
Wanita itu adalah Bibi Sekar, melihat putranya tertawa bersama seorang wanita yang merawatnya beberapa hari ini, tentu membuat hati seorang ibu bahagia, apa lagi kisah asmara putranya juga kurang baik, yang selalu patah hati.
Bibi Sekar kembali ke dalam, tidak ingin mengganggu keduanya.
"Bila nanti aku pulang kamu tidak ikut," ucap Rengky seraya menatap Ayunda yang tersenyum ke arahnya.
Di senyumin Ayunda terus-menerus, hati Rengky meleleh.
Ya, sore nanti Rengky akan pulang karena keadaan sudah cukup membaik, tidak terasa Rengky di rumah sakit sudah lima hari, harusnya tiga hari lalu ia sudah pulang, tapi kerana beralasan keadaannya masih sakit karena hanya ingin berdekatan dengan Ayunda, dan hari ini mau beralasan lagi tidak enak batin Rengky.
"Tidak Tuan, karena Tuan sudah sehat, jadi saya kembali bekerja seperti biasanya lagi." Ayunda bicara lembut supaya Rengky tidak tersinggung dan bisa memahami.
Namun semua itu sepertinya hanya khayalan Ayunda saja, karena setelah mendengar ucapan Ayunda barusan, wajah Rengky berubah murung, seperti anak kecil yang tidak dibelikan mainan baru oleh orang tuanya.
Rengky kesal dalam hati, mendengar penjelasan Ayunda yang akan kembali kerja seperti biasanya, itu artinya Ayunda akan bertemu dengan banyak pasien, bila pasien itu sudah tua dalam hati Rengky tidak masalah, tapi bagaiman bila pasien yang Ayunda tangani masih muda lalu menggodanya.
Mode cemburu mulai muncul, hah! Rengky semakin kesal saat belum bisa mengatakan perasaannya.
Lain halnya dengan yang Ayunda terima dari perubahan wajah Rengky, Ayunda pikir Rengky marah padanya dan Ayunda tidak ingin hal itu terjadi, padahal Rengky hanya kesal pada dirinya sendiri. Dan Ayunda sebisa mungkin ingin menenangkan Rengky.
"Kakak saya kan tinggal satu rumah dengan Tuan, bila ada waktu nanti saya akan mampir ke sana."
Mendengar kalimat yang terucap oleh bibir Ayunda barusan, Rengky tersenyum sumringah dan mengangguk setuju.
Karena panas matahari sudah mulai tinggi, Ayunda membawa masuk Rengky ke dalam, sampai di sana, Bibi Sekar sudah merapihkan barang-barang Rengky yang akan dibawa pulang.
Tiba sore hari Bibi Sekar dan Paman Syafiq serta Heena membawa Rengky pulang, Aldebaran tidak ikut karena ada pekerjaan di kota sebelah, Ayunda membantu mendorong kursi roda di mana ada Rengky yang duduk di sana.
Sampai tiba di parkiran mobil, semua masuk ke dalam mobil, meninggalkan Ayunda sendiri yang masih berdiri di sana.
Mobil melaju Ayunda melambaikan tangan, beberapa hari bersama Rengky, saat melihat pria itu sudah pulang, ada perasaan yang beda yang sulit diartikan, Ayunda kembali masuk ke dalam rumah sakit.
Keesokan harinya.
Setelah sarapan pagi, Heena membantu Bibi Sekar yang membawakan makanan ke kamar Rengky, setelah selesai menemani Rengky sarapan, Bibi Sekar ke luar kamar karena ada yang menelpon.
Heena menatap Rengky saat tinggal berdua saja, Rengky mengernyitkan keningnya saat seperti menangkap tatapan tanda tanya dari Heena.
"Kamu menyukai adikku?"
Deg! Mata Rengky seketika membola mendengar pertanyaan Heena, bagaimana bisa Heena tahu, apakah Ayunda bercerita dengannya bila ia menyukai Ayunda, tapi faktanya Rengky belum mengatakan perasaannya, masih bingung dari mana Heena tahu.
Melihat Rengky yang hanya diam melamun, Heena menjentikkan jari. "Kamu kaget karena aku bisa membaca sikap anehmu itu." Heena memberi tatapan menyelidik.
Dan hal yang dilakukan Heena itu, Rengky merasa terintimidasi, seolah ketangkap menyukai anak orang yang tidak boleh disukai.
Tapi Rengky tidak mau menutupi, Rengky menatap iba pada Heena memohon bantuannya, Rengky menggenggam tangan Heena. "Iya aku menyukai, apa aku boleh dengannya."
