
"Bagaiman, Al? apakah berkasnya sudah benar." Mulan menatap Aldebaran dengan perasaan ingin tahu.
"Sudah benar, terimakasih bantuannya." Aldebaran tersenyum seraya memegang bahu Mulan.
Mendengar jawaban Aldebaran, Mulan sangat senang, Mulan tersenyum kemudian memeluk Aldebaran.
Seperti ini lah terus Mulan, sampai rencana aku terwujud, ucap Aldebaran dalam hati.
Di tempat lain.
Yusuf begitu senang setelah tahu Papanya sadar.
"Papa, Papa tidak boleh cakit lagi." Yusuf matanya melotot seolah memarahi Papanya, namun di mata Michael dan yang lainnya itu sangat terlihat lucu.
Hahaha!
Michael tertawa meski dalam keadaannya yang lemah. "Iya Sayang, Papa tidak akan sakit lagi." Tangan Michael menyentuh kepala Yusuf dan mengusapnya pelan.
"Janji Papa, Yusuf takut cekali." Yusuf mengajak untuk menautkan jari kelingking, Michael mengikuti dan terjadilah saling janji diantara keduanya.
Heena tersenyum ahirnya hari ini bisa melihat putranya tersenyum kembali, setelah kemarin melewati hari dengan bersedih terus.
"Tuan Muda, ayo mandi dulu." Ane mendekati Yusuf dan membujuknya.
"Tidak mau, tidak mau tinggalin, Papa." Yusuf berbicara dengan suara manja, dan saat ini malah memeluk Papanya.
"Sayang ... tidak boleh seperti itu, ayo turun, Papa masih sakit." Heena membantu membujuk Yusuf.
Yusuf tampak berpikir, seolah anak kecil itu sedang mencerna ucapan Mamanya. Dan benar saja, Yusuf kemudian mau turun dari ranjang pasien, langsung Ane gendong untuk dimandikan.
Saat ini tinggallah Heena dan Michael, suasana jadi canggung setelah tadi ramai karena ada Yusuf.
Heena duduk di samping ranjang. "El, gimana keadaan kamu saat ini, apa masih ada yang terasa sakit?"
Perhatian Heena dan suara lembut Heena barusan, bagaikan air yang langsung membasahi hati Michael, nyesss dan membuatnya lebih tenang.
Michael merasa Heena adalah obat untuk lukanya saat ini, Michael mengakui itu, karena setiap kali melihat Heena ia selalu merasa lebih tenang, tapi Michael malu, malu dengan perasaannya sendiri bagaimana bisa mengatakan lebih tenang bila melihat Heena, sedangkan dirinya adalah penyakit buat Heena, penyakit yang sudah membuat wanita itu menderita dan terluka.
"El, El kamu kenapa?" Heena gugup saat tiba-tiba melihat Michael menangis, Michael berusaha menggenggam tangan Heena, Heena bisa merasakan bahwa tangan yang saat ini menggenggamnya terasa gemetar.
"El ... ada apa?" Sekali lagi Heena bertanya, karena Michael pria itu tetap menangis, dan ini baru pertama kalinya Heena melihat Michael menangis.
Deg!
Satu kalimat yang berhasil Michael ucapkan, namun seketika membuat hati Heena berdenyut nyeri, maaf, maaf, kata maaf untuk apa? Heena masih berusaha mencerna kalimat yang Michael ucapkan barusan.
Michael semakin erat menggenggam tangan Heena, bahkan air matanya semakin deras membasahi pipinya, seolah mewakili rasa penyesalan yang teramat dalam di dalam sana, dadanya yang terasa sesak sampai membuatnya susah untuk berkata-kata. Hanya maaf dan maaf yang sedari tadi Michael ucapkan.
Dan melihat hal itu membuat Heena jadi tidak tega, karena memang Heena bukan wanita pendendam jadi akan memaafkan, meski Heena tidak tahu maaf untuk apa, bila untuk karena Michael pernah menyakitinya, tentu Heena sudah melupakan peristiwa itu karena saat ini Heena sedang berusaha untuk berdamai dengan masa lalu.
"El, tenanglah, kamu habis sakit dan belum sembuh." Heena mengusap punggung tangan Michael seraya menatap dalam bola mata Michael.
Heena menemukan sorot mata kerapuhan di bola mata Michael, Heena langsung memalingkan wajahnya ke arah lain, tidak sanggup melihat itu semua.
"Aku hanya minta, apa pun yang terjadi tolong tetap bertahan untuk, Yusuf."
Rasanya semakin sakit hati Michael mendengar kalimat yang diucapkan Heena, Michael ingat saat ia meminum obat karena frustasi mendapati perusahaannya yang bangkrut,. berbuat hal bodoh tanpa memikirkan putranya.
"Dia menangis, dan tidak mau makan sebelum kamu sadar." Heena bercerita juga menangis, terkadang sesakit-sakitnya yang harus ia alami jangan sampai melihat anaknya menangis karena sesuatu, karena itu lebih terasa sakit.
Genggaman tangan Michael mengendur, Heena menarik tangannya, kemudian menatap Michael kembali. "Bangkitlah, kamu pasti bisa."
"Papa ... Mama."
Heena dan Michael segera menghapus air matanya, saat mendengar suara Yusuf yang masuk ke ruangan.
"Mama, Papa, Yusuf sudah tampan." Yusuf memegang pipinya dan berlagak umut.
Semua orang di ruang itu langsung tertawa, Heena mengusap wajah Yusuf dengan gemas.
Michael harus istirahat, Heena mengajak Yusuf dan Ane untuk pergi ke luar ke taman belakang rumah sakit.
Di taman belakang rumah sakit, Yusuf bermain peta umpet dengan Ane, sementara Heena melamun, memikirkan keadaan ke depan, bila harus mengajak Yusuf, Heena belum bisa menggaji Ane, begitulah pikir Heena yang sejak semalam membuatnya terasa pusing.
Siang hari Heena dan Yusuf serta Ane kembali masuk ke rumah sakit, di dalam sana Michael sedang tidur, Ane mengajak Yusuf untuk makan siang, sementara Heena berdiri di jendela melihat Michael yang masih berbaring lemah di dalam sana.
Siapa pun tidak ada yang tahu dengan sebuah takdir yang akan terjadi pada setiap manusia, tidak semua yang terjadi pada kehidupan dibilang karma, bisa jadi sebuah teguran dan pelajaran untuk setiap yang merasakan. Dibalik masalah pasti ada hikmah yang besar, mengandung pelajaran hidup yang tidak bisa di dapat dari tempat lain, itulah ujian yang setiap orang adil mendapatkan.
Michael terbangun kemudian menoleh ke arah jendela dan tatapannya langsung bertemu dengan mata Heena.