HEENA

HEENA
BAB 94. Jalan-jalan ke Mall.



Heena terkejut tapi juga melihat Aldebaran yang sama terkejutnya seperti dirinya.


Heena melihat paper bag yang Aldebaran bawa sampai jatuh ke lantai.


"Al, maaf bila aku sudah mengagetkan kamu." Heena merasa bersalah sudah membuat Aldebaran terkejut.


Aldebaran tidak menjawab, ia langsung mengambil paper bag yang tergeletak di lantai. Kemudian ia berjalan mendekati Heena.


Hening, saat keduanya kini saling menatap, tubuh Aldebaran yang lebih tinggi dari Heena, membuat Heena harus mendongakkan kepalanya untuk melihat wajah Aldebaran.


Aldebaran masih diam, melirik sekilas paper bag yang ia bawa, menatap Heena lagi, hatinya ragu untuk memberikan paper bag itu, khawatir bila Heena tidak suka, padahal Aldebaran belum mencoba tapi pikirannya sudah minder duluan.


Heena yang menangkap wajah bingung Aldebaran, mengerutkan keningnya seraya berpikir apa Aldebaran sakit karena tidak biasanya pria itu berdiri di dekatnya setiap pulang kerja.


Lama Aldebaran berdiri di depan Heena, dan ahirnya ia memilih tidak jadi memberikan paper bag itu, dan pergi ke kamar mandi.


Kenapa sih dia, aku merasa ada yang aneh, bergumam-gumam seraya naik ke atas ranjang, matanya masih terus melihat pintu kamar mandi.


Heena menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, malam ini tingkah Aldebaran benar-benar aneh menurutnya, saat sedang mengingat tingkah aneh Aldebaran, tiba-tiba mata Heena melihat paper bag di atas meja rias, yang tadi ia tahu betul bila itu yang dibawa oleh Aldebaran.


"Apa ya itu?" gumam pelan Heena seraya meletakkan tangan di dagu.


Berpikir, berpikir, ah! Heena tidak mau kepo, lagian itu bukan miliknya, Heena pikir tidak berhak mengintip isinya apa? bila ketahuan Aldebaran bisa malu dirinya karena sudah ketahuan ngintip-ngintip barang orang.


Sementara yang ada di dalam kamar mandi, Aldebaran membasahi tubuhnya di bawah air mengalir dari shower, dua tangannya mengusap rambutnya ke belakang, air terus membasahi tubuh sixpack nya, busa-busa sabun di tubuhnya bergantian menghilang tersiram air, setelah selesai Aldebaran mematikan air shower, kemudian meraih handuk kimono dan memakainya dengan gaya elegan.


Saat ke luar dari dalam kamar mandi, Aldebaran melihat Heena sudah tidur, kemudian melihat paper bag yang tadi ia bawa.


Aldebaran memilih menyimpannya lagi ke dalam almari bajunya, karena Heena sudah tidur.


Berpakaian kemeja malam, Aldebaran ikut menyusul ke dalam mimpi.


Bila penghuni kamar Aldebaran sudah terlelap tidur, berbeda dengan penghuni kamar sebelah.


Rengky saat ini sedang kesal bercampur marah, karena pacarnya yang belum lama ini jadian telah selingkuh.


"Dasar sialan wanita sialan!" teriak Rengky seraya melempar bantal guling ke udara.


Untung saja kamarnya kedap suara, bila tidak semua penghuni rumah pasti sudah terganggu teriakan keras Rengky.


Teriak-teriak sampai lebay, Rengky nangis cuma ditinggal selingkuh, menjadi anak orang kaya hidup bergelimang harta tapi masalah percintaan dirinya selalu disakiti.


Rengky mengambil kertas ia menggambar wajah kekasihnya yang sudah selingkuh itu, lalu ia ajak bicara.


"Lihat saja aku akan membuat kamu lebih menyesal, kamu selingkuh dengan pria yang lebih kaya, kamu tidak tahu siapa aku!" Rengky berteriak pada gambar itu.


Arghhhh!


Kertas tersebut Rengky remas menjadi tidak berbentuk, biasanya ia selalu menunjukan nama Ayahnya tapi kisah cintanya juga tidak mulus, dan kemarin ia mengatakan orang biasa saja, tapi juga tetap disakiti.


Rengky menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang secara dramatis, membuat ranjang bergerak. Setelah lelah dengan pikirannya ahirnya ia tertidur.