Heena meletakkan tangan di dagu seraya berpikir sebelum ahirnya bicara, "Baiklah kalian boleh bersama, aku juga akan membantumu, tapi ingat jangan sakiti adikku atau kau ..." Heena menatap tajam Rengky seraya menunjukan pukulan tangan di wajah Rengky.
Hahahah! Rengky malah tertawa, Istri Aldebaran memang Lucu batinnya.
Heena bersungut saat melihat Rengky yang malah tertawa, kemudian pergi dari kamar Rengky.
Tepat pukul dua siang hari, Heena ke luar rumah, dirinya mau mendatangi butik yang sudah direkomendasi oleh Aldebaran, kini Heena datang ke sana sendiri karena Aldebaran masih ada pekerjaan.
Nanti malam ada sebuah pesta perayaan perusahaan Al-Gazali Group yang masih baru ini, Bibi Sekar tidak ikut karena ingin menjaga Rengky di rumah.
Perjalanan menempuh waktu tiga puluh menit, kini Heena sudah sampai di butik tersebut, tempat yang besar dan nyaman, bila dilihat dari gedungnya, butik tersebut terdiri dari tiga lantai.
Heena kemudian berjalan masuk ke dalam, pegawai toko yang mendapat perintah dari atasannya langsung menyambut kedatangan Heena karena sudah mengenali wajah Heena di foto yang diberikan oleh atasannya tadi.
Pegawai tersebut langsung mengajak Heena masuk ke dalam, naik ke lantai dua, dari sini Heena melihat banyak sekali gaun-gaun mewah yang tentunya harganya sampai puluhan juta bahkan ratusan juta.
Pegawai tadi dibantu dua teman pegawai juga, mengajak Heena masuk ke dalam ruang ganti, di sana sudah ada beberapa gaun yang sudah Aldebaran pilih untuk Heena coba.
Tadi Aldebaran memilih gaun melalui foto yang dikirim oleh pemilik butik ke handphone Aldebaran.
Ada lima gaun yang harus Heena coba, dan yang paling cocok dan pas dengan tubuh serta warna kulit tubuhnya adalah warna biru muda, Heena terlihat sangat cantik, padahal belum di makeup.
Bagian dada gaun itu tertutup, seolah Aldebaran sudah memprediksi untuk menjaga Heena dari tatapan lapar para laki-laki di pesta nanti.
Sekarang Heena mulai di makeup wajahnya, cukup lama karena untuk hasil yang bagus, setelah satu jam kurang lebih, Heena selesai di makeup, tadi saat di makeup Heena membelakangi cermin, dan setelah selesai Heena melihat tampilannya di depan cermin dengan tatapan tidak percaya bahwa ini adalah dirinya.
"Nyonya sangat cantik," ucap salah satu pegawai seraya membenahi gaun yang dipakai Heena.
Heena tersenyum dan mengucapkan terimakasih, tepat pukul tujuh malam, Heena dijemput mobil yang Aldebaran perintah untuk mengantar Heena ke tempat acara.
Acara di lakukan di sebuah hotel ternama, yang hadir tentu banyak orang, dan pasti orang kaya-kaya semua.
Heena saat ini sudah berada di dalam mobil, tiga puluh menit yang lalu Aldebaran memberi kabar bahwa nanti akan bertemu di sana, Heena merasa insecure, takut bila Aldebaran kurang suka dengan penampilannya.
Tatapan Heena terus menatap ke arah luar jendela mobil, sampai kini mobil tiba di tempat tujuan.
Heena melangkah ke luar mobil, setelah mobil berhenti tepat di depan pintu masuk ballroom hotel.
Beberapa orang yang juga baru sampai dan ingin masuk ke dalam, menatap Heena yang terlihat cantik memukau.
Heena dengan tersenyum berjalan masuk ke dalam, sampai di dalam ruangan sudah mulai ramai dipenuhi tamu undangan, Heena berjalan menuju tempat minuman, karena merasa haus, Heena mengambil minuman yang tidak ada alkoholnya, lalu mau kembali berjalan ke tempat duduk.
Saat baru mau melangkah, tiba-tiba Heena merasakan ada air yang membasahi kepalanya hingga gaunnya, Heena terkejut seraya mendongakkan kepala dan perlahan lalu membalik badan dan kini Heena melihat siapa pelakunya.
"Ups, maaf tidak sengaja." Wanita itu bicara tanpa bersalah, seraya menutup mulutnya yang tersenyum menggunakan tangan kiri semakin mengejek. Sementara tangan kanannya memegang gelas yang isi jusnya sudah ditumpahkan di tubuh Heena.