
Tidak, tidak! aku tidak ingin mereka menangkap aku, aku harus bisa kabur dari sini, batin Pak Muklis, matanya terus melihat ke kanan dan ke kiri jalanan untuk mencari jalan kabur.
"Buka! buka Pak pintunya ..." teriak para polisi yang saat ini sudah berdiri di dekat mobil Pak Muklis.
"Pak Muklis, silahkan Anda ke luar, bertanggung jawablah atas kesalahan Anda!"
"Aldebaran!" gumam Pak Muklis ketakutan saat mendengar ucapan Aldebaran.
"Tidak! aku tidak akan menyerah! aku tidak mau masuk penjara!" Pak Muklis mencari cara untuk bisa kabur, namun tetap saja kini sudah tidak ada celah, apa lagi mereka semua membawa pistol, Pak Muklis semakin takut.
Di luar, Aldebaran dan para polisi sedang kompromi membicarakan sesuatu, setelah itu Aldebaran bicara lagi dengan Pak Muklis.
Aldebaran menempelkan telapak tangannya di jendela kaca mobil seraya mendekatkan wajahnya di kaca jendela mobil, dari dalam Pak Muklis bisa melihat bahwa saat ini aura Aldebaran sangat marah. Matanya menyipit tajam serta rahang mengeras.
"Pak Muklis! Anda ke luar baik-baik sekarang, atau Anda ingin saya memecahkan kaca jendela mobil ini!"
Pak Muklis terdiam ia berpikir, tetap di dalam ahirnya pun dipaksa ke luar, ke luar baik-baik ahirnya pun dibawa ke penjara.
Pak Muklis tidak ada pilihan lain, ahirnya ia membuka pintu mobil.
Di tempat ini ada lima polisi, Aldebaran dan juga Asisten Dika.
Tiba-tiba ada orang bertopeng yang datang mendekat, saat polisi mau menangkap orang tersebut, namun orang tersebut lebih dulu melempar seperti debu ke arah mata polisi hingga merasa pedih dan sakit.
"Hei! kau siapa!" teriak Aldebaran yang tidak jadi masuk ke dalam mobil.
Aldebaran langsung mendekat, dan menarik pelatuk pistol.
Dor!
Ahh!
Tembakan Aldebaran meleset ke arah lain karena bersamaan itu, orang tersebut melempar debu lagi ke mata Aldebaran.
Orang tersebut membawa lari Pak Muklis, Asisten Dika yang masih aman mendekati para polisi dan Aldebaran untuk membantu menghilangkan rasa sakit di matanya.
Setelah beberapa saat ahirnya rasa sakit di matanya menghilang.
"Kita harus segera mengejar, mereka pasti belum jauh dari sini." Aldebaran menatap semua orang.
Kini semua berlari ke arah jalan yang tadi Pak Muklis dan orang bertopeng lewati.
Di belakang hotel.
Pak Muklis dan orang bertopeng berhenti sejenak, karena mau memanjat tembok pembatas area hotel.
"Kamu siapa?" Pak Muklis ingin tahu siapa orang yang datang tiba-tiba menolongnya.
Orang tersebut membuka topengnya.
"Gery!" ucap Pak Muklis terkejut.
Gery mengangguk. "Kita harus segera memanjat tembok ini, kita tidak memiliki waktu banyak."
Pak Muklis paham, dan dengan bantuan telapak tangan Gery, Pak Muklis menginjak telapak tangan Gery, Gery mendorongnya pelan-pelan ke atas, kini Pak Muklis langsung menjatuhkan tubuhnya ke bawah di area sebelah tembok.
Pak Muklis melihat bahwa saat ini berada di tempat seperti hutan, Gery sedang menumpuk beberapa batu untuk dirinya bisa memanjat, dan setelah merasa cukup, Gery langsung memulai untuk memanjat dan dengan gerakan cepat kini sudah berada di atas.
"Hei! kalian ..." teriak polisi yang melihat Gery masih berjongkok di atas tembok.