Aldebaran sudah berangkat kerja, Paman Syafiq juga sudah berangkat, hanya Rengky yang masih di rumah, duduk di ruang keluarga dengan wajah murung, melihat putranya tidak seperti biasanya, malah seperti habis putus cinta Bibi Sekar mendekati, sampai Ibunya sendiri sudah paham dengan ekspresi wajah Rengky bila habis putus cinta.


"Pagi-pagi sudah melamun, putus cinta lagi? Mama punya kenalan cantik dia, kamu mau?"


Rengky mendengus mendengar ucapan Mamanya, sungguh saat ini ia tidak lagi ingin membicarakan hal seperti itu, sudah ngambek dengan yang namanya cinta.


"Ma, Rengky lagi main game, Mama pergi sana! lagian bicarain apa sih." Rengky bicara ketus.


Bibi Sekar menghela nafas, kemudian pergi, setelah Mamanya pergi, Rengky menatap punggung Mamanya dengan perasaan bersalah, karena tadi sudah bicara ketus.


Bibi Sekar yang saat ini sudah berada di dalam kamar Heena, mendekati wanita cantik itu yang saat ini sedang duduk di kursi meja riasnya.


"Jalan-jalan sana bersama Aldebaran, dari pada di rumah."


"Masih pagi, Bibi?" sarkas cepat Heena, Bibi Sekar terkekeh.


"Bersiaplah untuk nanti siang, Aldebaran akan menjemputmu." Bibi Sekar tersenyum kemudian pergi dari kamar Heena.


Beberapa saat Heena terdiam, saat mendengar ucapan Bibi Sekar, dan setelah sadar Bibi Sekar sudah ke luar kamarnya.


"Apa ya di maksud Bibi Sekar." Heena bergumam seraya melihat wajahnya dari pantulan cermin.


Dan setelah siang hari tiba, benar yang dikata Bibi Sekar, Aldebaran yang biasa belum pulang kerja kini ia sudah pulang.


Heena bingung dengan kepulangan Aldebaran, dan yang lebih bingung memintanya untuk bersiap katanya mau diajak ke luar.


Heena yang tadi hanya menggunakan baju rumahan, kini berganti pakaian yang lebih bagus lah, bila berjalan di samping Aldebaran seorang pengusaha muda, itu tidak malu-maluin.


Sebelum pergi Aldebaran dan Heena berpamitan dengan Bibi Sekar, setelah itu mobilnya melaju menuju pusat perbelanjaan.


Sebenarnya Bibi Sekar meminta Aldebaran untuk mengajak Heena jalan-jalan, tapi pikirannya buntu mau mengajak jalan-jalan kemana, dan saat ini yang ia pikirkan bila wanita suka belanja, jadi Aldebaran mau mengajak Heena ke Mall.


Dan setelah beberapa saat mobil sampai di pusat perbelanjaan terbesar di Jakarta.


Heena dan Aldebaran berjalan bersama masuk ke dalam Mall, saat beberapa pasang mata menatap ke arah mereka berdua, Aldebaran yang mengetahui hal itu, ia kemudian mengandeng tangan Heena, mendekatkan tubuhnya hingga terlihat seperti berjalan sambil memeluk.


Aldebaran hanya ingin menunjukan bila dirinya sudah ada yang miliki, Heena yang tidak tahu maksud Aldebaran, malah jadi malu, di gandeng mesra oleh Aldebaran di tempat yang ramai ini.


Saat langkah mereka berdua berhenti didepan toko besar-besar, ada baju, jam tangan, juga ada perhiasan.


Heena bingung saat di suruh milih, dan ahirnya Aldebaran mengajak Heena untuk memasuki toko satu per satu.


Di toko baju, Heena membeli beberapa pakaian untuknya juga untuk Aldebaran, di toko jam tangan, Heena juga membeli jam tangan kapel, untuknya juga Aldebaran, saat di toko perhiasan, Heena dibuat tercengang, karena tiba-tiba melihat Aldebaran memanggil penjaga tokonya, setelah mereka bicara berdua, wanita penjaga toko masuk ke dalam lalu ke luar lagi menyerahkan kotak perhiasan ke tangan Aldebaran.


Aldebaran memberikannya ke Heena untuk membuka, mata Heena membola saat melihat kalung yang ada namanya Heena.


Heena merasa ini berlebihan, menatap Aldebaran, tapi yang ditatap tidak peduli, Aldebaran mengambil kalung itu, lalu ia memutar tubu Heena, rambut panjang Heena, Aldebaran sibak ke samping, kini Aldebaran bisa melihat leher dan bahu putih Heena, Aldebaran memasangkan kalung itu di leher Heena.


"Cantik."