuh Michael meluruh kebawah, membiarkan air shower terus membanjiri tubuhnya.
Kini Michael baru menyadari setelah kehilangan Heena, kehadiran wanita itu sungguh berarti.