Para polisi dan Aldebaran serta Asisten Dika, mereka semua langsung segera berlari mendekat.
Gery segera meloncat turun, dan mengajak Pak Muklis untuk segera berlari dan sembunyi.
Sementara para polisi, Aldebaran, Asisten Dika. Bergantian untuk memanjat.
Setelah semua berhasil memanjat, kini bersama-sama lagi mencari keberadaan Pak Muklis.
Salah satu polisi membawa anjing pelacak, mereka semua terus berjalan mencari Pak Muklis di tengah gelapnya malam, bahkan saat ini berada di hutan, tidak luas sih tapi di malam hari juga rumayan menyulitkan dalam pencarian.
"Gery, bagaimana ini!" Pak Muklis panik.
"Tenang, Om." Gery melihat-lihat situasi.
Sialan! umpatnya saat melihat ada senter, yang pasti rombongan polisi yang terus mengejar.
Guk!
Guk!
"Gery, itu suara anjing pelacak bagaimana ini!" Pak Muklis semakin panik.
Gery tanpa menjawab, langsung mengajak Pak Muklis untuk berpindah tepat.
Sementara Aldebaran dan yang lainnya terus melangkah mencari, sesuai anjing pelacak mengarahkan.
Gery merasa situasi semakin dekat, sementara bingung mau mencari jalan ke luar kemana lagi.
Anjing pelacak terus menggonggong. Dan suaranya semakin dekat, Gery dan Pak Muklis semakin merasa panik.
Gery mengajak lagi untuk berpindah tepat, kini lebih jauh dari tempat ini, mereka berjalan cepat.
Aldebaran seperti melihat bayang-bayang mereka berdua.
"Itu dia!" teriknya yang langsung berlari mengejar, di ikuti para polisi.
Gery mengajak Pak Muklis untuk lebih berlari cepat, namun sepertinya Pak Muklis sudah kelelahan, apa lagi kondisinya yang sudah tua.
"Gery, Om lelah, Gery." Langkahnya sudah mulai tidak cepat lagi.
"Om, ayo Om semangat! jangan sampai kita tertangkap." Gery terus mengajak Pak Muklis untuk terus berlari.
Karena langkah Pak Muklis sudah tidak bisa cepat lagi, kini membuat begitu dekat dengan Aldebaran dan para polisi yang mengejar.
"Berhenti!" teriak polisi seraya mengarahkan pestol.
Deg!
Gery dan Pak Muklis sudah ketakutan, namun tetap terus berusaha kabur.
Gery menoleh ke belakang dan terkejut saat polisi sudah menarik pelatuk pistolnya, Gery langsung memeluk punggung Pak Muklis.
Dor!
Aldebaran dan para polisi terkejut, saat tembakan beda sasaran.
Pak Muklis diam membeku, merasakan tubuhnya di peluk Gery dari belakang. Perlahan Pak Muklis berbalik badan.
Deg!
"Gery!" pekik Pak Muklis seraya menangkap tubuh Gery yang tiba-tiba lemas dan meluruh ke bawah. Pak Muklis yang tanpa sengaja memegang punggung Gery, terkejut saat melihat darah di telapak tangannya.
"Kabur, Om." Gery berkata sebelum ahirnya ia memejamkan matanya.
Pak Muklis panik, menggelengkan kepalanya berkali-kali.
Arghhhh!
Pak Muklis frustasi. Mengusap wajahnya dengan kasar, dan menangis.
"Tangkap Pak." Salah satu polisi memerintah temannya untuk memborgol tangan Pak Muklis.
Pak Muklis di bawa ke mobil tahanan, Gery dibawa masuk ke mobil ambulan. Setelah beberapa saat mereka di bawa ke tempat keramaian.
Kasus penangkapan Pak Muklis seketika masuk berita TV, Mulan yang saat ini tengah menonton televisi langsung terkejut, dan seketika menangis. Saat melihat berita Ayahnya tertangkap.