HEENA

HEENA
BAB 111. Anak broken home.



Pagi tiba, Yusuf sudah lengkap dengan pakaian sekolahnya, yang dibantu oleh Ane.


Ane mengajak Yusuf untuk turun ke lantai satu, tapi Yusuf tidak mau ia beralasan ingin menemui Mamanya, dan meminta Ane untuk turun ke lantai satu lebih dulu.


Ane berpikir sejenak, setelah melihat bahwa kamar Nyonya Heena berada dalam satu lantai, Ane tidak perlu khawatir meninggalkan Tuan Mudanya sendiri, ahirnya Ane turun ke lantai satu sendiri.


Yusuf kini semangat berjalan ke arah kamar Mamanya lengkap dengan senyum misterinya.


Heena yang berada di dalam kamar, sedang menyiapkan pakaian kerja untuk Aldebaran, langsung menghentikan kegiatannya saat mendengar pintu kamar di ketuk dari luar, lengkap dengan suara Yusuf yang memanggil-manggil namanya.


Tok tok.


"Mama ... Mama."


Heena membuka pintu, kini terlihat Yusuf yang tampan, rambutnya di sisir rapih, menggunakan seragam sekolah.


Keduanya saling menatap dan tersenyum, Heena mengajak Yusuf masuk ke dalam, karena masih ada yang mau Heena siapkan.


Yusuf melihat Mamanya sedang menyusun pakaian kerja Om Al, lengkap dari dasi celana kemeja dan jasnya.


Heena sudah selesai dan ingin turun ke bawah untuk menyiapkan sarapan, Heena menolah ke arah Yusuf. "Ayo turun ke bawah." Heena meraih tangan mungil Yusuf untuk ia genggam.


Tapi Yusuf menolak, "Tidak Ma, Yusuf mau berjalan sendiri, Mama jalan lebih dulu."


Tanpa Heena curiga ahirnya berjalan ke luar lebih dulu, dan saat Mamanya jalan lebih dulu, Yusuf dengan cepat membuat kemeja kerja Om Al nya menjadi kusut, sampai tidak layak untuk di pakai kerja.


Puas dengan yang ia perbuat, Yusuf tersenyum kemudian segera berlari ke luar seraya membatin, aku yakin Om Al pasti marah kali ini.


Yusuf segera menyusul langkah Mamanya, namun ternyata Mamanya sudah sampai bawah, tap tap suara langkah kaki Yusuf menapaki anak tangga.


Sampai di lantai satu, Yusuf berjalan sedikit berlari, wajahnya terlihat bahagia.


"Mama?" sapanya setelah sampai di ruang makan, lalu duduk dengan tenang.


Heena tersenyum menyambut kedatangan Yusuf, lalu menawarkan lauk yang ingin Yusuf makan. "Yusuf mau ayam goreng?"


"Mau Ma." Yusuf menjawab cepat dengan antusias.


Heena lalu mengambil ayam goreng dan sedikit sayur ia letakkan di piring Yusuf, dalam hati Heena bersyukur melihat putranya yang terlihat bahagia, jelas nampak dari wajahnya.


Heena kemudian duduk di sebelah Yusuf dan menyuapi putranya, sembari dirinya juga menyuap untuk makan.


Yusuf makan dengan lahap, Heena yang menyuapi sampai kewalahan tidak menyuap untuk dirinya sendiri, setiap mau menyuap ke mulutnya, Yusuf lebih dulu membuka mulutnya A, Heena geleng kepala tapi hatinya bahagia.


Yusuf yang duduknya menghadap ke arah pintu masuk ruang makan, saat ia sedang kunyah-kunyah dengan semangat matanya menangkap Om Al berjalan masuk ke ruang makan.


Yusuf kunyah-kunyah nya perlahan menghambat seraya matanya terus melihat ke arah Om Al.


"Sarapan aku sudah jadi?' Aldebaran bertanya seraya menarik kursi lalu duduk, tadi malam Aldebaran sudah mengatakan ke Heena bila mau sarapan dengan sandwich.


Heena menoleh. "Sudah saya ambilkan dulu."


Heena berjalan menuju dapur, tidak berselang lama balik lagi membawa sandwich.


"Ini sandwich nya." Heena meletakkan tepat di depan Aldebaran, tangan Aldebaran beralih di atas meja karena ingin makan sandwich, dan seketika Heena melihat warna kemeja panjang yang digunakan Aldebaran saat ini.


Yang merasa bingung bukan hanya Heena, tapi juga Yusuf, hal yang ia nantikan bila Om Al nya akan marah karena kemeja yang Mamanya pilih kusut, tapi saat datang ke ruang makan, pria itu tidak marah, dan malah berganti kemeja.


Tapi saat ini Yusuf juga melihat wajah sedih Mamanya.


Aldebaran yang merasa Heena masih berdiri di sampingnya, kemudian bicara soal kemeja yang Heena siapkan.


"Emm aku ganti kemeja, karena tadi saat aku mau make kemeja yang kamu siapkan, ternyata ada yang kotor di bawah, mungkin bibi pelayan belum bersih nyucinya." Jelas Aldebaran panjang lebar seraya menatap wajah Heena.


Deg!


Yang terkejut atas penjelasan Aldebaran bukan Heena, wanita itu tersenyum karena sudah tahu itu alasannya Aldebaran ganti kemeja. Sementara Yusuf terkejut karena ia tidak menyangka bila Om Al nya akan berkata lain, padahal jelas kemeja tadi kusut bukan kotor.


Meski rencananya untuk membuat Om Al nya marah gagal, tapi hati kecilnya merasa senang ternyata Om Al nya tidak marah sama Mamanya.


Selesai sarapan, Aldebaran mengantar Yusuf ke sekolah, ada Heena dan juga Ane juga.


Yusuf duduk di pangkuan Heena, yang saat ini duduk di samping Aldebaran, sementara Ane duduk sendiri di belakang.


Pandangan Yusuf menatap ke arah luar jendela, otak kecilnya sedang mencari ide untuk menguji Om Al nya lagi, meski bagian hatinya sudah sedikit yakin bila Om Al nya tulus dengan Mamanya, tapi Yusuf belum puas, dan ingin memastikan lagi.


Sampai mobil kini sudah sampai di depan gerbang sekolah Yusuf, Aldebaran menoleh menatap Heena yang sudah mau bersiap untuk turun. "Nanti saya jemput jam sepuluh."


Heena mengangguk kemudian mencium punggung tangan Aldebaran, begitu juga Yusuf.


"Hati-hati," ucap Heena sebelum akhirnya ke luar dari dalam mobil lalu berjalan masuk ke dalam sekolahan.


Aldebaran tersenyum kecil kemudian melajukan mobilnya kembali.


Sampai di gedung Al-Gazali Group. Govi yang melihat mobil Tuannya sudah tiba, langsung berjalan mendekat, setelah mobil berhenti Govi membuka pintu mobil, bersamaan itu Aldebaran menyembul ke luar, langsung berjalan melewati Govi tanpa menyapa sekertarisnya lebih dulu.


Berjalan masuk ke dalam perusahaan seraya mengancingkan jasnya, Govi berjalan mengikuti langkahnya di belakang.


Di sekolahan Yusuf, anak itu mengikuti belajar hari ini dengan semangat, setelah mendapatkan ide yang akan digunakan untuk menguji Om Al nya lagi.


Apa lagi nanti saat pulang sekolah Om Al nya yang akan menjemput, ibu guru yang sudah memahami sikap Yusuf yang biasanya bila belajar sedikit susah, kini terkejut saat melihat anak itu begitu semangat.


Bahkan sudah selesai menulis di saat yang lain belum selesai.


"Ini Bu." Yusuf menyerahkan buku yang ada tulisannya barusan.


Ibu guru menerima buku itu, seraya berpikir bila Yusuf ada kemauan anak itu sebenarnya bisa tapi mengapa selama ini ia bersikap nakal, yang kadang bilang malas belajar.


kebingungan ibu guru berubah sedih saat tahu bahwa Yusuf adalah anak broken home.


Malang sekali kamu, Nak. Batin ibu guru seraya tersenyum ke arah Yusuf, lalu membawa buku Yusuf ke mejanya.


Di meja sana ibu guru mengoreksi hasil tulisan Yusuf yang terlihat rapih, untuk anak seusia dia ini sudah terbilang sangat bagus, lalu pengerjaan soal matematika juga benar semua, sangat sayang pikirnya.


Cukup lama ibu guru memerhatikan Yusuf yang saat ini duduk dengan tenang, biasanya anak itu suka ribut dan mengganggu yang lain, setelah lima belas menit teman-temannya sekelas baru mengumpul buku mereka masing-masing.


Lonceng berbunyi bertanda waktu istirahat telah tiba.